Forgiveness Project #10: Bersediakah Kamu Memaafkan Sekali Lagi?
Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Kesedihan kemarin yang kamu ceritakan itu, masih memberatkan hatimu, kah? Tenang, aku tidak ingin memaksamu untuk terburu-buru berlalu dari perasaan itu. Jika memang masih terasakan, tidak apa-apa. Kita belajar melewatinya bersama-sama, ya! Bagaimana pun, tak pernah ada jalan pintas untuk memaafkan. Semua butuh ruang, waktu, dan boleh jadi proses yang panjang. Tidak apa-apa. Nikmati saja dulu, namun tetap niatkan untuk tidak berlama-lama berada disitu. Kita sama-sama tahu kan bahwa kita punya banyak tugas dan peran yang harus kita tunaikan? Kita juga sama-sama tahu kan bahwa perasaan tidak layak menjadi imam yang menavigasi kehidupan?
Melihatmu yang seperti ini sekarang, aku sempat ingin mengatakan bahwa ini bukanlah dirimu yang sebenarnya, yang kukenal biasanya. Aku tak kenal dengan responmu yang tak kuduga itu. Aku juga tak pernah melihat raut wajahmu yang ditekuk seribu seperti itu. Namun, sejurus kemudian aku tersadar bahwa setiap kejadian sejatinya mempertemukan seorang manusia dengan pengenalan dirinya yang lebih dalam, lagi dan lagi. Aku pun sadar bahwa saling mengenal apapun dan siapaun memang bukanlah pekerjaan sehari semalaman, butuh waktu yang panjang. Maka, bagiku, dirimu yang sedang begini sekarang ini bukanlah orang lain. Ini dirimu juga, yang tetap selalu layak dipeluk dengan doa-doa baik setiap harinya.
Hmm, jika aku jadi kamu, mungkin aku pun akan berkali-kali menarik napas panjang setiap kali aku mengingat hal yang baru saja terjadi itu. Betapa tidak, hal yang sedang kamu hadapi itu, oke, setiap orang pasti sepakat bahwa itu tidak mudah. Ah, lagi-lagi aku tidak ingin mengajakmu berlari. Kita berjalan saja, ya? Sambil berjalan, ingin kusampaikan sesuatu kepadamu.
Pernah sebelumnya, hatimu menjadi seluas lautan dan langit. Kamu memaafkan siapapun yang menyakitimu, mengikhlaskan apapun yang lepas dari genggamanmu, merelakan segala sesuatu yang berjalan tak bersesuaian dengan inginmu, dan mempercayakan kebaikan pada ketetapan penciptamu. Atas seizin-Nya, semua terlalui dan bahagia itu nyatanya tidak bisa tersembunyi lagi. Maka, atas segala yang terjadi hari ini, bukankah hatimu bisa menjadi seluas lautan dan langit lagi? Bersediakah kamu melakukannya sekali lagi?
Pernah sebelumnya, langkahmu menjadi setegap barisan prajurit-prajurit. Langkah itu tidak berhenti, sekalipun di perjalanan kamu temukan seseorang yang dengan sengaja melempar duri; bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Hatimu memahami bahwa langkah prajurit tidaklah pernah berhenti, hingga semangatmu kian mewujud dan lelahmu tersembunyi. Atas seizin-Nya, perjalanan itu selesai, langkah itu telah sampai. Maka, jika hari ini perjalananmu menerjal, bukankah langkahmu bisa menjadi setegap prajurit lagi? Bersediakah kamu melakukannya sekali lagi?
Pernah sebelumnya, caramu berpikir menjadi sejernih embun-embun pagi: menentramkan dan menenangkan gelombang yang pasang silih berganti. Tak peduli kekacauan apa yang tengah terjadi, di dalam kepalamu tetap terletak damai dan tenang, sebab hatimu memahami bahwa persepsimu tentang segala sesuatu adalah sebentuk tanggung jawab pribadi. Atas seizin-Nya, kerumitan telah terurai tanpa tersisa lagi. Maka, jika hari ini kekacauan itu meledak-ledak di pikir, hati, dan bahkan kelopak matamu, bukankah pikirmu tetap bisa sejernih embun pagi lagi? Bersediakah kamu melakukannya sekali lagi?
Seperti sebelum-sebelumnya, manusia dengan kebaikan hati seluas lautan langit sepertimu ini selalu rela memaafkan apapun yang tak bersesuaian dengan hatinya. Maka, untuk yang ini, meski kutahu ketidakmudahannya nyata, bersediakah kamu untuk memaafkan sekali lagi?