Rumor has it! Orang di depanku tepat seperti apa yang orang-orang perbincangkan. Membuatku kebingungan antara menurunkan pertahanan atau tetap mengencangkan sabuk pengaman.
Semakin lama kutatap dirinya, semakin banyak saran berdentam-dentam muncul di kepala. “Don’t judge a book by its cover,” ucap temanku saat aku bersiap diri di rumah. “Bisa aja tampangnya Tom Hardy tapi kejiwaannya Ted Bundy,” sahutnya lagi. Temanku yang lain menambahkan, “Nih ya beb. If it’s too good to be true, then most likely it’s not true.” Lalu mereka kompak berujar, “ya tapi you do you sih.” Hello 911! Tolong saya butuh bantuan!
“Jadi, kamu mau pesan apa?”
Suara bariton itu seketika memutus rentetan suara berisik teman-temanku di kepala. Si Tom Hardy— oke, mari kita sebut saja dia begitu untuk sementara waktu— menatapku dengan sepasang mata teduh namun entah kenapa terasa mengintimidasi.
Dia melipat kemeja flanelnya sampai ke siku, mempertontonkan lengannya yang tampak....wow sturdy. Lengan yang seperti sengaja diciptakan untuk memeluk atau ya itu tadi, memutilasi orang di tengah hutan.
Aku berdeham. Mencoba mengembalikan kewarasan dan menyelamatkan harga diri yang nyaris amblas ke dasar neraka.
“An iced Americano, no sugar, please.” Biar kelihatan tangguh dan sulit untuk dibunuh, pikirku.
Dia tersenyum kecil. Sial, ada lesung pipit di pipi kirinya. Detik itu juga, sabuk pengamanku langsung longgar satu lubang.
“Pilihan yang menarik,” katanya sambil menutup buku menu, lalu bersandar ke kursi dengan gestur kelewat santai. “karena menurut survei tidak resmi yang saya lakukan, orang yang minum Americano tanpa gula biasanya punya dua kemungkinan: emang mandiri atau lagi menyembunyikan sesuatu. Kamu tipe yang mana?”
Tipe yang menahan diri agar tidak pingsan menggelepar di hadapan kamu! teriak batinku.
Aku memajukan tubuh, menopang dagu dengan kedua tangan, mencoba ikut bermain ritme permainannya. “Gimana kalau dua-duanya?”
Dia ikut memajukan tubuhnya, mencondongkan diri ke arahku dan mengerling, “Hmmm. Mandiri dan misterius ya,” ucapnya sok menganalisis. “I like both.”
Sial! Sial! Sial! Mulut yang begini nih yang bikin ga sehat akal.
Dia menaikkan sebelah alisnya lalu sontak tertawa mendengar respons singkatku.
Belum sempat aku menarik diri untuk kembali menyandar, tiba-tiba tatapannya turun sekilas ke arah lenganku, lalu beralih ke jemariku yang bertumpu di dagu. Sepasang matanya menyipit jenaka, seolah baru saja menemukan tombol permainan yang baru.
“Selain mandiri dan misterius...” Dia menjeda kalimatnya sengaja, membuatku menahan napas untuk kesekian kalinya. “Kamu juga seorang adrenaline junkie, ya?”
Aku mengernyit terperangah. “Hahhhh?”
“Hahaha.” Suara tawanya renyah, but wrong timing karena aku sedang tidak bisa sepenuhnya menikmati suara tawa itu. “Heboh banget ‘hahhh-nya’. Saya jadi berasa keong.” Funny, but still, wrong timing.
“Kamu tau darimana?” tanyaku cepat. Apakah ini salah satu dari sepuluh pertanda pembunuh berdarah dingin dan sudah waktunya aku menggebrak meja ini lalu angkat kaki?
Dia menyilangkan tangan di depan dada. Lengan kokoh sialan itu sepersekian detik menggoyahkan misi penyelamatan diriku.
“Dari kapalan di buku-buku jari kamu,” jawabnya.
“Ditambah lagi lengan kamu yang well toned. Saya rasa itu bukan hanya sekadar didapat dari gym. Kamu suka panjang tebing ya? Rock climbing?”
Dia memiringkan kepala, mempertimbangkan sesuatu.
Dia mengamati lagi buku-buku jariku.
“Kapalannya terlalu rapi di ujung jemari.”
Dia menyunggingkan senyuman. “Bouldering?”
Oke sekarang kemungkinannya tinggal dua, dia sesama climber atau he is a killer who has done his research.
Aku mencoba sok tenang. Kalaupun dia pembunuh, tidak mungkin aku akan dieksekusi sekarang. Tempat ini terlalu ramai. Terlalu banyak saksi.
“Well done, Sherlock. Bouldering it is.” jawabku sembari mengembangkan senyuman.
“Lengan kamu juga tampak firm,” aku menambahkan. “Suka manjat juga? Atau punya afeksi berlebihan terhadap kegiatan angkat galon?”
Dia kembali tertawa. Senyumnya sampai ke ujung mata.
Belum sempat dia menjawab, seorang pelayan menyela percakapan kami. Membawakan pesananku dan pesanannya yang entah apapun itu namanya namun tampak lebih menggiurkan. Sedangkan aku, hanya memesan segelas iced Americano seperti pegawai yang dihajar lembur sampai pagi.
Aku buru-buru menyesap minumanku. Membasahi kerongkongan yang nyaris tercekat. Sialan, Americano ini kenapa terasa lebih pahit dari biasanya sih?
Dia mengamatiku. Pandangannya tidak beralih sama sekali. Hello?! Santapan dia kan ada di atas meja. Apa jangan-jangan di matanya aku sudah seratus persen bertransformasi menjadi hewan buruan yang tinggal dibidik dan ditembak?
“Enggak makan?” aku berusaha memecah atensinya.
Dia tersenyum. “Harusnya itu yang jadi pertanyaan saya. Kamu enggak makan? Hanya pesan iced Americano.”
Aku mengangkat bahu, “no, I am good.” jawabku sok keren.
Padahal...............mama tolongggggg! Cacing di lambung sudah menjalankan protes aksi turun ke jalan menggedor-gedor dinding perut.
Dia mengambil beberapa tisu lalu melipatnya, “kalau cuma pesan kopi, saya bawa kamu ke Indomaret saja.” Lembaran-lembaran tisu terlipat itu ia letakkan di bawah gelasku. Menahan embun dingin agar tidak membasahi jemariku.
Aku tertegun. Menatap lipatan tisu lalu beralih ke makanannya yang baru saja dihidangkan pelayan. Sepiring waffle hangat dengan es krim vanila dan sirup mapel yang wanginya langsung memprovokasi asam lambungku.
Dia tidak langsung memakan makanannya. Alih-alih, dia memotong waffle itu menjadi beberapa bagian yang rapi dengan garpu dan pisau. Gerakannya tenang dan potongannya presisi. Hmm, hasil pengalaman bertahun-tahun memutilasi?
Setelah selesai memotong semuanya, dia justru memutar piringnya 180 derajat, lalu mendorongnya perlahan ke tengah meja, tepat di hadapanku.
“Saya sengaja pesan ini buat dibagi dua,” katanya santai seolah tahu isi kepala dan keadaan lambungku.
Aku terperanjat mendengar tawarannya. “Tapi aku enggak pesan makanan.”
“Iya, saya yang pesan. Dan ini untuk kamu.” Dia semakin mendekatkan piring waffle itu ke sisi mejaku. “Dimakan, ya? Saya enggak mau kamu pulang dari sini pingsan karena kelaparan, lalu saya dituduh melakukan percobaan pembunuhan.”
Uh-oh! Slip of the tongue?
Aku meraih garpu yang ia tawarkan.“Kayak yang tau banget tuh kalo aku laper,” ledekku.
“Iya nih. Soalnya beberapa kali suara perut kamu terdengar sama saya,” jawabnya santai.
Shoot! Bunuh aja gue sekarang.
“Hahahaha.” Aku berusaha keras terlihat santai. “Itu mah suara kulkas kafe kali!”
And right, ladies and gentlemen, kulkas kafe berada jauh di belakang meja kami. Saatnya mengambil sapu dan membersihkan kepingan harga diri yang pecah berantakan.
Aku buru-buru menunduk, pura-pura sibuk menusuk potongan waffle dengan garpu. Menyiapkan diri menerima ledekan tawa atau ejekan dari lelaki di hadapanku.
Tapi, sedetik...dua detik...tiga detik...
Keheningan melanda meja kami. Tidak ada tawa atau ejekan menyebalkan yang datang.
Perlahan aku mendongak dan mendapati dia sedang tersenyum menatapku.
“Iya, mungkin suara kulkas kafe,” ujarnya lembut, nada suaranya turun satu oktav, terdengar begitu teduh. “Atau mungkin juga suara AC kali, ya?”
Dia melirik sekilas ke arah belakangku.
Aku baru sadar embusan AC memang tepat mengenai belakang punggungku.
Dia kemudian membuka kemeja flanelnya tanpa melepas pandangan dariku.
AKAN ADA ADEGAN MACAM APALAGI INI?
Aku terkesiap melihatnya berdiri dan menyampirkan kemeja itu ke sandaran kursiku.
“Kalau berubah pikiran,” katanya. “AC-nya tepat ada di belakang kamu. Kemeja saya, kamu aja yang pakai,” ia menambahkan dengan santai.
Dia kembali duduk, menyisakan kaus hitam polos yang mencetak jelas lekuk bahu dan lengannya yang....oke fokus!
Wangi maskulin bercampur detergen dari kemeja flanelnya langsung membungkus tubuhku—yeah, langsung aku pakai demi meminimalisir kemungkinan masuk angin. Hangat. Menghalau embusan angin AC dan membungkan total sisa-sisa suara bising temanku di kepala.
Panggilan 911 resmi mati total.
Detik itu juga, pertahananku runtuh. Sabuk pengamanku tidak lagi longgar, tapi lepas sepenuhnya.
Aku mengunyah potongan waffle pertamaku. Hangat dan manis. Persis seperti perilaku laki-laki di depanku ini.
Seandainya kami bisa bertukar isi hati dan pikiran. Dia tuh sadar ga sih kalo dia tuh gemas sekali?
Setelah suapan pertama yang menyelamatkan lambungku itu, atmosfer di meja kami berubah total. Tidak ada lagi aksi saling selidik. Atau dugaan-dugaan liar yang aku reka dan cipta sendiri.
Yang ada hanyalah obrolan yang mengalir begitu saja. Tentang jalur pemanjatan yang pernah aku coba, buku yang sedang dia baca, kesamaan adiksi akan series F.R.I.E.N.D.S, sampai hal remeh-temeh dan candaanku yang anehnya bisa membuat dia tertawa lepas terpingkal-pingkal.
Hingga tanpa sadar, piring waffle telah tandas dan kafe mulai meredupkan lampu— tanda bahwa mereka bersiap-siap untuk tutup.
Aku menatap gelas Americano-ku yang masih tersisa setengah. Ada rasa tidak rela menyergap dadaku. Pertemuan ini tidak cukup untukku memproses semua momen yang ada.
Dia mulai merapikan barang-barangnya, lalu menatapku sambil mengancingkan kembali pergelangan kemeja flanelnya.“Besok besok, kamu harus pesan menu yang lebih berfungsi mengenyangkan perut.”
Aku menatapnya bingung, sampai akhirnya melihat tatapannya yang tertuju pada gelas Americano-ku.
Aku ikut menyampirkan tas di bahu, lalu memajukan tubuh sedikit, menatapnya lurus-lurus dengan senyuman menantang. “Maksudnya apa tuh ‘besok besok’?”
Dia membalas senyumanku dengan senyuman khasnya. “Second date.” jawabnya singkat. “Saya pengen ketemu kamu lagi.”
Dengkulku nyaris copot dari engselnya ketika mendengar jawaban blak-blakkan darinya. Apa yang harus kulakukan di momen segenting ini? Aku tidak ingin membiarkan gengsi atau aksi jual mahal mengambil alih.
Aku menganggukkan kepala. “Boleh deh.”
“Second date nanti, aku pesen nasi tumpeng aja kali ya?”
Dia tertawa sembari menawarkan tangannya untuk digenggam saat meninggalkan kafe.
Rumor has it. Perempuan di hadapanku memang seperti apa yang orang-orang perbincangkan. Mereka benar.Tapi mereka masih kurang satu hal.
Mereka belum pernah melihat cara dia berusaha terlihat kuat saat menahan lapar. Cara dia menertawakan dirinya sendiri. Cara dia mengira Americano tanpa gula bisa menyembunyikan perut yang sejak tadi bernyanyi. Cara dia membicarakan hal sederhana tapi bisa disampaikan dengan begitu jenakanya.
Aku punya banyak cara untuk menggambarkan dirinya.
Kalau saja bisa kami bertukar jiwa.
Agar dia melihat dirinya sekali saja...
Cerita ini terinspirasi dari lagu @palawija yang berjudul Tukar Jiwa☀️