Diam, Menegur, atau Menyimak: Pilihan dalam Realitas
Illustrative case: Aku tahu temanku (tidak terlalu dekat) sering merendahkan orang lain di grup. Aku dilema harus menegur atau biarkan saja.
Diamku melindungi siapa? Melindungi temanku, dan kenyamanan diriku sendiri.
Diamku melukai siapa? Orang yang direndahkan. (Teringat pernyataan Kim So-yun alias Kim Yeong-Mi dalam Beyond The Bar—Tak ada pengamat yang sungguh tak bersalah. Diamnya pengamat, sama kejamnya dengan kekerasan yang dilakukan pelaku).
Apa aku diam karena bijak? Tidak, hanya malas ribut.
Muhasabah tidak lagi cukup. Sudah saatnya menegur, dengan catatan: tepat caranya.
Begitulah, menasihati orang lain, dalam relasi tertentu, tak ada kaitannya dengan merasa lebih benar, tapi memikul tanggung jawab—kan khalifah.
Pindah kasus. Perlukah kita meluruskan nilai-nilai keliru yang orang bagikan di linimasa?
Ini tipikal dilema modern. Yang dibanding terlihat membangun, aksi ini lebih sering terlihat “moralizing”.
Kita mesti punya tujuan yang jelas soal alasan mengapa kita ingin meluruskan atau menegurnya. Kalau cuma untuk menegaskan diri kita benar, sepengalamanku, biasanya sia-sia, bisa bikin konflik. Haha si paling pengalaman. Tapi kalau untuk meluruskan miskonsepsi atau melindungi orang lain dari pengaruh negatif, itu punya nilai nyata, kok.
Selain itu, penting untuk memperhatikan medium dan gaya. Balas dengan pesan biasanya lebih pribadi dan efektif daripada balas dengan post panjang, defensif pula. Tegur dengan pertanyaan terbuka dan fakta, bukan judgment. “Aku pernah baca perspektif lain… gimana menurutmu?” lebih peace mode daripada “Ini salah banget.”
Sah-sah saja kalau mau membalas dengan postingan. Tapi balaslah dengan kontra narasi. Terima kasih banyak-banyak kepada Pak Weba. Catatan kontra narasi-mu adalah pengingat yang sangat layak dipertimbangkan oleh umat yang gemar menulis sedunia.
Perhatikan prioritas dan energi. Di linimasa, hampir semua orang bisa menimbulkan perdebatan moral lewat posting, komentar, opini. Dan sering kali perdebatan itu tidak ada habisnya.
Kalau kita mencoba menanggapi semuanya, kita bisa terlalu lelah, stres, atau kehilangan fokus.
Tidak semua kesalahan perlu diluruskan.Pilih pertarunganmu. Fokus pada hal yang penting, berdampak nyata, atau relevan saja.
Shih-lah, ini benar-benar catatan pengingat diri, ternyata.
Muhasabah dan amar ma’ruf itu dua hal yang harus berjalan bersama.
Urutannya penting. Koreksi diri lebih dulu, lalu, kalau memang ada hak, kewajiban, dan adabnya, nasihatkan orang lain dengan hikmah.
Aku yakin kita semua sudah tahu ada nuansa atau adab lain dalam menasihati yang perlu diperhatikan, yaitu posisi dan asimetri relasi. Beda cara menasihati teman sebaya, anak, bawahan, atau orang yang menindas. Nasihat tanpa sensitivitas terhadap struktur kuasa ini mudah berubah jadi moralizing. Ini real, dan sering terjadi. Hehe
Nilai memberi arah, realitas memberi ujian. Nilai tidak pernah turun ke dunia dalam bentuk murni. Banyak di antaranya masih perlu dinegosiasikan dalam relasi. Dan relasi, ada di dalam realitas hidup.
Apakah bisa kita hidup hanya dengan nilai tanpa menyelami realitas hidup?
Tidak bisa. Menurutku, sih. Dan kalau dipaksakan, hasilnya sering justru munafik secara praktik, meski terdengar saleh secara kata.
Tapi memang banyak dari kita masih memakai nilai untuk menghindari realitas “yang penting niat baik”, atau memakai realitas untuk menyingkirkan nilai “namanya juga hidup”. Yang kedua adalah yang paling sering kulakukan wkwk. Jadi ingat kutipan, If you tolerate everything, you stand for nothing. Akh, aku benar-benar tersindir olehnya.
Kabarnya, kebijaksanaan lahir di tengah nilai yang diuji langsung oleh realitas, dan realitas yang dituntun oleh nilai.