Ibuku
Belajar jadi menantu dari Ibu, Ibu yg notabene dibawa oleh bapak dari luar pulau untuk menetap di kotanya pastinya bukan keputusan yang mudah bagi Ibu. Bayangkan saja Ibu harus meninggalkan orangtua dan saudara-saudaranya dan pahitnya tidak tau pulangnya kapan, tiket pesawat dahulu kala hanya untuk kelas menengah ke atas, pelabuhan pun rasanya terlalu lama mengingat kondisi Ibu dan Bapak dulunya tidak memiliki ekonomi yang berkecukupan. Derita Ibu bukan hanya persoalan ekonomi saja tetapi beliau harus diuji dengan mertua yang tidak menyukainya sama sekali, membenci sukunya, menganggap enteng Ibu yang tidak bekerja karena harus mengurus 2 kakakku pada masa itu.
Hari-hari caci maki oleh nenekku tidak berhenti, bahkan menghasut keluarga dan anaknya sendiri untuk membenci Ibu, memang nenekku lagi masa berjaya-jayanya, dimana saat itu kakekku berada pada puncak tertinggi dalam hidupnya yaitu menjadi anggota legislatif sebuah kabupaten, jaman dulu profesi ini sangat bergengsi. Kesombongan nenekku makin jadi karna Bapakku diterima menjadi dosen di sebuah kampus negeri terkenal di ibukota provinsi tersebut, selama bapak kerja, bapak jarang memberi uang kepada nenek dan itu menjadi alasan utama nenekku murka terhadap Ibu karna mengira Ibu-lah sang pengatur keuangan Bapak. Sudah terbayangkan di hati, betapa sedihnya hati Ibuku, merantau jauh dari keluarga dan dibenci oleh mertua sendiri. :’(
Setiap kali mengingat cerita itu, saya sebagai anak merasakan sakitnya.
Beberapa tahun berlalu hingga kakakku yang pertama dipanggil Allah dan hadirlah kami, kakak dan saya. Ibu pada saat itu sudah aktif bekerja, katanya untuk hidup mandiri, dalam pikiranku, untuk apa mencari uang lagi toh bapakku memiliki kerja yang bonafit, setidaknya mencukupi kebutuhan kami saat itu. Siapa sangka, Bapakku ternyata tidak pernah menafkahi Ibu, dari awal menikah hingga saat ini (saya udah nikah dan lagi hamil anak pertama), yang awalnya nenekku berpikir tidak-tidak pada akhirnya malu sendiri mengetahui hal itu. Nenekku pelan-pelan mulai berubah tetapi Bapakku tidak. Dia tetap egois dan lebih memilih menyimpan seluruh gajinya.
Ibuku, kesabaranmu tidak ada duanya.
Ibuku berhasil menyekolahkan kami, bahkan kakak kedua menyelesaikan profesinya dengan bantuan Ibu, kakakku selanjutnya berhasil jadi dokter dan kini saya tumbuh dengan berbekal ilmu engineer. What a proud of you, Ibu. Kesabaranmu lagi-lagi tidak terbatas, doa-doa yang kau panjatkan diijabah olehNya. :’)
Sekarang, saya juga memasuki kehidupan pernikahan. Bagi seorang introvert seperti saya, memiliki lingkungan baru melelahkan makanya sebagai menantu yang numpang hidup di rumah mertua, saya hanya kebanyakan diam dan sangat jarang berinteraksi dengan keluarga suami. Sampai akhirnya kejadian yang dialami Ibu saat awal menjadi menantu terjadi kepada saya, yang membedakan yang kurang begitu menyukai saya adalah Bapak mertua. Ibu mertuaku kebetulan sudah dipanggil sang pencipta jauh sebelum saya mengenal suami. Kata-kata pedis yang sudah menjadi karakternya terlontar, hati saya lemas selemas-lemasnya mencoba intropeksi diri, mencoba mencari titik salahku, namun saya tidak berpuas diri dan larut dalam sakit hati. Saya tiba-tiba mengingat Ibu dan mulai menangis. Merasa tidak berguna karena tidak bekerja kantoran. Kebetulan setelah menikah saya memilih bersama suami saja, keputusanku tidak diindahkan oleh Bapak mertua. Baginya, prestige nomor 1. Hati saya sedih sesedih-sedihnya. Kesalahanku adalah bercerita kepada Ibu. Saat saya menceritakan ke Ibuku masalah ini, malamnya beliau tidak bisa tidur dan mulai ikut menangis juga. Selama saya cerita masalah ini, beliau tidak pernah menyalahkan Bapak mertua, beliau selalu bilang sabar sabar dan sabar. Umur yang masih dibawah 30 ini terkadang memikirkan egonya saja, belum matang. Dengan nasihat Ibu, saya mulai belajar agar sabar saja dan tetap menghormati Bapak mertua saya. Ibuku tidak pernah sekalipun menyuruhku tidak menghargai keluarga suami bahkan beliau yang selalu positif thinking. Ibu, ajari saya jadi menantu sepertimu <3














