Aku yang pertama, kamu yang terakhir
Suatu ketika ada perbincangan singkat di chat whatsapp.
A : Ibu, maaf ya mas belum bisa pulang sekarang.
I : Iya mas, segera pulang ya jika sudah selesai semuanya. Bapak sama ibu kangen banget sama mas, kalo bisa sempatkan buka puasa dirumah bareng ya mas.
A : Iya bu, In shaa Allah mas pulang. Salam buat bapak sama adek dirumah.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Dulu, aku begitu menikmati saat saat dimana bisa selalu bersama setiap sore untuk membasahi mulut dengan teh manis dan es buatan ibu, dan menunda lapar dengan gorengan “simpel” sisa jualan ibu. Sampai akhirnya makan bersama setelah selesai shalat tarawih.
Sayangnya, semakin lama moment moment tersebut sudah sangat jarang kunikmati. Kebersamaan yang selalu kami nikmati di bulan ramadhan seperti ini, perlahan mulai sirna dengan kesibukan kesibukanku yang terkesan “dibuat - buat”.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku teringat dengan sebuah kisah singkat,
Saat seorang pemuda meminta izin kepada Rasulullah untuk berjihad. Kemudian Rasulullah menjawab permintaan anak tersebut dengan sebuah pertanyaan “simpel”
‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’
‘Maka kepada keduanya, hendaklah kamu berbakti’
------------------------------------------------------------------------------------------------
Dibandingkan dengan jihad, bahkan Rasulullah pun mengarahkan untuk mendahulukan mengurusi orang tua. Apalagi ini, yang hanya kesibukan “yang dipaksakan”.
Setiap orang tua yang baik selalu mendahulukan anak anak nya dibandingkan dengan kepentingan kepentingan pribadinya, dan apakah seharusnya setiap anak yang baik selalu mendahulukan orang tua nya dibandingkan urusan urusan pribadinya (?) #PertanyaanMenarik
Banyak orang mencoba untuk memperbaiki kondisi orang orang diluar sana yang belum tentu dia kenal, tetapi sayangnya banyak orang yang lupa untuk memperbaiki kondisi keluarga dan kerabat terdekatnya terlebih dahulu, terlebih adalah kedua orang tuanya.
“Kita mencoba untuk memperbaiki bacaan Al - Qur’an orang orang diuar sana, apakah kira kira bacaan orang tua kita dirumah sudah baik?”
“Kita mencoba untuk mengajak para wanita diluar sana untuk menggunakan hijab dengan baik, apakah kira kira ibu dan adik perempuan kita sudah menggunakan hijab dengan baik?”
“Kita mencoba untuk mengajak orang orang untuk sholat berjamaah di masjid, apakah kira kira ayah kita sudah mau sholat berjamaah di masjid?”
Sedih sekali dimana setiap anak ini selalu menjadi prioritas utama dari orang tuanya. Setiap selesai shalat, setiap orang tua yang baik selalu mendoakan anaknya. Apakah kira kira anak yang baik selalu mendoakan orang tua nya ya setelah sholat? dibandingkan mendoakan yang katanya “pendamping yang akan mendampingi nanti”
Maaf ya, bapak dan ibu. Jika selama ini kalian selalu menjadikanku sebagai yang pertama. Dan maaf, jika selama ini aku selalu menjadikan kalian sebagai yang terakhir.
Sekian kawan, titipkan salamku untuk orang tua kalian dirumah :)