Es Kopi dan Diskusi Soal Penerimaan Baru
Aku tidak tahu apakah kami termasuk orang-orang idealis atau bukan. Jelasnya, pandangan kami itu nyaris mirip. Dan, kami sepakat bahwa sebab-musabab dari kesendirian kami selama ini adalah belum ditemukannya sebuah penerimaan baru. Mungkin aku bisa dibilang mulai hebat menerima suatu penerimaan dalam kenyataan pahit di keluarga. Tapi nyatanya aku belum benar-benar berdamai dengan penerimaan.
Setelah berdiskusi lebih kurang dua jam setengah, aku dan Bu Rini ditemani es kopi sanger buatan Faisal yang ternyata sangat enak, ada sesuatu yang membuatku sadar akan hal itu.
“Aku sampai di usia kepala empat, belum tahu siapa yang bisa kumaklumi kekurangannya ketika dia tidak sesuai dengan kriteria yang kutentukan.” Dia menyeruput es kopinya dan menimbulkan suara yang renyah. Aku spontan mengikuti gerakannya dan ikut membuat suara seruputan yang renyah juga. Dia melanjutkan.
“Mungkin selama ini aku masih sering menolak mereka yang tidak ideal dengan pikiranku. Karena yang ideal menurut pikiranku adalah bapakku sendiri.”
“Seperti apa bapak Burin memangnya?”
“Paham betul cara mengasuh anak, banyak tahu sejarah, tahu politik, bisa main kecapi dan gamelan lainnya, mengerti budaya deh.”
“Multi talenta.”
“Kesempurnaan yang menurutku sendiri memang tinggi. Dan, aku tidak pernah pergi dari sana.”
“Tapi pernah nggak Ibu merasa bahwa Ibu terlalu idealis?”
“Pernah.”
“Lalu? Apa yang Ibu lakukan setelah sadar?”
Aku tahu ini sesuatu yang sangat menarik. Mendengarkan pernyataan dari seorang penganut idealisme yang menyadari bahwa dirinya memiliki stratum tersendiri. Dan, aku pikir ini tidak mudah untuk bersosialisasi.
“Aku mencoba mengubah beberapa pandangan. Menerapkannya di lingkungan. Tapi ketika aku berpindah ke lingkaran lain, semua terulang lagi. Pikiran-pikiran yang semula kuanggap benar dan kuubah ke pandangan baru, ternyata semua berbalik kembali. Aku tetap pada apa yang kulihat dan kuyakini di awal.”
“Ada istilah keren untuk fenomena itu nggak ya?”
Kami tertawa.
Ketika jatuh cinta pada pandangan pertama, biasanya orang merasa kagum, merasa orang itu adalah separuh dari dirinya, atau merasa bahwa orang itu adalah sebagian dari dirinya yang hilang. Sama seperti aku ketika mendengar cerita Burin. Aku merasa bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya itu juga terjadi denganku. Singkatnya begitu.
Beberapa kali aku mencoba mengutarakan apa yang aku pikirkan dan apa yang aku lihat. Niat itu sebenarnya semata-mata untuk mencari pembenaran atau sebuah interupsi. Tapi, kenyataannya memang lebih banyak interupsi yang kudapat. Mereka lebih sering protes dan berusaha membelokkanku pada anggapan mereka sendiri.
Sebenarnya bukan tidak ingin mengikuti mereka. Hanya saja…apa ya? Pernyataan-pernyataan yang ada di lingkaranku rasanya terdengar sama. Tidak ada warna yang mencolok. Terlalu klise. Seperti sebuah pertanyaan soal kenapa kamu ingin cepat-cepat nikah? Jawabnya, karena umurnya ketuaan untuk ukuran perempuan. Atau, kenapa kamu tidak pilih topik yang lebih menarik untuk penelitianmu? Jawabnya lagi, karena yang penting cepat lulus.
Oh, please. Can you tell me why by the other side, Troops?
Pada dasarnya tidak ada jawaban yang memuaskan menurutku. Berangkat dari sana, aku semakin tidak yakin untuk membicarakan isi otakku sendiri. Semacam takut dinilai terlalu keukeuh, mungkin? Atau semacam ragu-ragu orang lain akan bisa memahami apa yang aku pikirkan.
“Akan ada hari di mana kita menerima kekurangan seseorang yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita akan menemukan sebuah penerimaan baru. Begitu, kan, Burin?”
“Yap! Kita sama-sama percaya dengan hari itu.”
“Hari di mana kita jatuh cinta dengan kekurangan.”
Kami berdua tertawa. Mengambil gelas kaleng di meja kami dan meneguk habis es kopi di dalamnya.










