Usia Mengajari Mengerti
Kamu termasuk kaum yang mana? Apakah kaum yang mengerti atau justru sebaliknya kaum yang tak mau mengerti. Tahu tidak sebenarnya kita itu memiliki kekasih yang sangat setia. Mungkin jauh sebelum mendengar gombalan-gombalan cinta.
Sepertinya semua orang tahu siapa yang pertama kali menangis bahagia saat kelahiran kita. Bapak dan ibu kita tentunya. Ada juga yang turut berbahagia dan mendendangkan doa, yaitu para saudara dan tetangga. Tetapi tahukah kamu, ternyata ada juga yang bahagia sekaligus berduka. Nahh, itulah kekasihmu.
Diusiaku yang ke dua-dua aku mendapat nasehat dari kekasihku itu. Dan hari ini ijinkan aku membaginya dengan kalian. Kurang lebih seperti ini nasehatnya:
“Aku bahagia kau selamat ke dunia, itu artinya kamu adalah insan terpilih yang akan menggemban tugas-tugas penting. Bukankah Tuhanmu pernah berfirman “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Namun bagaimana mungkin kau akan menjadi khalifah jika masih menjadi kaum yang tak mengerti. Disitulah aku berduka, sebab kebanyakan orang yang lahir lebih dulu darimu menjadi kaum yang tak mengerti. Mereka lupa pada kekasih-kekasihnya.
Pertama ijinkan aku memperkenalkan diri. Perkenalkan aku adalah Usia. Yahh meskipun sebagian kaummu memanggilku dengan sebutan Umur, tapi aku lebih suka jika dipanggil dengan Usia. Kenapa? Karena aku pun memiliki telinga, juga memiliki rasa yang lebih senang dipanggil dengan nama yang paling aku suka.
Dan di duniaku, sebutan kedua adalah panggilan khusus untuk para tetua, yaitu mereka yang sudah berusia. Dalam bahasa kalian mungkin sama dengan sebutan kakek nenek. Aku masih sepertimu, belum setua itu. Sekali lagi panggil aku dengan nama usia, bukan yang lain.
Kedua ijinkan aku memberi alasan kenapa aku adalah kekasihmu. Kamu tahu makna terdalam dari kata kekasih? Kekasih bermakna kebaikan yang diberikan tanpa berharap balas kasih. Sebagai contoh, ibumu memberi ASI terbaiknya sampai kamu berusia 2 tahun, memberi kasih sayang, mendidikmu dengan kurikulum terbaik, dan mulai melepasmu agar menjadi insan mandiri saat beranjak dewasa. Itulah kekasih.
Namun semua itu tak akan pernah terjadi jika Tuhan tak memerintahkan padaku untuk selalu membersamaimu. Sampai kamu menjadi kakek nenek sekalipun aku akan setia. Pernahkah aku meminta balasan darimu? Heyy..jika kekasih adalah kebaikan yang diberikan tanpa berharap balasan. Bukankah aku kekasihmu juga?
Bersyukur? Ahh, bagaimana mungkin kalian membalas kebaikan itu, sekedar mengucapkan terima kasih saja enggan. Benar saja jika sang Pencipta menyebut kaummu sebagai kaum yang pelupa. Lupa pada kekasih-kekasihnya. Salah satunya aku, usiamu hidup di dunia.
Ketiga ijinkan aku menyampaikan satu rahasia. Jika di dunia kalian setiap orang memiliki dua usia, yaitu usia kronologis dan usia mental. Begitu juga di duniaku, kami memiliki dua usia yaitu “usia yang dinyatakan” dan “usia yang ditentukan”.
“Usia yang dinyatakan” adalah penamaan atas usia kami. Tidak seperti di dunia kalian jika usia seseorang dinyatakan dengan angka-angka. Enam tahun, tujuh belas tahun, dua puluh tahun, atau 22 tahun. Tapi di duniaku, usia dinyatakan dengan kebaikan. Kebaikan pada Tuhanya, pada orang tua, dan pada sesama. Jadi meskipun kita lahir dalam waktu yang sama belum tentu memiliki usia yang sama. Mungkin saja saat ini usiamu sudah dua puluh tahun, akan tetapi bisa saja aku baru berusia sepuluh tahun. Bagaimana bisa? Yah bisa saja, sekali lagi usiaku dihitung atas kebaikan. Mungkin hanya sepuluh tahun waktu yang aku gunakan untuk kebaikan. Sedang sepuluh tahun sisanya aku sia-siakan untuk keburukan.
Sedangkan “usia yang ditentukan” adalah batas masa hidup kami. Namun perhitungan usia yang ditentukan antara di duniaku dengan di duniamu sungguh berbeda. Jika tahun ini kamu berusia dua puluh tahun maka tahun depan kamu akan berusia 21 tahun, begitu seterusnya. Dengan bertambahnya tahun usia kalian semakin bertambah. Sedang di duniaku justru sebaliknya, usia kami dihitung semakin berkurang. Jika usia yang ditentukan untuk ku adalah lima puluh tahun dan tahun ini usiaku dua puluh tahun, maka masa hidupku tinggal tiga puluh tahun. Dan tahun depan usiaku tinggal 29 tahun, begitu seterusnya.
Dampaknya adalah cara kami memperingati usia. Jika kalian merayakannya dengan bernyanyi dan tertawa maka kami lebih banyak menangis. Sebab berkurang juga waktu untuk melakukan kebaikan, dan lagi lebih banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Keempat ijinkan aku memberimu nasehat. Nasehat ini aku dapatkan ketika melihat film-film superhero. Seperti ini katanya, “Terimalah sesuatu yang tidak dapat kau ubah, dan beranilah mengubah sesuatu yang dapat kau ubah”.
Tentang masa lalu. Teperti apa masa lalumu, bagaimana kesedihanmu, gelapnya jalanmu, mereka semua adalah masa lalu. Kau tak punya kuasa untuk mengubahnya, namun masih ada waktu untuk memperbaikinya. Berbeda dengan masa depan, karena tak ada dinding yang menghalangi untuk berkembang selain dinding ketakutan. Olehnya beranikan dirimu untuk mengubah masa depanmu. Namun jauh lebih penting daripada itu, berdoalah pada Tuhan agar memiliki kebijaksanaan untuk dapat membedakan mana yang dapat kau ubah dan mana yang tidak.
Kelima ijinkan aku memberimu sebuah pesan. Sesungguhnya setiap orang itu penting, walaupun terkadang ada satu dua yang terlihat lebih hebat daripada yang lain. Sungguh mereka yang hebat tak pernah menganggap dirinya hebat. Buktinya, banyak orang hebat yang tak terdokumentasi. Pesanku adalah anggaplah dirimu hebat dan penting dalam setiap momen. Dan abadikan momen-momen indahmu. Dalam sebuah foto atau gambar, mungkin juga dalam tulisan. Kelak, jika ada yang mencarimu mereka akan lebih mudah menemukan dan mengenangmu.
Itu saja, rasanya dari tadi aku sudah terlalu banyak bicara. Sekarang apa kamu sudah mengerti siapa kaum yang mengerti itu? Dalam kalimat sederhana mereka adalah yang memahami bahwa “Setiap manusia itu rugi, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati kebenaran dan kesabaran”.














