Saksi yang kurang greget;
Hi! Dilihat dari postingan sebelum-sebelumnya, sepertinya saya belum pernah memperkenalkan diri ehe ehe tanpa basa-basi
Jadi perkenalkan nama saya Syarafina, biasa dipanggil syara, syararo, raro,dll. Di keluarga besar saya biasa dipanggil Unyak. Panggilan masa kecil yang artinya adalah anak kedua. Ya orang aceh biasanya memanggil anak pertama dengan sebutan cutkak, sedangkan anak kedua adalah unyak. Saya lahir di tanah rencong, Banda Aceh, 8 Desember 1996 dengan latar belakang seorang ayah yang berprofesi sebagai arsitek dan ibu seorang dokter. Banyak orang yang mengatakan bahwa saya adalah anak ayah, gimana enggak kemanapun ayah pergi saya akan menempel disampingnya. Saya memanggil ayah saya dengan sebutan Papa. Papa adalah orang yang humoris, humble dan cepat bergaul dengan lingkungannya. Sedangkan mama adalah adalah seorang yang hard worker, pantang menyerah, dan jadi penasehat yang baik buat anak-anaknya. Saya sangat beruntung dilahirkan di dalam keluarga ini, dari dulu papa dan mama tidak pernah memaksakan kehendak mereka dalam urusan anaknya. Mereka lebih menyetujui dengan pilihan yang dipilih oleh anaknya sendiri.
amazed with the handsomeness of the-white-shirt-guy beside mum! ehe (mama dan papa)
mama, kakak, saya
Sejak sekolah dasar saya sudah ditinggal mama yang sedang menempuh pendidikan di Kota Pahlawan, Surabaya. Dan Saya menghabiskan waktu kecil dan tinggal di rumah nenek bersama dengan papa, dan kakak perempuan saya waktu itu. Kakak saya bernama Salsabila, ia mengikuti jejak mama yaitu menjadi seorang dokter. Saat ini ia sudah lulus dari fakultas kedokteran di Aceh dan sedang menjalani masa-masa Koas alias magang di Rumah Sakit. Umur kakak dan saya tidak terpaut jauh, kita berbeda 1,5 tahun. Oleh karena itu ia seperti teman sekaligus kakak bagi saya.
Masa kecil saya begitu indah sebelum musibah tsunami menyapu habis wilayah Aceh pada tahun 2004. Tepat ditahun ketiga sekolah dasar, untuk pertama kalinya saya merasakan goncangan yang sangat hebat, seperti yang diberitakan di media gempa sekuat 9 skala richter mengguncang daratan Aceh. Kejadian tersebut terjadi di hari minggu pukul 7 pagi hari. Pada saat itu saya memiliki agenda untuk latihan drumband yang bertempat di sekolah saya sendiri. Entah mengapa saya memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal dan benar sekali anggota drumband yang lain belum hadir. Hanya sekitar 3-4 orang termasuk saya yang baru datang. Sehingga saya dan teman saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam gedung dan menunggu teman yang lain untuk datang. Beberapa menit kemudian saya merasakan goncangan, dan melihat sekeliling saya begoncang, salah satunya jendela kelas yang saling bertabrakan dengan dinding sehingga menghasilkan dentuman yang keras. Saya sangat ketakutan, suasana saat itu sangat mencekam, saya mendengar orang yang berada di seberang sekolah menyaut agar saya dan teman yang lain untuk bertiarap di atas tanah, dan kami semua mengikuti arahan tersebut. Goncangan tersebut terjadi cukup lama lalu kemudian berhenti. Setelah goncangan berhenti satu persatu teman saya dijemput oleh orang tuanya. Tak lama kemudian ada sebuah mobil mengarah ke arah saya, akhirnya papa dan kakak menjemput saya, saya menjadi orang terakhir yg dijemput. Sebelum kembali ke rumah nenek, kami meyusuri jalanan kota dan melihat orang beramai-ramai membersihkan puing-puing bangunan yang roboh akibat gempa. Setelah itu barulah kita mengarah ke rumah nenek, belum sampai ke rumah nenek tiba-tiba dari arah belokan saya melihat kerumunan orang berlarian sambil berteriak “Air naik!!”, langsung saja papa membanting setir dan memutar balik ke arah yang berlawanan dan mengamankan anak-anaknya ke daerah (masih di dalam kota) yang tinggi. Disitu saya, papa dan kakak menunggu begitu lama tanpa mengetahui apa yang terjadi. Karena setelah kejadian itu listrik padam, dan semua kegiatan tidak bisa dilakukan termasuk sekolah, beberapa minggu kemudian papa membuat keputusan agar ia dan anak-anaknya mengungsi ke Surabaya. Di Surabaya-lah saya melanjutkan pendidikan sekolah dasar hingga lulus. Jenjang SMP dan SMA saya lanjutkan di Aceh melihat kondisi yang sudah kembali pulih. Saya termasuk salah satu saksi nyata dari kejadian tersebut, tapi kurang greget eh! Alhamdulillah saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk bernafas dan memperbaiki diri. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat saya ambil dari kejadian pilu tersebut.
Dan sekarang saya menempuh pendidikan di ITS Surabaya jurusan desain komunikasi visual dan menjadi anak rantau yang jauhnya kira-kira 3,021.2 km dari Aceh. Semangat! xoxo
Rindu rumah
















