17 April 2019, saat pertama kali bertemu dengannya, aku meminjamkan buku ini kepadanya. Buku yg menurutku bisa membantunya melepaskan segala sesak didada karena cinta yang dibangun bertahun-tahun harus kandas. Karena dulu buku ini juga yang menemaniku menikmati laraku.
Dia menyukai buku ini. Dia bilang, buku ini seperti apa yang dia rasakan namun tidak dapat tersampaikan.
Aku senang mendengarnya. Aku bersyukur dapat sedikit meringankan laranya.
Patah hati tak selalu harus diratapi. Mari rayakan patah hati dan nikmati lara, kataku.
Setelah pertemuan pertama, kami banyak berbincang dan berbagi cerita. Walaupun cerita soal patah hati lebih mendominasi.
Hari-hari berikutnya, aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya. Bahkan kami pernah berbincang via telepon selama 5 jam. Aku tidak bosan, aku malah sangat senang dia berbagi cerita denganku.
Aku bertanya, kenapa kamu menceritakan banyak hal tentang masalah pribadimu kepadaku, seseorang yang baru saja kau kenal? dia jawab, karena aku percaya padamu. Bagaimana kau bisa percaya? aku bertanya lagi. Entahlah, hatiku berkata begitu, katanya.
Oiya aku ingat, suatu hari saat kami sedang berbincang, ia berkata "aku butuh kamu". Kalimat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Kalimat yang membuatku memutuskan untuk membuka hati untuknya. Untuk lebih banyak membantunya. Untuk lebih dalam memahaminya, juga memulihkan batinnya.