Berawal dari Kelas Inspirasi Cirebon yang diadakan pada 18 Agustus 2015, saya mengenal sosok Pak Djuhartono. Beliau merupakan pensiunan perawat yang bertugas di Bontang, Kalimantan Timur. Saya sangat terkejut ketika pertama kali mendapat kabar bahwa beliau tinggal di desa Dompyong Wetan, tetangga desa saya, Dompyong Kulon. Rasa penasaran pun membuncah. Akhirnya saya memutuskan untuk bermain ke rumah beliau bada Magrib. Bukan tanpa sebab saya ke sana bada Magrib. Pasalnya Pak Dju bilang kalau anak-anak biasanya mulai belajar di sana selepas Magrib. Masih terngiang di kepala saya saat pertama kali ke rumah beliau. Karena ketidaktahuan saya, saya ke sana pada hari Sabtu. Sesampainya di sana ternyata tidak ada anak-anak sama sekali. Bukan karena anak-anak malas untuk belajar, tetapi ternyata setiap hari sabtu (read: malam Minggu) kegiatan belajar pun mengaji diliburkan. Akhirnya saya malah berbincang dengan Bapak dan Ibu Djuhartono (istri beliau yang sangat cantik). Mereka berdua sangat baik. Mereka tak segan untuk berbagi cerita, bahkan tentang kisah hidup mereka, bagaimana pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya memutuskan menikah dan menjalani hidup sampai sekarang. Saya salah satu fans mereka! Sungguh.
Bersama anaknya, Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama yang lebih senang dipanggil Fikri, beliau mendirikan rumah baca yang berlokasi tepat di belakang rumah. Halaman Belakang. Ya, Halaman Belakang merupakan sebuah ruang terbuka yang sengaja dibangun sebagai tempat membaca, bermain, serta belajar. Banyak buku yang berjajar cukup rapi di Halaman Belakang. Anak-anak diperbolehkan meminjam buku yang mereka sukai kapanpun. Oh ya, Pak Dju pernah memberikan jadwal belajar Halaman Belakang, agar saya tak salah jadwal lagi katanya. Hehehe. Belajar dilaksanakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Minggu, Selasa, dan Kamis adalah jadwal mereka mengaji. Sedangkan Sabtu adalah jadwal untuk bermalam Minggu. Anak kecil juga tau itu mah, fit -.-
Biasanya anak-anak yang datang ke Halaman Belakang adalah anak usia SD. Di sana mereka mengaji bersama Mang Dul, tetangga yang sengaja diundang Pak Dju untuk mengajari anak-anak mengaji. Untuk belajar, biasanya dilakukan sendiri oleh Pak Dju dan atau Mas Fikri. Setelah diberi jadwal, saya pun kembali ke sana selepas magrib pada hari Senin. Dan benar, di sana saya ditunggu oleh anak-anak. Sekitar 8-10 anak sedang belajar bersama Pak Dju. Saya pun dikenalkan oleh Pak Dju dengan panggilan Kak Fitri. Antusiasme mereka, anak-anak, saat bertemu orang baru sangat luar biasa. Tak percaya? Coba saja!
Saat itu saya berpikir, mungkin ini jalan yang Allah berikan kepada saya untuk menggapai salah satu impian saya yang juga ingin memiliki sejenis rumah belajar. Impian yang saya tuliskan pada resolusi tahun 2009 sekarang mulai menemukan pencerahan. Banyak sekali cita-cita yang ingin saya wujudkan terkait dengan pendidikan di Indonesia. Saya ingin memiliki yayasan yang di dalamnya terdapat sekolah dari jenjang PAUD hingga universitas, yang tentu saja gratis bagi anak-anak yang kurang beruntung. Lah kok malah jadi curhat, fit? Maafkan ya hahaha.
Hari berikutnya saya kembali ikut belajar di sana, iya di Halaman Belakang. Anak-anak yang datang semakin ramai. Sambutan yang dilakukan anak-anak untuk saya pun sudah sangat berlebihan. Sedikit cerita supaya lebih rinci. Saya ke Halaman Belakang menggunakan Scoopit (Scoopy Pipit. Duh penting banget ya dijelasin? Iya. Hahaha). Sesampai saya di parkiran, anak-anak langsung menghentikan aktifitas belajar di Halaman Belakang untuk menuju parkiran di mana saya baru datang tadi hanya untuk menyapa saya, salim, kemudian mereka bersama-sama berjalan menuju Halaman Belakang melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda. Berasa jadi artis. Hahaha maaf ya kalau saya sedikit berlebihan, tapi memang begitu keadaan sebenarnya. Dua hari saya mampir ke Halaman Belakang, rasanya saya seperti sudah memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anak.
Saat mengerjakan soal yang sedikit sulit mereka pasti akan berteriak “Abaaang, nu ieu kumaha caranaa?” yang artinya “Abaaang, kalo yang ini gimana caranya?” atau “Abaaang, carana kieu lain?” yang artinya “Abaaang, caranya begini bukan?” hahaha lucu, menurut saya. Pasalnya yang mereka panggil dengan sebutan Abang itu adalah Mas Fikri, anak sulung Pak Dju yang tampilannya sangat emm tak usah saya jelaskan ya, tapi dia baik kok. Ya bisa dibilang muka sekuriti, hati helo kitty. Hahaha
Seiring waktu berlalu, anak-anak yang belajar di Halaman Belakang pun semakin lama semakin banyak. Mas Fikri, yang berikutnya akan saya tulis dengan Abang, memberikan ide agar kelasnya dibagi menjadi beberapa kelompok. Repot juga kalau harus mengurus anak sebanyak itu dalam satu ruangan yang tidak terlalu besar, terlebih lagi karena keaktifan mereka saat belajar. Akhirnya diputuskan untuk kelas I dan II belajar pada hari Senin, kelas III dan IV belajar pada hari Rabu, dan terakhir kelas V dan VI belajar pada hari Jumat. Namun, terkadang masih saja ada yang salah jadwal, bahkan ada yang tetap datang hampir setiap hari.
Hmm mau ngetik apa lagi ya? Ada baiknya saya sudahi dulu tulisan ini. Takut kamu bosan. Insya Allah akan saya lanjutkan, itu pun kalau tidak malas. Hehehe
Sampai jumpa!