Melanggar
Aku pernah berjanji pada diriku untuk mengobrol dengan inner child-ku, kala itu pergi ke mbah kebetulan saat itu di rumah mbah sedang kumpul keluarga besar. Saat itu aku bilang, "nanti ya inner child, aku akan mengobrol denganmu selepas pulang dari mbah." Sepulang dari simbah, saya tidak mengajaknya mengobrol, bukan lupa, bukan tidak mood, tapi saat itu aku sudah merasa baik-baik saja. Aku merasa seperti sudah terselesaikan dengan baik. Nyatanya masih belum selesai.
Ah, barangkali memang benar, inner child-ku harus sering kuajak mengobrol, agar luka bisa tersimpan dengan rapi, tak harus luka itu menghilang, cukup berada di tempat yang tepat. Agar kelak ketika ada orang yang merasakan rasa sakit yang sama, aku bisa bercerita tanpa harus menertawakan, mendengar tanpa harus merasa benar, memahami tanpa harus menghakimi.
Barangkali, aku tidak cukup berani menghadapi inner child-ku. Ya, aku terlalu takut menemuinya, memeluknya, menghapus air matanya, aku terlalu takut untuk itu. Yang aku rasa, ternyata semua itu belum selesai, bahkan hingga di penghujung tahun masih belum selesai. Aku ingat harapanku di tahun ini tidak muluk-muluk, hanya ingin bisa menerima diri ini, hanya ingin bisa lebih mencintai diri ini, dan tidak membandingkan pencapaian-pencapaian diri dengan orang lain sehingga tidak menumbuhkan rasa minder, dan mungkin harus sering mengajak inner child-ku untuk mengobrol secara rutin walau tidak setiap hari. Agar luka itu "selesai" tanpa harus diusir paksa, biarkan ia hinggap di tempat nyaman.
3 Januari 2019







