Berani.
Acara pernikahan merupakan acara yang membuat hatiku berbunga-bunga. Salah satunya adalah karena banyak sekali orang-orang yang berbahagia di saat itu. Bukan hanya sang pengantin, tapi juga para anggota keluarga besar yang akhirnya kembali bertemu setelah mungkin berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tidak pernah berkumpul kembali. Aku sering mendapati diriku tersenyum lebar melihat kerabat, kenalan yang saling tertawa dan menyapa hangat satu sama lain.
Di sisi lain, kerap muncul pertanyaan yang sama ketika aku menghadiri pesta pernikahan.
Kapan menyusul?
Apakah sudah ada calon?
Kenapa belum menikah?
Dsb
Jujur, aku tidak terlalu memusingkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Terkadang orang tidak tahu apalagi yang harus dibicarakan, sehingga muncullah pertanyaan-pertanyaan "usil" tersebut.
Tetapi, ada satu pertanyaan yang menggelitik yang dilontarkan seseorang yang tidak begitu aku kenal tapi kami sudah bertemu beberapa kali.
Seperti yang lainnya, dia bertanya, "Kamu sudah punya calon?" Dan aku jawab "Belum."
Kemudian dia melanjutkan, "Belum ada yang berani ya?"
Aku tertegun, dan kemudian menjawab, "Sepertinya begitu."
Belum ada yang berani.
Komentar yang menarik.
Analisa yang menggelitik.
Membuatku mendapatkan sudut pandang yang baru.
Pernikahan itu memang dilakukan oleh orang-orang yang berani.
Berani berkenalan, berani menjalani proses yang baik, berani memantapkan diri untuk melanjutkan proses perkenalan ke jenjang yang lebih serius, berani mengambil risiko kegagalan, berani menghadapi realita pahit yang tidak sesuai dengan angan yang dibuat. Berani mengajak sosok yang dia rasa baik, yang dia kagumi, yang dia pikir dapat menjadi partner hidup yang dapat berjalan bertumbuh bersama.
Mungkin saat ini aku masih belum bertemu dengan orang yang berani tersebut.
Tapi, tidak apa. Karena aku pun sedang memupuk keberanianku.
Hai, semoga keberanian kita segera bertemu.










