Tentang Penilaian
"Syifa, orang lain boleh menilaimu apapun. Mereka bisa saja menyalahkan, merendahkan juga salah paham terhadapmu. Tapi kamu paling tahu bukan kebenarannya? Ngga papa. Dunia boleh tidak memahami, tapi kamu selalu punya Bunna yang paling tahu tentang kamu. Dan Allah yang selalu tahu semua yang tersembunyi." Ku pegang cukup erat tangan Syifa, aku tidak yakin apa ini cukup untuk menguatkannya.
"Din, berarti kita ngga bisa memeluk semua orang? Kita ngga bisa ngebahagiain semua orang?" Benteng pertahananku luruh, air mataku akhirnya keluar, tak terbendung lagi. Kutarik nafas dalam dalam, lalu aku memeluknya dengan erat.
"Syifa, tangan kita hanya dua. Ngga akan pernah cukup untuk memeluk setiap orang yg ahdir di hidup kita. Pilihlah orang-orang yang bersedia untuk tumbuh bersama. Orang yang ngga takut terluka dan terjatuh karena mereka selalu punya pilihan untuk bangkit dan tumbuh kembali. Orang-orang mungkin salah paham denganmu, tapi kebenaran akan selalu menang Fa. Walau mungkin butuh waktu yg cukup lama untuk tampak. Kita selalu punya kesabaran itu bukan?"
Syifa mengangguk, kami tutup sore itu dengan saling memeluk luka-luka yang kian menganga. Setiap kita selalu memiliki potensi untuk menyakiti orang lain. Selalu ada pilihan untuk meminta maaf dan memaafkan.














