[Dear, Abang]
Bandung, 14 Juni 2018. Di sebuah kedai kopi kita pertama kali jumpa.
“Dek, udah abang pesenin nih, di minum ya, nih hot green tea latte, biasanya cewe suka green tea kan? Abang pesenin yang hangat, adek keujanan ya pasti?”
Aku diam sejenak, dan berpikir.. ya, mungkin aku akan menyukainya, padahal aku sudah menyiapkan rencana memesan hot cappuccino.
“eh, Abang kebasahan? Adek basah sih, tapi ga banyak. Abang ko bisa lebih banyak basahnya?”
“Hehehe.. Abang tadi nunggu di sana, Abang kira adek di kedai yang sana, dan sudah terlanjur basah juga tadi ojeknya gamau stop dan ga bawa jas hujan.”
Lelaki ini…. Entah, mengapa dia terlihat begitu baik.
“Eh dek! Jangan ngelamun, ini diminum loh kopinya, eh green teanya..”
Siang itu nampaknya matahari kembali bersembunyi, aku yang kelaparan sejak pagi belum makan karena kemageran yang luar biasa, entahlah aku rasanya tak ingin kemana-mana. Sebelum sebuah telepon datang.
“Assalamu’alaykum, Bang?” (dengan seribu keanehan aku memutuskan mengangkat telpon itu)
“Wa’alaykumussalam, iya dek. Adek lagi di mana? Abang lagi di Bandung nih, di daerah Dago Atas, dekat kost Adek, kan?”
“Iya, Bang, Adek lagi di kosan sih, ada apa Bang?” (masih aku merasa aneh, orang yang sebelumnya tak pernah aku temui)
Ya, kami dulu hanya kenal lewat media social, yang bernama instagram. Aku ingat sekali dulu, waktu hendak mencari dana sponsor, aku menemukan sebuah akun yang katanya menawarkan investasi syariah, hm menarik bukan? Investasi dan syariah?
Dan ternyata, beliau adalah Abang dari teman kampusku, ya, dia teman kampusku, yang pernah memiliki tahta di hatiku, dulu sekali, tidak lama, dan sudah tidak ada cerita lagi, tak ada yang tau mengenai kami, hanya aku, dia, dua sahabat dekatku, dan seorang perantara kami. Cerita lama, aku sudah sangat terbiasa.
“Abang udah lama sebenernya mau ngajak ketemu Adek, udah Abang niatin kalau Abang lewat Dago Atas, Abang mau ketemu Adek. Yuk, Abang tunggu ya, kita sambil duduk aja, diskusi.”
“Hmm.. oke Bang, tunggu di Kedai Kopi Merah ya..”
“Oke, Abang tunggu.”
Aku masih tak percaya, telepon di siang bolong itu memecah kemageranku. Entah, aku pun menjadi tak sabar, seperti apa sih orangnya Abang itu.
Aku menghitung waktu, aku segera habiskan makan siang yang sudah telat waktu ini, lalu aku memsan ojek online, dan tiba-tiba awan bergerak dan menumpahkan isinya, hujan! Aku dan Akan ojek pun meneduh sebentar dan memakai jas hujan. Tak apalah, toh belum tentu kapan ada waktu lagi untuk bertemu Abang ini.
Sampai di Kedai Kopi Merah, sudah ada lelaki berbadan bidang, dengan polo shirt berwarna abu, tersenyum dan berdiri gagah.
Aku langsung menampilkan wajah sumringahku, dan bergumam di dalam hati, ya… dia mirip adiknya, temanku itu, tapi lebih seperti Abang-Abang, wkwkkw aku terlalu malu mengakuinya, dia keren haha. Physically, lebih gagah. Hm, aku menyebut gagah 2x.
Setelah menelan banyak kebingungan selama 30 menit terakhir ini, akhirnya aku menikmati tegukan pertamaku, hot green tea latte, entah rasanya menenangkan.
“Makasih ya Bang..” kau melemparkan senyuman.
“Iya Dek, Abang makasih juga udah mau ngeluangin ketemu, Abang mau nanya dong sama Adek.”
“Ya Bang?” aku menjawan polos.
“Sibuk apa sekarang? Ada proyek apa nih? Yang lalu pernah nyari sponsor gimana?”
“Oh, sekarang adek jadi asisten peneliti sama dosen di kampus, proyek yang lalu Alhamdulillah masih jalan tapi belum settle sih Bang, hehe mulai ada kesibukan masing-masing di tim. Kalau Abang sendiri gimana start up nya?”
“Oh, iya ga apa-apa Dek, keren lah. Gapapa pelan-pelan, Abang juga dulu mulai start up ini dari minus, buka nol lagi, haha.. Sekarang udah tahun kedua, mulai pengembangan.”
Aku menikmatinya, diskusi mengenai bisnis, ekonomi, dan entah aku ingin mengetahuinya. Lelaki ini menunjukan bahwa ekonomi tak hanya soal corporate, tentang kita beramal, tentang kita bermanfaat untuk masyarakat.
Sangat berbeda dengan
backgroundku yang membahas manusia dan kesehatannya.
“Dek, menurut Adek, Abang S2 dulu atau beli rumah ya?”
“Eh?”
Kenapa tiba-tiba lelaki ini melemparkan pertanyaan itu kepadaku? Kita baru ngobrol 40 menit loh. Ah 40 menit, cepat juga…












