Malam 27 DKRN #6
Ada yang bilang gini..
Orang introvert itu adalah setiap bangun pagi, orang itu memiliki energi 10. Seiring berjalannya hari, dia bertemu banyak orang. Dan di akhir hari sebelum tidur, energinya berkurang menjadi 0 (nol)
Orang ekstrovert itu adalah setiap bangun pagi, orang itu memiliki energi 0 (nol). Seiring berjalannya hari, dia bertemu banyak orang. Dan di akhir hari sebelum tidur, energinya penuh menjadi 10.
Saya adalah orang ekstrovert. Makanya Covid ini benar-benar menjatuhkan ku karena aku ndak dapat energi itu. Bangun energiku 0, mau tidur energiku 0. Soalnya ndak banyak ketemu orang.
Di Ramadan malam 27 tadi, alhamdulillah energi itu berkumpul lagi setelah sekian lama. Silaturahmi tipis2, ndak rame, dan ditempat terbuka. Jadi meminimalisir penularan covid.
Malam 27 tadi entah kenapa udara malang tumben lagi dingin. Tapi dinginnya ndak menusuk. Saya itu pulang ke rumah naik sepeda motor pakai celana pendek dan baju lengan panjang saja. Tapi tidak merasa kedinginan yang sangat. Ya dingin tapi nyaman. Ada energi yang berbeda di malam 27 tadi. Kalau memang Lailatul Qadar itu ciri-cirinya malam (atau pagi) yang tenang, mungkin ini salah satu malamnya.
Saya ingat sampai rumah, saya buka aplikasi cuaca di HP dan suhu menunjukkan di angka 19 derajat Celcius.
Di perjalan saya setelah silaturrahmi itu, saya melewati alun-alun kota Malang. Kalau teman-teman ndak tahu, di Malang itu kalau malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, akan banyak orang yang datang ke masjid Jami' alun-alun Malang di malam harinya untuk ber i'tikaf (berdiam diri di masjid). Ramai sampai memenuhi alun-alun kita. Malam 27 tadi saya pulang lewat situ. Dan Alhamdulillah rame. Mobil parkir penuh. Motor parkir penuh.
Karena parkiran rame itu, mau ndak mau saya harus memutari alun-alun supaya bisa pulang. Diujung alun-alun, tepatnya di depannya SD Kauman, sebrangnya bank Mandiri, saya melihat anak kecil laki-laki, mungkin sekitar umur 7-8 tahun, memakai sarung, baju putih, kopiah hitam dan pakai masker. Saya mbatin, ini anak kenapa sendirian jalan kaki dari arah masjid. Kemana orang tuanya, temennya atau siapapun lah? Anak kecil yang mungkin belum wajib shalat, apalagi menghayati arti dari kewajiban. Apa yang menggerakkan anak itu ke alun-alun itu untuk i'tikaf? Apa itu karena imaji positifnya tentang Ramadan, Islam, serunya bertemu dan berkumpul? Ya mungkin mereka datang cuma "main". Diajak kanca-kanca ne untuk mainan, cangkrukan, tapi ngapain main malam-malam gitu? Pasti ada energi lain yang merayunya untuk i'tikaf. Mendadak dalam waktu yang sangat singkat saya "berkomunikasi" dengan Allah.
"Ya Allah, setelah melihat anak itu, saya masih optimis semua masalah dan kondisi ketidak pastian ini akan berakhir. Di masjid dan alun-alun begitu banyaknya hambaMu yang benar-benar mengharapkan hadiahMu yaitu Lailatul Qadar. Saya yakin mereka datang ke Masjid ini dengan kondisi yang was-was. Mungkin ada meraka yang takut terkena Covid, ada yang sedih karena dirinya, anak, istri, suami, saudaranya ndak bisa pulang ke kampung halaman. Ada yang mengkhawatirkan bagaiaman usaha mereka di masa susah begini. Atau mungkin ada yang datang dengan membawa berjuta pengharapan di tangannya agar orang yang mereka sayangi disembuhkan dari penyakit. Yang pasti mereka semua ingin kondisi ini semua membaik. Carut marut, saling sengkarut, keruwetan, ancaman, disudahi ya, Ya Allah. Atau mungkin kami nyuwun kekuatan supaya bisa melewati ini. Ya Allah saya melihat anak itu, saya masih yakin dunia ndak akan berakhir remuk. Anak yang saya lihat itu tadi dengan segala optimisnya, saya yakin bisa menjadi bekal kami untuk benar-benar menjadi umat yang lebih baik lagi. Berikan hadiahMu ya Allah."
Malam 27 ini sungguh nyaman. Malam gelap itu terasa terang benderang. Ya saya Ge Er aja ya. Malam itu Insya Allah Lailatul Qadar turun. Kalaupun ndak. Ya saya ndak tau. Ge Er aja. Turun-turun. Hehe.









