Hai laman biru tua, tempat berteduh segala rasa. Menjadi tempatku untuk singgah. Apakah kamu masih seperti dulu?
Peter Solarz
tumblr dot com
🪼

祝日 / Permanent Vacation
noise dept.

#extradirty
NASA
KIROKAZE
TVSTRANGERTHINGS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Product Placement
Not today Justin
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣
One Nice Bug Per Day
i don't do bad sauce passes

titsay
d e v o n
trying on a metaphor

JVL
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Egypt

seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
@dentingaksara
Hai laman biru tua, tempat berteduh segala rasa. Menjadi tempatku untuk singgah. Apakah kamu masih seperti dulu?
Selamat Jalan Eyang Sapardi Djoko Damono
Kita tidak lagi berhak mengucapkan apa pun sejak cuaca yang sangat kalut ini nyata-nyata bermuara di mulut. Kata yang tumbuh dalam diri kita yang subur dalam denyut jantung dan serabut urat darah di otak kita telah disihir menjadi warna-warni angin dan semerbak api dan suara lebam yang memadamkan hujan. Duka ganjil yang tumbuh dari bayang-bayang ribut-ribut ini tak juga bisa kita habiskan. Lidah kita mengecap tiga butir pasir dan setetes air. (Sejak Kini dalam Babad Batu - Sapardi Djoko Damono)
Benar-benar, puisi Eyang Sapardi begitu mendamaikan. Dari mulai Hujan Bulan Juni yang begitu sederhana dan sejuk, Hatiku Selembar Daun yang bisa membuatku betah menyelami diksinya, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan beliau yang membuatku seperti menyelami berbagai macam keindahan aksara. Tak heran karya beliau kaya akan metafora, diksi, dan makna. Menurutku itulah keistimewaan Eyang Sapardi. Hingga tak salah jika aku dibuat jatuh cinta pada tiap diksi yang beliau ciptakan dan selalu kembali mencintai aksara.
Tiba suatu hari, aku ingin saja berhenti menulis atau memang sengaja tidak menulis karena rasanya telah buntu dengan suatu keadaan. Tapi ketika hendak berhenti, tiba-tiba mendengar musikalisasi puisi karya Eyang Sapardi yang dibawakan oleh Ari Reda. Aku benar-benar tersihir, dan sangat menikmati tiap kata yang diciptakan Eyang Sapardi dan irama yang dibawakan oleh Ari Reda. Dari situ ada rasa untuk kembali menulis, walaupun hanya sekedar diari atau kata sepanjang dua baris. Bagiku itu lebih baik, lebih membuat tenang. Ya, berkali-kali pernah merasa ingin saja berhenti menulis karena merasa buntu, tapi berkali-kali juga perasaan bersalah pada diri sendiri pun mulai mencuat. Akhirnya tidak bisa kupisahkan antara aku, pena, dan kertas. Ketika sudah mulai sangat buntu, sedikit demi sedikit syair karya Eyang Sapardi menentramkan. Dan di kondisi seperti itu bagiku sudah cukup.
Sampai akhirnya Eyang Sapardi telah berpulang, ada yang membuatku sadar. Beliau diusianya yang sudah senja masih saja menulis. Setiap hidupnya selalu dipenuhi oleh kata-kata. Dan begitu lenturnya beliau menari dengan kata-kata. Sehingga buku yang terlahir darinya memiliki makna bagi tiap orang. Kata yang beliau bunyikan, begitu merdu sampai pada pendengaran. Ya, sosoknya tidak akan pernah terganti. Tidak ada yang bisa menggantikan Hujan Bulan Juni, tidak ada yang bisa menggantikan Hati Selembar Daun, tidak ada yang bisa menggantikan Aku Ingin, dan tidak ada yang mampu menggantikan sajak-sajak beliau. Tapi, bolehkah untuk terus melanjutkan perjalanan membunyikan sebuah kata?Puisi telah memiliki ruang bagi para penikmatnya dan aku telah jatuh cinta pada puisi, walaupun dengan keterbatasan. Mungkin orang di luar sana juga sama.
Terima kasih Eyang, telah menorehkan setiap bunyi yang kau tangkap menjadi bait puisi. Kami berduka, tapi kami senang karyamu tetap hidup dan abadi. Selamat jalan Eyang Sapardi, hujan Bulan Juli ini cukup deras, namun aku ingin berteduh pada selembar daun yang besar. Rasanya waktu memang fana, hingga tak mengizinkanku untuk bertemu dengan engkau. Tapi, kita abadi kan? Selama aksara terus berbunyi dan menari.
Jika malam memang bisa membuat seseorang tercekik dalam sesak, maka malam ini adalah malam yang pantas untuk mencekikku.
Karena pada akhirnya semua diantara kita sedang berada dalam perasaan yang tidak nyaman, hanya posisi yang berbeda.
Jujur, aku muak dengan pembahasan kriteria laki-laki shalih ataupun perempuan shalihah, tanpa melihat sisi lain dari setiap personal. You know, setiap dari kita ini hina, kita rendah, kita tak punya daya apabila bukan atas kehendakNya.
Namun, bukankah setiap dari kita berhak diberi ruang untuk bertumbuh? Bukankah setiap dari kita pantas untuk diberi kesempatan? Bukankah setiap dari kita berhak untuk melakukan usaha terbaiknya, meski tak selalu dinilai baik di mata manusia? Seperti yang kita tahu, Allah Maha Mengetahui.
Tidak ada yang mutlak shalih atau shalihah kecuali yang sudah dijamin surga, sebab hati itu yataqallab (terus berbolak-balik). Setiap orang punya kekurangan masing-masing, dan setiap orang punya kesempatan untuk terus berbenah selama nafas belum sampai ujung tenggorokan.
Pena Imaji
Karena cukup itu letaknya dihati.
Ibuk
History Insight; Menghadapi Bencana Tanpa Ilmu, Berujung Bertambahnya Petaka
@edgarhamas, Founder Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita. Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.
Dr Ali Muhammad Audah menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya. Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Apa itu?
Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.
Namun apa yang terjadi?
Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." (hal. 329)
Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, "pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi)
Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing."
Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." (hal. 329)
Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan "umumnya begitu", dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.
"Jama'ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit."
Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki.
Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada korona. Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.
Dr Majdi Al Hilali menulis dalam Kitabnya "Innahu al Qur'an Sirru Nahdhatina", bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah. Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.
Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi.
Sebab nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,
"kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain."
Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
Jangan Takut Kehilangan Teman
Di usia selepas kuliah, selepas menikah, permainan kita tidak akan lagi di area yang sama. Jika kita lebih dulu masuk ke fase itu, mungkin kita akan merasa hidup di dunia yang berbeda.
Kalau teman kita masuk ke fase itu lebih dulu, kita mungkin akan merasa teman-teman itu tak lagi menjadikan kita sebagai prioritasnya, sebab prioritas mereka telah berganti; pekerjaan dan keluarga. Semakin dewasa, lingkaran pertemanan dekat kita akan semakin mengecil. Mengerucut. Kita akan mulai bisa memilah mana yang bisa kita jaga seterusnya dan mana yang perlu dilepas. Dan tak perlu takut melepaskannya karena kita akan memperoleh pengganti-penggantinya.
Setiap teman itu ada fasenya, setiap fase ada temannya. Setiap kali terjadi perubahan besar pada fase hidup, pasti akan terjadi hal-hal yang membuat kita kebingungan, khawatir, dan semua hal yang disimpulkan sebagai sebuah krisis. Semakin ke sini, semakin banyak fase kita lalui. Kita akan semakin paham bahwa teman dekat dan berkualitas itu bukan tentang seberapa banyak, melainkan seberapa dalam. Bahkan bisa jadi, orang-orang baru yang akan kita temui di fase yang baru kita masuki justru menjadi teman yang jauh lebih dalam dibanding dengan teman-teman kita di fase sebelumnya.
Jangan menggenggam terlalu erat apa-apa yang seharusnya kita lepas, karena teman yang sejati itu akan ada di setiap fase, tidak peduli skala prioritas silih berganti, nanti kita akan mendapati bahwa mereka selalu ada meski tak pernah jumpa, tak pernah berbagi kabar dan cerita. Tapi, mereka selalu bisa memahami perubahan-perubahan fase yang kita hadapi. ©kurniawangunadi
Manusia tidak selalu kuat. Akan ada saatnya ia mengalami titik lemahnya. Sedih, kecewa, sakit, patah hati, terpuruk, dikhianati. Untuk menerima itu semua memang sulit.
Kita perlu memiliki kesadaran, bahwa bagian dari hidup bukan hanya perihal tertawa. Tetapi juga meredakan tangis dan menghapus air mata.
—ibnufir
Beda Jalan
Ada yang menikah di usia 20an, alhamdulillah. Energi masih banyak. Idealisme masih membara. Perjuangan membangun keluarga insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang menikah di usia 30an, 40an, atau lebih, alhamdulillah. Secara finansial sudah lebih mapan. Lebih matang juga dari berbagai segi. Kesabaran menjaga dan menyiapkan diri insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja sesuai impian dan passion, alhamdulillah. Kerja jadi ngga kerasa kerja. Dedikasi insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja di luar passion, alhamdulillah. Ada manfaat untuk sesama yang kadang lebih utama daripada impian pribadi. Kelapangan hati insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang memulai bisnis dan berhasil di usia 25, alhamdulillah. Masa mudanya produktif dan bermanfaat. Kerja keras insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang mencoba berbisnis berkali-kali dan baru berhasil di usia 40, alhamdulillah. Pengalaman gagal bisa jadi jalan buat rezeki tak ternilai bernama kebijaksanaan. Ketekunan insyaallah menjadi amal salehnya.
Hidup tidak selalu berjalan sama untuk semua orang. Ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita. Tetapi, itu ngga perlu jadi masalah. Kita hanya berbeda dalam memilih jalan amal saleh. Tujuan kita tetap sama, kan?
Kita mungkin bertolak dari titik yang berbeda. Rute perjalanan kita barangkali ngga sama. Waktu keberangkatan dan kedatangan kita pun mungkin beda. Tetapi, jika kita mengarah ke tujuan yang sama, perbedaan itu tidak menjadi masalah.
Rute mana pun yang tengah kita jalani, duluankah atau belakangan kita memulai, cepat maupun lambat kita berjalan, selalu ada kesempatan untuk menghimpun amal saleh.
Toh, yang ‘menang’ bukan yang paling duluan sampai. Tapi yang paling banyak bawa muatan amal saleh selama perjalanannya. Biasanya kalau pengen dapet muatan banyak, perjalanannya pun bakal lebih berat. Semoga kita kuat.
Hidupku terlalu sempit jika harus berpusat padamu.
12 Januari 2020
Hidup mempunyai cerita sendiri. Sementara takdir, mempunyai gerak sendiri. Gerak yang akan menambahkan cerita, kelak akan menjadi seperti apa?
2 Januari 2020
Sebuah penguat, dan juga nasihat untuk diri sendiri. Juga dalam rangka belajar untuk mengelola diri dan hati. (•••)
Seburuk-buruknya permulaan, kita masih bisa memilih akan mengakhirinya seperti apa.
25 November 2019
Masih ingat dalam benakku kali pertama sampai di tempat ini. Entah, jika memang sebuah hikmah disimpan di awal sebuah cerita, bagaimana perjalanan sabar dan ikhlas akan bermula? Perjalanan di tempat ini membuat aku mengerti tentang arti belajar, membuat peka akan sebuah luka dan bagaimana rasanya mengabaikan diri sendiri. Sesekali kita perlu menjauh dari khalayak, berhenti mengukur makna berhasil dari perspektif orang lain, berhenti membuat standar bahagia dari apa yang kita lihat dari orang lain.
Di tempat ini, aku kembali belajar, orang-orang baik itu masih ada, sekalipun ia begitu menyebalkan, sekalipun yang didapat adalah sebuah tekanan dan penghakiman, tapi aku merasa orang-orang baik itu masih ada, entah hadirnya seperti apa, entah menyapanya bagaimana. Dari mereka aku mengerti untuk berhenti meminta orang lain memahami kita, tapi seberapa besar kita bisa memahami orang lain. Walaupun itu bukanlah hal yang mudah dilakukan, tapi kita bisa belajar bukan?
Dari tempat ini, aku mengerti akan sebuah singgah dan menetap. Tak selamanya orang yang dulunya akrab dengan kita, ke sana kemari dengan kita, akan menjadi orang pertama yang membela kita atau bahkan mengusap luka kita. Nyatanya kadang bentuk penghakiman dan tekanan bisa saja terlontar entah sengaja atau sebagai candaan. Lagi-lagi aku kembali pada prinsip awal, berhenti untuk meminta orang lain memahami kita. Dan bila tidak nyaman terhadap suatu lingkungan, bisa dengan menghindar sejenak.
Dari tempat ini aku mengerti, bahwa aku memang cukup selektif berbagi kisah terhadap orang lain. Ibu pernah bilang padaku, bahwa jumlah pertemananku begitu sedikit tapi cukup akrab. Hal itu karena hanya segelintir kawan yang kuajak ke rumah. Selain itu, mungkin aku yang memang introvert lebih memilih siapa yang berhak menerima segala bentuk ocehanku dan aku nyaman dengan mereka. Sedikit tapi mendalam. Dan aku tidak keberatan dengan itu semua. Memang, untuk sekedar kenal atau teman tidaklah masalah dengan siapa saja. Namun untuk siapa kisahku kucurahkan, aku memang cukup selektif.
Di tempat ini pula, tak kusangka berbagai pertolongan datang tiada henti, meskipun menjalani tiap prosesnya ingin sekali lari dan tak ingin kembali. Tapi bagaimanapun harus diselesaikan dengan baik. Bahkan mungkin ada doa-doa mengalir untukku di tempat ini, bahwa aku mampu bertahan sejauh ini hingga selesai. Dan aku pun tidak menyangka akan selesai dengan tersenyum, sekalipun aku datang ke tempat ini dengan berat. Namun, mampu kuakhiri dengan tersenyum meninggalkannya.
Sampai detik ini, segala bentuk yang telah kulalui, ini bukanlah karena aku yang memang tangguh. Bahkan berkali-kali aku ingin sekali menyerah dan mengakhiri. Barangkali karena ada doa yang diam-diam meninggi ke langit, ada harapan yang diam-diam menggetarkan hati lalu tumbuh menjadi ucapan yang lembut, terlebih ada Sang Maha Perkasa yang telah menguatkan dan mengizinkan untuk menempuh jalan ini meskipun perlahan.
Terima kasih. Meskipun kata ini tidaklah cukup bagi kalian yang secara (tidak) langsung terlibat dan menguatkan. Semoga Allah menjaga kalian dan membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan.
24 November 2019
Seluas ia bisa menerima dan mengikhlaskan terhadap apa yang dimiliki, barangkali itulah tanda paradigmanya yang luas.
23 November 2019
B: Mbak, ada CPNS itu sudah dibuka. Minat nggak?
S: Eum... Hehe nggak ah (sambil ngepel)
Lalu bapak ke kamar mandi sebentar.
B: (Balik dari mandi) Gimana mbak, nggak minat?
S: Hehehe nggak ah, pengen nyari yang lain.
Begitulah bapak, mungkin dalam dirinya masih berharap ada anaknya yang melanjutkan jadi PNS, karena bapak seorang pensiunan PNS. Dulu, ketika awal bapak dilantik jadi PNS, perjuangannya murni hasil jerih payah sendiri, mulai dari bantu-bantu sampai pekerjaan kasar bangunan pun dilakukan.
Masih ingat saat tahun 2016 atau 2017 harapan bapak kepadaku untuk jadi PNS masih saja tersemat, belum lagi adiknya bapak (paman) pun mendukung agar aku bisa meneruskan pekerjaan bapak jadi PNS. Pernah ditawari ke mas, tapi mas tidak minat sama sekali. Akhirnya menawari diriku, dan sekarang pun aku tidak minat, tak peduli teman-temanku berburu kursi PNS itu.
Hingga di tahun ini, bapak sadar, karena setiap orang memiliki pilihannya. Meskipun ada beberapa saudara bilang, "kok aneh ya nggak mau jadi PNS. Orang lain mah pengen jadi PNS." Lalu jawaban bapak yang membuatku terenyuh, yang tidak memaksa seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan legowo bapak bilang, "ya, sekarang kan sudah pada besar. Punya pilihan masing-masing."
Dulu sekali ketika mas masih kuliah dan aku masih SMA, keinginan bapak agar anaknya jadi PNS begitu besar. Bahkan berkali-kali saat mas telah lulus kuliah menyarankan agar mengikuti tes CPNS, tapi ya begitulah mas pun tidak minat sama sekali. Akhirnya berharap padaku, akupun sama dengan mas, tidak minat sama sekali. Alasan bapak ingin jadi PNS adalah agar terjamin hidupnya, dan ketika pensiun ada tunjangan ini itu, minimal tidak repot memikirkan hari tua. Namun, aku berpikir lain, aku tidak mau hidup layaknya roda yang kaku dan lurus akan sebuah waktu yang mengikat. Walaupun setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri. Pasti akan menemukan titik bosan. Tapi semoga pekerjaan yang sedang aku jalani, apapun pilihan profesi yang sesuai keinginanku, semoga dipilih dengan sesadar-sadarnya. Agar ketika penat dan kekosongan melanda, aku bisa menjawab pertanyaan yang sepi itu.
Ya, bukan berarti menjadi PNS itu pekerjaan yang buruk, tidak. Hanya saja, rasanya itu bukanlah jalanku, dan aku memiliki kecenderungan sendiri terkait suatu pilihan profesi. Maka dari itu, tes CPNS itu aku berikan bagi yang sangat menginginkan, barangkali mereka lebih mengerti dan paham akan tujuannya menjadi PNS 😁
Tentu saja, apapun profesi kita semoga keberkahan senantiasa melingkupi.
15 November 2019
Di tumblr lagi banyak yang ikutan kuis ini, eh nyoba juga karena warna halaman tersebut kalem-kalem gimana gitu, ikutan dan ikutan, kadang ada benarnya juga wkwkwkwk
Manusia sunyi -kata kuis tersebut 😁