11082016
Dear, Diary ...
Hai! Aku lagi confused banget sekarang akan pilihan hidupku. Sebentar lagi aku bakal lulus dari bangku sekolah. Ya meskipun sebenarnya masih ada waktu beberapa bulan lagi, tapi aku udah kepikiran dari sekarang. Kepikiran akan pilihanku setelah ini mau ke mana, mau apa, dan yang paling ‘menyiksa’ sekarang adalah bayang-bayang ‘perpisahan’. Ya, perpisahan akan sesuatu yang dinamakan dengan “sekolah”.
Sekolah, mengingat satu kata itu sekarang benar-benar membuatku sedih, galau ... Mungkin buat beberapa orang, sekolah itu menyebalkan, membuang-buang waktu, membuang-buang uang, bikin sibuk, bikin capek, bikin stress karena banyak PR ... Dulu, mungkin aku juga berpikiran begitu, hingga akhirnya tibalah saat ini. Saat-saat menuju gerbang bertuliskan “selamat tinggal” pada dunia yang sudah mengisi hari-hariku selama lebih kurang 13 tahun ini.
Sekarang, meskipun dulu atau bahkan mungkin sampai detik ini aku nggak suka-suka banget sama yang namanya sekolah, nyatanya begitu ingat kalau sebentar lagi aku bakal ninggalin dunia ini (sekolah) untuk pergi ke dunia ‘yang sebenarnya’, hatiku benar-benar ngerasa nggak relaa banget, sedihh banget. Mau sekolah itu semenyebalkan apapun, sejelek apapun, semenjengkelkan apapun, tetap aja aku ngerasa ... aku nggak mau pergi. Meski belum benar-benar berpisah dan saat ini aku masih ada di sini –sekolah, tapi entah kenapa hatiku udah merasa rindu. Rindu akan semua memori kehidupanku di sekolah selama ini. Mulai dari bayangan pakai seragam baru, tas baru, sepatu baru, kenalan dengan teman baru, MOS, lari-larian minta tanda tangan kakak-kakak OSIS, ribetnya buat atribut MOS, diomelin kakak TDK, salah masuk ruang kelas, telat datang ke sekolah, salah bawa buku, nyontek pas ulangan/ngerjain PR, nggak dapet teman kelompok, betapa deg-degannya kalau disuruh maju ke depan kelas, panas-panasan pas upacara, nyoret-nyoret meja/bangku.
Kalau dipikir-pikir, kebanyakan hal yang kusebutkan tadi adalah kenangan buruk, yang seharusnya nggak diingat-ingat apalagi sampai diceritain di sini. Tapi, justru kenangan-kenangan itulah yang pastinya bakal sangat aku rindukan nantinya. Yang namanya masih seorang siswa, hal kayak gitu hal biasa, apapun juga pasti masih dimaklumin sama orang-orang. Karena apa? Karena yang namanya siswa itu masih dianggap anak-anak.
Pada akhirnya, suka nggak suka, mau nggak mau, waktu terus berlalu, nggak peduli mau sesedih apapun kita ditinggalkannya. Mumpung sekarang aku masih di sini –dunia yang sebentar lagi akan kutinggalkan (sekolah), aku harus benar-benar menikmatinya. Masa-masa sekolah di mana kita masih dimanja sama guru nggak akan datang lagi setelah ini. Aku sadar, sesibuk-sibuknya anak sekolahan, pastilah nggak akan sesibuk dan serumit kehidupan orang-orang dewasa. Pikirannya seorang siswa kebanyakan paling cuma berputar-putar kalau nggak PR ya ulangan, kalau nggak ulangan ya PR. Kalau pikirannya orang dewasa? Sudah pasti bercabang ke mana-mana. Yang masalah uanglah, temanlah, hutanglah (kalau punya), saudaralah, kerjaanlah, percintaanlah, apalah ...
Jujur, aku anak yang dimanja kalau di rumah. Selama ini aku tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari keluargaku (orangtuaku dan kakakku). Aku bukan orang yang mandiri, ke mana-mana masih minta dianterin, minta apa aja seringnya diturutin ... Setelah aku lulus nanti dan mulai menapakkan kakiku di ‘dunia yang sesungguhnya’, kuharap aku tidak kaget dan mampu menjalaninya.
Semoga,
Aamiin.
Sincerely,
- LDR -












