dari dinding bercorak derita
ku sampaikan nestapa pujangga yang tak lagi mampu bersajak
matanya penuh dendam
bibirnya bergumam
tangannya bergetar
akalnya menumpul
sajak-sajaknya tak mampu lagi meluapkan isi hatinya
tubuhnya diserbu ribuan cambukan kehidupan
hatinya buta, rasanya enyah, cintanya pudar
...
gemintang, riak, dawai, jentaka
tak lagi membisikan narasi yang elok menawan
pujangga, ia ditawan oleh abdi dunia
kepalanya penuh ocehan yang membutuhkan validasi
langkahnya penuh rintangan yang seharusnya tak menghalang
pujangga, ia menggores tubuhnya sadis
sakit tak lagi terasa, merana menetap dalam jiwanya
ia lelah lemah mengendong ribuan pelangi yang diharapkan menghiasi mawar melati meski tak hujan turun
...
menyalahkan manusia lain oleh karena egonya
merusak kepercayaan karena caranya
menikam dirinya,
menghujat tubuhnya sebelum jasad
memperkosa kata kata yang membantunya bersajak
...
pujangga, mati berbaring pada dinding bercorak
menuliskan pesan terakhir untuk para pengenal
"aku tidak mati dengan tangan ku sendiri, namun saja jiwaku mengajak mati dengan seksa, selamat tinggal tubuh yang kuatnya mengalahkan dunia, kau usai dengan tak layak, aku pun begitu, berkesudahan dengan kecewa."
dinding bercorak menangis terisak dibisiki tragisnya napas pujangga,
Daik, 26 Oktober 2024













