Barack Obama dan Mimpi-Mimpi yang Menggerakkannya
“My identity might begin with the fact of my race, but it didn't, couldn't end there. At least that's what I would choose to believe.”― Barack Obama, Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance
Nama Barack Obama dikenal dunia sebagai presiden pertama Amerika Serikat yang berasal dari ras Afrika Amerika. Namun, identitas seorang Barack Obama lebih dari itu. Pria kelahiran Hawaii pada 4 Agustus 1961 ini merupakan keturunan dari seorang pria berkulit hitam asal Kenya dan seorang wanita berkulit putih asal Amerika Serikat. Sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun bersama ayah tirinya, Obama kemudian kembali lagi ke Hawaii dan menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di sana. Berbagai kisah mengenai latar belakang ras dan budaya dari Obama yang beragam ini dituangkan dalam autobiografinya yang berjudul Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance.
Buku pertama dari Barack Obama ini diterbitkan pada tahun 1995 oleh Times Books. Diceritakan dalam kata pengantar yang ditulisnya, tawaran untuk menulis buku ini datang saat Obama menempuh pendidikan di Harvard Law School dan menjadi pimpinan Harvard Law Review pertama yang berkulit hitam, membuatnya mendapat cukup banyak perhatian dari publik. Isu ras yang selalu menjadi perdebatan hingga saat ini menjadi salah satu latar belakang penulisan buku ini. Obama lahir dan dibesarkan di Hawaii, di mana keadaan sosialnya cukup berbeda dengan wilayah lain di Amerika pada umumnya. Hal ini membuat kisah Obama tidak dapat menjadi penggambaran dari kehidupan orang kulit hitam secara umum di Amerika. Namun Obama berharap dapat menyumbangkan sebuah sudut pandang terhadap isu ras di Amerika. Melalui buku ini, Obama berusaha untuk lebih memahami makna hidupnya sebagai orang Amerika yang berkulit hitam dan membaginya untuk menginspirasi masyarakat Amerika lainnya.
Peran Ayah dan Kampung Halaman
Sesuai judulnya, peran ayah menjadi sebuah kunci yang menghubungkan kisah-kisah dalam buku ini. Cerita dimulai dengan berita kematian ayah kandung Obama yang telah meninggalkannya sejak usia dua tahun. Kemudian, mengambil alur waktu mundur bertahun-tahun sebelumnya, Obama menceritakan kehidupannya di masa kecil. Tidak lupa pula ia memuat kisah-kisah ketika ia sempat tinggal bersama ayah tirinya, Lolo, di Indonesia.
Ketika dewasa, Obama menyempatkan untuk menelusuri kampung halaman ayahnya yang berada di Afrika. Di sana ia banyak mendengar cerita-cerita mengenai ayahnya sewaktu muda dari nenek dan saudara-saudara ayahnya. Walaupun terlihat suka berbuat onar dan juga serampangan, namun bagi mereka ayahnya telah banyak memberikan inspirasi dengan sikapnya yang gigih. Mendengarkan cerita-cerita itu semakin menyadarkan Obama tentang latar belakang ayahnya. Ketika ayahnya pergi meninggalkannya di usianya yang masih berumur 2 tahun, itu ia lakukan bukan sekedar untuk melepas tanggung jawabnya, namun ia bermaksud untuk mengenali siapa dia yang sebenarnya, dengan keyakinan bahwa dia tidak bisa terhindar dari bayang-bayang ayahnya. Dari situ, Obama merasa menemukan kembali impian yang telah diwariskan ayahnya, baik yang telah diraih maupun yang belum tercapai oleh ayahnya.
Hal ini memberikan pelajaran pada kami bahwa kampung halaman bukanlah untuk ditinggalkan, melainkan sebagai tempat yang perlu kita tilik lebih dalam. Karena dengan mengenal kampung halaman, kita perlahan dapat mengetahui lebih dalam asal-usul kita, dari mana kita berasal, nilai-nilai yang ditanamkan, dan apa yang menjadi cita-cita dari para pendahulu kita, baik yang sudah mereka capai ataupun yang belum tercapai.
Pada saat itu, orang kulit hitam masih menganggap kehidupan mereka akan menjadi lebih baik jika menjadi seorang kulit putih. Banyak kisah-kisah tentang isu ras di berbagai media, seperti orang-orang kulit hitam yang memutihkan kulitnya. Sejak kecil Obama menyadari adanya diskriminasi pada kaumnya. Namun saat itu ia tidak tahu bagaimana menyikapinya. Ketika lulus kuliah, ia mulai merintis perjalanan karirnya. Obama sempat menjadi seorang pekerja sosial, membantu orang-orang di sekitarnya yang memiliki permasalahan berbeda-beda. Hal ini memberikan pelajaran berharga baginya, membuat Obama belajar mengenai permasalahan sosial di masyarakat, dan berusaha untuk menemukan jalan keluarnya.
Melalui buku ini, kami mempelajari bagaimana kepribadian seorang tokoh besar seperti Obama dapat terbentuk. Cukup menarik mengetahui bahwa Obama tidak lahir dari keluarga yang dekat dengan dunia politik Amerika, namun dapat mengembangkan karirnya di bidang itu dengan sukses. Masa kecil dan remajanya juga tidak sesempurna yang kami bayangkan, seperti dalam salah satu bab di mana Obama remaja diceritakan mengalami masa pemberontakan, mengisap ganja, minum minuman keras, dan tidak memiliki cita-cita yang jelas untuk masa depannya. Hal ini sangat berbeda dari bayangan kami yang mengira bahwa tokoh-tokoh sukses pasti memiliki tekad yang kuat sejak kecil.
Dalam salah satu bab juga diceritakan bahwa Obama sempat skeptis dengan kegiatan-kegiatan politik di kampusnya, hal ini menunjukkan bagaimana minat seseorang terhadap suatu bidang tidak terbentuk secara instan. Kami jadi tahu bahwa menjadi sukses itu membutuhkan proses yang panjang dan penuh kerja keras, apalagi bagi yang memiliki keterbatasan seperti Obama. Membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk meyakinkan orang lain, bahwa ia mampu menjadi salah satu dari jajaran orang sukses. Tentunya melewati berbagai macam perjuangan dan berbagai rintangan untuk melewati kesulitan tersebut demi menggapai sebuah kesuksesan.
Autobiografi ini tidak hanya membahas kisah hidup Obama, namun juga isu yang lebih luas, yaitu rasialisme. Hal ini membuat kami menyadari pentingnya sebuah autobiografi untuk memahami isu-isu dalam masyarakat. Meskipun topiknya cukup berat, buku ini disajikan dengan menarik sehingga tidak membosankan bahkan bagi kami yang jarang membaca buku sejenis. Bahasa yang digunakan juga cukup mudah dimengerti, Banyak topik-topik yang cukup asing bagi kami, seperti politik di Amerika, namun diceritakan dengan ringan sehingga dapat dipahami oleh orang awam, membuat kami makin bersemangat membacanya. Banyak kisah yang membuat kami kagum pada Obama, menjadikan buku ini menyenangkan untuk dibaca.
Buku ini juga cukup membangkitkan emosi, terutama di akhir bab buku ini yang mengisahkan ayah Obama yang pantang menyerah. Awalnya kami memiliki kekesalan pada Ayah Obama ini yang di bab awal dikisahkan sudah meninggalkan Obama di usia 2 tahun. Kami kira ia meninggalkan Obama karena meninggalkan tanggung jawabnya. Namun rupanya ada alasan tertentu di balik keputusannya, ia bermaksud untuk memperbaiki kehidupannya yang saat itu mengalami kekurangan.
Kami sangat merekomendasikan buku ini, khususnya bagi yang kurang memiliki kepercayaan diri. Buku ini dapat memberikan pelajaran bahwa kekurangan fisik bukanlah penghambat suatu keberhasilan, namun justru dapat dijadikan kelebihan. Seperti yang Obama telah lakukan, yaitu berupaya untuk terus percaya pada dirinya, bahwa ia mampu sejajar dengan orang-orang kulit putih walaupun menghadapi diskriminasi akibat fisiknya.