Kebahagiaan Kiasan ala Mersault
Saya memasukan “Mati Bahagia” ke dalam daftar list buku yang harus dibaca saat bulan bermalas-malasan kemarin. Saat menanyakan ke salah satu tempat penjual buku di balubur, ternyata sudah habiiss. Tapi entah, beberapa hari kemudian, bertemu kawan di sebuah tempat nongkrong dan berbincang hingga nyambung ke Camus, hingga berbicara melantur sesukannya dan ternyata ia punya buku itu, saya meminjamnya dan ia memberikannya. Jadi saya tak usah membelinya, pertama memang lagi bokek, kedua duitnya keseringan dipake udunan dan ketiga tabungan recehan saya ini tak banyak-banyak.
Novel “Mati bahagia” ini diterbitkan setelah Camus meninggal pada tahun 1961. Ia juga dianugrahi penghargaan Nobel kesusastraan pada tahun 1957. Yang menarik dari novel ini ditulis ketika ia masih muda (umur duapuluhan) dan diterbitkan ketika ia sudah tiada. Disini Camus lebih banyak menampilkan tentang dirinya berbeda dengan karya yang lainnya, dan menjadi representasi tentang segala pandangan hidup, cinta, manusia dan kesehariannya. Diceritakan Mersault dalam kisah ini bisa dikatakan sebagai tokoh utama dalam setiap alur cerita. Kisah perjalanan hidup Mersault dipertemukan dengan berbagai tokoh yang menjadi alur cerita bagaimana Mersault memandang dunianya. Menurut Nirwan Derwanto yang menulis kata pengantar untuk Novel ini, “Mati Bahagia” adalah novel filsafat yang berbulu sastra, dan begitu tebalnya bulu tersebut sehingga kita tak lagi merasakan di sebaliknya. Bahkan filsafat Camus adalah sebuah anti-filsafat: sebuah dunia gagasan yang langsung maupun tidak, melawan segala pemikiran bersistem. Dan jika pemikiran-bersistem ini boleh dianggap sebagai pemikiran yang totalitarianisme, baik yang kiri maupun kanan, maka cerita fiksi Camus adalah sebuah kisah moral yang subversif.
Dalam Novel ini kisah cerita terbagi menjadi dua bab, yang pertama berjudul “mati wajar” dan kedua “mati sadar.” Dalam cerita “mati wajar,” sebenarnya itu ditujukan bagi Zagreus, yaitu orang yang Mersault bunuh.Mersault mengenal Zagreus karena dikenalkan oleh Marthe, ialah kekasih Mersault dalam cerita di plot awal.Dikarenakan Mersault yang memaksa bertanya tentang mantan-mantan Marthe siapa saja. Karena Mersault hanya penasaran saja dan takut jika mengenal mantan-mantan Marthe tersebut, ternyata sebagaian besar Mersault mengenalnya dan yang tak ia kenal hanya Roland Zagreus tersebut, maka ia ingin menemuinya dan berbincang dengan Zagreus yang tak mempunyai kedua kaki.
Dalam cerita di bagian “mati wajar” ada beberapa plot yang secara sengaja di acak, seperti yang diceritakan di bab pertama, dimana cerita tentang pembunuhan Roland Zagreus dijelaskan di awal bab. Menariknya dari cerita tentang pembunuhan itu diceritakan dalam perspektif yang menggambarkan suasana saat-saat awal terjadi pembunuhan sampai akhir dan saat Mersault telah mendapatkan uang itu didalam kopernya. Jadi cerita bab pertama tersebut adalah bagaimana penggambaran kejadian kematian Zagreus yang Mersault bunuh pada kejadian di cerita bab “mati wajar.”
Kisah keseharian dan rutinitas kerja pada awalnya menjelaskan tentang bagaimana Mersault hidup tetap seperti pada biasanya bagaimana kehidupan orang umumnya, hingga ia merasa seperti bosan dan pergi melakukan petualangan untuk meraih kebebasan dirinya. Mersault tidak diidentikan dengan beberapa identitas, awalnya ia hanya pekerja biasa dan penggambaran tentang manusia yang menjalani rutinitas keseharian yang asing dan bekerja untuk menyambung hidup, walau tak banyak sekali yang diceritakan di plot tersebut.
Lalu kisah percintaannya dengan Marthe, Mersault seperti tergoda oleh keangkuhan kecantikan yang dimiliki Marthe, seperti mematikannya. Marthe adalah seorang juru ketik, ia tidak mencintai Mersault tetapi merasa terikat padanya, karena ia membuatnya tertarik dan tersanjung. Dalam kisah percintaan mereka, penggambaran ekspresi emosi mereka sangat terasa, karena percakapan yang ditampilkan serta kisah-kisah romantis mereka digambarkan secara menarik.Mungkin dalam Novel ini mengenai kisah percintaan Mersault, hanya dengan Marthe saja mereka diceritakan cukup panjang mendetail mengenai kisah awal cinta dan pertemuannya, walaupun akhirnya Marthe ditinggalkan oleh Mersault.
Memasuki bagian dua (Mati Sadar) Mersault menjalani kehidupannya untuk lebih mempersempit ruangnya, ia lebih banyak menikmati kesendirian dan kehampaannya, bepergian dari suatu tempat ke tempat lain. Selama beberapa saat di Praha ia cukup menikmati hidupnya, bertemu orang baru, ritme baru, keseharian yang berbeda dan merasakan setiap detik hidupnya. Hari-hari yang sama dengan berikutnya, Mersault merasa sudah tak memiliki kampung halaman lagi. Dalam Kesendirian yang tanpa gairah, perjalanannya ini seakan menjadi begitu terasingnya, selain berpetualang dengan hal baru untuk hanya memiliki perasaan yang samar akan hilangnya sesuatu. Di bagian “Mati Sadar” Mersault banyak melakukan petualangan emosionalnya di tempat yang berbeda-beda tetapi masih pada tubuh yang sama. Sehingga sesampai di Breslau dan ia menuju ke selatan, menuju Wina.Setelah sampai besoknya di Wina ia tiba-tiba teringat kedua sahabatnya (anaknya)di Aljazair, akhirnya limpahan kesendiriannya ia tulis melalui kertas surat. Dan beberapa hari setelah itu, Mersault menerima sebuah surat balasan. Saat itu pun ia memutuskan untuk kembali menuju Aljazair, bertemu kedua anaknya Rose dan Claire.
Mersault telah kembali ke Aljir dan tinggal bersama anaknya, serta Cathrine dan Garcon.Mereka tinggal di, Rumah di Hadapan Dunia, begitu mereka menyebutnya, bukanlah rumah di mana mereka menghibur diri, melainkan rumah di mana mereka berbahagia.Mereka hidup bersama dengan setiap perbedaan dalam kepribadian masing-masing, mereka memiliki keunikan tersendiri dalam dirinya sendiri.Hidup berbahagia di sebuah tempat di puncak bukit. Hubungan mereka harmonis, saling mengisi dan memahami satu sama lain. Dan setiap harinya mereka juga saling berbagi tugas, untuk yang menyiapkan makanan dan urusan dapur, kadang mereka juga menghabiskan waktu dengan memanjakan diri berjemur di hadapan dunia. Mersault di bagian “mati sadar” menjalani kisah percintaan sederhana yang mendalam, dengan seorang perempuan bernama Lucienne, ia bertemu di tempat seorang temannya, dan Lucienne menjadi kekasih terakhir Mersault.
Suatu ketika Mersault pergi meninggalkan Aljir menggunakan mobilnya, melakukan perjalanan seorang diri, ia yakin bahwa perjalanan membuat hidupnya menjadi asing. Sehingga saat kembalinya lagi di Aljir, Mersault berniat untuk membeli sebuah rumah kecil di antara gunung dan laut, dan memutuskan untuk meninggalkan Rumah di Hadapan Dunia.Ia hanya ingin tinggal di rumah barunya itu hanya seorang diri, dan ia meminta Lucienne untuk tetap tinggal di Aljir, dan mengunjunginya kala ia membutuhkannya. Dalam percakapan dengan Cathrine, Mersault berkata, “ aku tidak ingin dicintai, Cathrine sayang. Cinta dapat mencegahku meraih kebahagiaan.” Dalam bagian ini Mersault seperti ingin meraih kebahagiaan yang seluruhnya terpusat dari dalam dirinya, menurutnya kebahagiaan seperti itu pilihan dirinya dan ia akan mempertahankan pilihan kebahagiaannya itu. Layaknya lansia yang ingin merayakan kebahagiaan dan kematian di umur-umur akhir hidupnya. Mersault tinggal di rumah antara gunung dan laut tersebut, ia menemukan kehidupan barunya di suatu desa tersebut, mengenal wajah-wajah baru seperti Bernard, pemilik café, Morales dan perez. Di sebelum akhir Rose, Claire dan Cathrine sempat mengunjungi Mersault, mereka sangat menikmati pertemuan tersebut dan terjadi beberapa percakapan yang berhubungan dengan pilihan kebahagiaan Mersault tersebut, dan mereka menikmatinya sambil bertualang menuju puncak bersama-sama. Mersault di akhir-akhir hidupnya mengalami sakit yang cukup parah sempat ia pingasan tak sadarkan diri beberapa kali, tetapi disana ada dokter Bernard yang menolong, Bernard juga tinggal di sekitaran desa tersebut menjadi sahabat Mersault, sempat ada beberapa percakapan sengit yang berhubungan dengan pilihan hidupnya. Mersault katanya masih suka bertemu Zagreus orang yang ia bunuh, ia mengerti bahwa dengan membunuhnya, ia telah mengukuhkan tali persahabatan yang mengikat mereka berdua untuk selamanya. Lucienne masih suka mengunjunginya, ia di akhir hidup Mersault menjadi orang terakhir yang berada di sisinya, Mersault sambil tersenyum tanpa wajah meregang dan tersenyum tulus dari hatinya.
Setiap alur cerita dalam Novel ini banyak kisah-kisah yang dilakukan Mersault dalam menjalani kehidupannya, serta hubungan Mersault dan para tokoh manusia yang ada didalamnya, serta hubungan keseharian dan alam semestanya. Kehidupan dalam Novel ini terasa penuh dengan buah makna dalam analogi dan metafor yang disajikan dengan afeksi kata-kata gairah eksistensialis, baik itu dalam pertemuan maupun hubungan Mersault dengan keseharian, percintaan, pertemanan, keluarga dan dunianya. Mersault seolah telah menjadi karakter yang matang dan mengenal ritme dalam alur kehidupannya, maka tak aneh jika Mersault dalam menjalani kehidupannya seperti diambang dua jurang, antara keberanian dan kepengecutan melarikan diri mempersempit ruang hidupnya pergi menuju apa yang ia cintai dalam tujuannya, meraih esensi terakhir dalam setiap hidup serta rela tanpa ketakutan untuk mendapatkan mati yang berbahagia dan pemberontakan untuk dirinya.
Dan saya tiba-tiba ingat ungkapan Tolstoy untuk menutup tulisan ini, “Kebahagiaan adalah sebuah kiasan, ketidakbahagiaan adalah sebuah kisah.”
200217, Banduuuung
















