Adakah seorang ibu yang punya perasaan sama, atau aku yang berlebihan?
Entah cuma perasaan, tapi aku selalu merasa benar adanya. Aku merasa ketika punya anak pertama, aku menjadi lebih posesif. Sebelum menikah apalagi sebelum punya anak, aku merasa tidak pernah dibebankan hal ini. Setelah menikah, aku sempat merasa terbebani dengan pertanyaan kapan hamil, dan pernyataan kalau anak sebagai penguat rumah tangga. Alhamdulillah, qadarullah selang dua bulan, Allah memberikan aku kepercayaan, aku dinyatakan positif hamil. Namun, aku dibebani pernyataan lain. Aku disuruh tetap bekerja saja, biarkan anakku dengan nenek dari pihak suami, biar beliau yang berhenti bekerja. Sebelumnya aku belum menyatakan akan resign setelah melahirkan, barulah ketika mendekati HPL, aku mengutarakan rencanaku. Pilihanku untuk melahirkan di pihak orang tua, mulai memperlihatkan 'ketidakcocokan' aku dengan orang tua dari suami. Aku ingin agak lama tinggal dan belajar menjadi seorang ibu di rumah orang tua, tapi dari pihak sana selalu menanyakan kapan pulang dan mendesak supaya kembali dan tetap tinggal disana. Perlahan hatiku mulai berat untuk kembali, walaupun pada akhirnya harus ikut dan patuh pada suami.
Perasaan sakit itu, mulai bermunculan ke atas permukaan. Saat ada pernyataan yang berupa dugaan beliau, aku disangka tidak diurus baik oleh orang tuaku, dan pihak orang tua suami menyatakan bahwa mereka pun akan mengurusku bila mau melahirkan disana. Kemudian anakku disangka tidak pernah dijemur karena badannya kuning. Rasanya sakit sesakit sakitnya, apalagi aku seorang ibu yang baru, sedang tinggal bersama orang tuaku. Kalau itu berupa pertanyaan, maka aku memaklumi. Tapi bila berupa tuduhan, siapa yang tidak merasa sakit hati?
Kemudian aku diminta untuk menginap sementara, dengan perasaan yang berat aku turuti. Tapi, selama disana selalu ada pernyataan yang menyakitkan, ketika anakku diajak berbicara hal - hal menjurus yang menjauhkan aku sebagai ibunya. Aku merasa ibunya suami selalu mencari kesalahan - kesalahan supaya anakku bisa diasuh full time olehnya. Katanya aku tidak bisa menggendong, katanya aku tidak bisa bernyanyi. Saat itu anakku usia 1 bulan sedang senang - senangnya digendong. Kemudian, anakku selalu diajak tidur bersama ibunya suami, padahal anakku full ASI DBF, kalau malam selalu terbangun minta ASI. Walaupun tidak pernah kesampaian oleh ibunya suami, tapi kata - kata yang terulang itu selalu menyakitkan. Ketika bermain ke tempat kami, ibunya suami selalu bilang tempatnya panas, anakku tidak betah, lebih betah di rumah beliau. Katanya di tempatku, anakku hanya dibaringkan saja, jarang digendong, oleh ibu suami selalu digendong, alasannya anakku senang digendong, ujung - ujungnya mengajak berbicara anakku supaya diasuhnya oleh beliau saja. Pernah juga menyuruh anakku minum susu / ASI dari botol dot saja. Beliau juga menyuruh kalau sudah tidak minum ASI, tinggal bersama beliau, sekolah disana dan berharap nanti anakku besar, ketika butuh dan mau apa - apa larinya ke ibunya suami. Anakku selalu dibilang anaknya, anak terakhirnya. Bila kami hendak berpamitan pulang dari rumah beliau, dan anakku kebetulan menangis, beliau selalu berkata anakku tidak ingin pulang, inginnya bersama beliau saja. Kalau libur, katanya anakku titipkan saja, tinggalkan saja, sudah jarang menyusu ini (karena sudah makan MPASI). Padahal, jarang menyusu karena selalu dipegang beliau, dan ASI pun harus tetap sesering mungkin diberikan pada bayk walaupun sudah makan MPASI.
Puncaknya konflik ini, saat aku sangat sakit hati, marah, karena anakku yang masih bayi 3 bulan, full ASI, terus - terusan dibawa main keluar tidak diberikan pada aku ibunya, sampai pa**da** ini terasa full dan sakit karena tidak sering - sering menyusui. Aku marah ke suami, kemudian kabur dan cepat - cepat pulang. Ibunya suami membuat status "nyesek" dan aku menduga itu semua karena sikapku. Di rumah, aku mengutarakan perasaanku. Aku merasa sakit hati kalau ibunya terus - terusan berharap anakku bersama beliau. Disatu sisi suami di pihak ibunya, dengan berkata, kalau anakku jarang dipegang beliau, jadi biarkan ketika disana, anakku dipegang beliau. Disisi lain, suami berpihak pada aku, suami memberi pengertian padaku, bagaimanapun kakek/nenek tidak pernah berhak mengambil anak dari orang tua kandungnya. Suami pun tidak pernah setuju kalau anak diasuh orang lain, makanya suami sangat mendukung aku untuk resign agar anak diasuh oleh ibu kandungnya. Kakek/nenek itu senangnya hanya bermain bersama cucu, bukan yang bisa mendidik. Suami menceritakan juga kenapa ibunya bersikap demikian, karena suami sejak kecil lebih dekat dengan neneknya yang dipanggil ibu. Neneknya pun sama menganggap cucunya adalah anak bungsunya. Saat kecil, suami lebih memilih nenek daripada ibunya. Pernah sekolah dan tinggal bersama neneknya, tapi akhirnya suami kembali tinggal bersama orang tuanya karena terlanjur dibohongi saat liburan . Katanya liburan, tahunya tidak boleh kembali lagi tinggal bersama neneknya, dan akhirnya pindah sekolah. Suami saat itu merasakan rindu dengan neneknya dan malah sebelumnya merasa biasa saja ketika tidak tinggal bersama ibunya. Mungkin ini yang ibunya harapkan pada cucunya yang pertama ini, anakku.
Kadang aku merasa gagal dan sedih menjadi seorang ibu hanya karena pernyataan beliau. Aku tipikal orang yang senang dirumah, produktif di kamar. Terkadang lelah dengan kegiatan sehari - hari, jadi sangat jarang bermain keluar. Setiap berkunjung, anakku bermain dengan anak - anak lain. Ibunya suami merasa, anakku senang disini karena banyak teman, sering bermain dibawa keluar. Sementara, di rumah yang aku tempati, aku jarang keluar. Sesekali ajak anakku itupun kalau belanja saja, dan aku tidak melihat yang seumuran, yang ada pun lebih tua 2-3 tahun. Aku merasa pernyataan itu semakin memperkuat keinginan beliau yang ingin mengasuh anakku full time.
Padahal, tidak ada yang aku permasalahkan lagi dari ibunya suami selain ini, karena sebelumnya pun aku menghormatinya, sangat mendukung suami untuk berbakti padanya. Tapi semenjak hal ini terjadi, aku jadi selalu berharap bisa lebih berjarak. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kalau anakku dipegang beliau saat kami berkunjung, hanya saja aku minta waktu agar anakku menyusu juga, dan rasanya tidak perlu juga mengajak anakku terus - terusan untuk tinggal bersama beliau, ada orang tuanya ini. Aku yang minta pada Allah, aku yang mengandung, aku yang melahirkan, aku yang menyusui, aku yang resign dari pekerjaan, aku yang menabung dan kursus jahit agar aku bisa produktif tetap menghasilkan uang supaya bisa full time bersama anak, apa rela kalau anakku diasuh dan lebih dekat dengan yang lain?
Aku merasa lebih baik ketika anakku berkunjung ke orang tuaku, dan keluargaku. Bukan karena mereka keluargaku, tapi di keluargaku tidak ada yang rasanya menurutku berlebihan seperti ibunya suami. Walaupun aku melihat semua sangat sayang, dan bapakku pun selalu bilang disini saja, atau nanti besar sekolah disini, tetap saja berbeda. Karena bapak tidak pernah mencari kesalahanku seperti yang pernah ibunya suami lakukan.
Kadang aku merasa tidak enak, karena pada dasarnya semua baik menurutku. Akupun menulis ini bisa saja semua hanya perasaanku saja, dan ibunya suami tidak merasa. Sayangnya, aku tidak bisa mengontrol orang lain, seperti apa yang aku harapkan ke ibunya suami supaya tidak terus menerus mengajak anakku bersamanya. Mungkin itu bentuk sayang untuknya, tapi tidak untukku dan bahkan berlebihan. Bagaimanapun juga, seharusnya beliau mengerti,kasih dan peran seorang ibu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Di sisi lain, aku juga harus terus berpura merasa baik - baik saja, tapi ujung - ujungnya aku selalu bersikap buruk karena sulit menyembunyikan rasa sakit hati, sedih dan kesal.