Myung melempar tubuhnya ke kasur yang ku tiduri. "Apa yang akan kita lakukan hari ini" "Tak ada" aku menggeser pinggulnya hingga terjatuh dari ranjang tidur. "Jadi kau akan seharian di rumah, LAGI" "Ish berisik" "Ayolah kita pergi" "Myung, apa kau tak khawatir dengan dirimu sendiri?" Myung terdiam, dan kembali tersenyum sembari menekan beberapa tombol untuk menelpon seseorang. Myung mengajak Amor untuk makan bersama. Malam ini dan ku tolak mentah. 'Aku tak siap untuk menerima orang baru' Aku berjalan menuju kamar mandi,mengambil sikat gigi dan menyikatnya menghadap kaca sembari malas-malasan. Hingga pandangan ku menuju tempat sampah, yang tadinya hanya ingin berkumur. Mengacak dengan kakiku, membuat tempat sampah itu jatuh bergelinding mengeluarkan beberapa kertas dan tissue membercak merah. Aku menunduk lalu terjongkok untuk melihat secara dekat dan mengambilnya. Darah. Siapa yang memiliki darah ini jika salah satunya di antara kami. "Myung" Aku bergegas mencari Myung di semua ruangan tapi tak ku temukan sosoknya, dan hanya pintu belakang yang terbuka membuatku menyusuri jejak itu. Myung membawa garbage black dan membuangnya di tempat sampah. Aku menarik bahunya untuk dapat melihatku. "Ada apa?" Kaget Myung dengan sikapku "Darah di kamar mandi apa itu?" Myung mencari alasan yang ku telak semua dan membuatnya berbicara sesungguhnya, "Sejak kau pingsan waktu itu. Aku juga pingsan." "What?" "Ku rasa aku baik-baik saja. Tapi akhir-akhir ini aku sering terbatuk tanpa alasan sampai batuk darah." "Kau sakit?" "No. Aku baik-baik saja. Hanya tenggorokan ku gatal dengan perutku" "Apa kita perlu ke rumah sakit?" "Dengan nama siapa? Dengan wajah siapa" ucapnya mengoyak hatiku. "Kau sendiri tak tau apa yang kau lakukan. Jiran ah, sudahlah aku tak apa" "Maaf, Myung" Aku mendekapnya erat. Kami putus asa, dengan apa yang terjadi. * Amor menyibukkan diri di dapur. Dengan celemek pink yang sudah lusuh berfokus pada bubur ayam yang ia masak pagi ini. Sedangkan Myung duduk di ruang tengah denganku. Myung menyodorkan semangkuk popcorn yang baru ku beli 10 menit lalu. Aku hanya mengangguk seadanya, "AMOR AH, APA TAK APA JIKA KAU TIAP PAGI KE SINI???" "Ya, lagi pula di rumahku sepi. Dan kebetulan kau sakit. Aku punya banyak waktu luang eoh!" "What??? Kebetulan??" Myung sedikit menekan kata yang Amor katakan, sembari berbalik kebelakang dengan menyandarkan sisi tangannya pada bahu sofa. "Hahaha... orang sakit tak boleh banyak emosi. Atau bubur ini akan ku makan sendiri" Yaish~ Begitulah kegiatan mereka sehari hari. "Sekalipun ia mengatakan kebetulan. Menjadi seseorang yang ada untuk orang yang sakit bukannya itu sudah seperti teman" gumam Myung menyambar telingaku. "Huh?" "Maksudku dia sudah terlalu baik dengan kita. Juga sering pergi bersama. Bahkan sekalipun bertengkar, kita juga akan baik. Pfh~ ini seperti aku merindukan Naran" Mataku berhenti menatap Myung yang mengomel dengan memasukan popcorn sepenuh-penuhnya pada mulutnya. Dan mengalihkan pandangan pada Amor. 'Teman?' 'Myung...' * "Kau tak tidur juga?" Jiran menggeleng sekedarnya sembari menatap langit langit ruang tamu dengan tiduran di sofa. "Okay, terserah. Kalau begitu aku pulang dulu" salam perpisahan Amor mendapat perhatian Jiran dan mengantarnya pulang. Kepulan udara nampak pada ke duanya. Menyusuri jalanan becek dengan sepatu boat dan mantel tebal. "Seharusnya kau tak perlu mengantarku. Myung yang seharusnya kau jaga" "Apa dia nampak berumur 5 tahun?" Amor mengikik dengan candaan Jiran. "Well, aku suka jika kita bisa akrab begini" Jiran menanyakan pernyataan Amor dengan sedikit menunduk mengarah pada wajah Amor. "Sejak pertama bertemu. Myung yang paling banyak bicara. Itu kenapa kita akrab lebih dari kau dan aku. Aku tau kita baru bertemu, tapi sepertinya kau sengaja menjauh atau menutup diri dariku. Aku pikir aku memiliki kesalahan atau memang aku bukan tipe teman yang kau mau. Tapi-- saat tadi kau menawarkkan diri mengajakku pulang, ku rasa kita cuma butuh proses" Jiran mengangguk,menundukkan kepalanya dan menengadah sembari mengajak Amor mampor ke cafe yang jaraknya tak jauh dari mereka. Kopi hitam dan Susu coklat menemani suasana kikuk mereka. Amor tak lagi berbicara setelah pernyataan tadi sedangkan Jiran sudah menghabiskan setengah gelas kopi dan tak kunjung berbicara. "Kau..." ragu Amor untuk menanyakan apa yang terjadi, hingga Jiran mengawali pembicaraan panjang tentang Naran. * Lima hari berlalu. Keadaan Myung semakin buruk. Panas yang tak kunjung reda bahkan Jiran tak bisa membawanya ke rumah sakit membuatnya menyalahkan diri sendiri. Jiran membuka almarinya, mengambil selimut lagi untuk Myung dan di tatanya pada tubuh Myung. "Uhuk~ kau kasih aku ini lagi?" "Jangan banyak bicara. Istirahatlah" "Hmm" Jiran pergi menutup pintu pelan. Di acak rambutnya dan jatuh terduduk dengan isak tangis yang ia tahan. Ia kembali mengusap air matanya dan pergi keluar rumah. * Seorang gadis dengan dress biru muda duduk di samping Jiran yang tadinya tertidur. Ia terbangun karena beberapa burung berkicau di bukit yang ia tempati sekarang. "Kau bangun" "Amor" "Kau kenapa?ㅡ" Jiran mendadak membelalakkan matanya menyadari jika ini bukan sungguhan. "Kau kenapa di sini huh! Apa yang terjadi?" "Bagiamana bisa" "Mana Myung?" "Mana Naran????" "Amor aah jangan katakan jika apa yang ku pikirkan itu benar" Amor hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jiran. Jiran mengambil telapak tangan Amor, menangis dengan rasa tak percaya apa yang terjadi. "Aku akan mengembalikanmu" "Kembalilah ke dunia yang sesungguhnya" "Biar aku yang di sini" Bukan perpindahan roh yang terjadi, lebih-lebih sedikit demi sedikit telapak tangan yang Jiran genggam semakin terang menyala. Semakin lama sosok ke duanya hilang tertelan cahaya. * "Permisi, nona. Kemana tujuanmu?" Seorang lelaki paruh baya membangunkan Jiran di kursi bus. Ia terbangun dan menjernihkan matanya dengan melihat semua tempat untuk mencari fokus matanya kembali. Akhirnya Jiran memutuskan untuk pergi dari bus dan kembali ke rumah dengan berlari sekuat tenaganya. Ia tak tau semua akan menjadi nyata atau tidak. Yang ia lakukan hanya kembali ke rumah dan membuktikan semua jika tak benar. Suara gebrakan pintu terdengar keras. Ia berlari menuju ruang atas. Jiran berhenti dan tak lagi berkutik untuk melangkah lagi. Air matanya semakin membasahkan sedikit kaos putih yang ia pakai. Tulang kakinya mulai bergertak tak sanggup menopang berdiri. Ia melihat Myung tertidur di kasur miliknya pulas. Begitu juga Naran. Yah, Naran. Tepat di samping Myung tertidur atau tak sadarkan diri terduduk di bibir kasur. "Na...naran" Naran dan Myung bergeliat bangun, menatap Jiran yang menarik perhatian mereka. "Jiran, kenapa berdiri di situ?" "Ada apa?" Jiran berjalan dan mengangkat Naran, menghempaskan Naran di dinding kamar dan berteriak sekencang-kencangnya yang membuat Myung ketakutan. "MANA AMOR!!! DIMANA DIAAA!!!" "A...amor siapa? Kau kenapa??? Jiran ah" "YAISH KAU!!!!" Jiran menampar Naran karena amarah yang tak terbendung. Ia memegang bahu Naran erat dan kembali berteriak, "KAU BILANG AKAN KEMBALI. KAU BILANG AKAN MEMBERIKAN AKU WAKTU. KAU KATAKAN JIKA SEMUA MENURUT CARAKUUU LALU APA YANG KAU LAKUKAN!!! KENAPA MYUNG KEMBALI BEGITU JUGA KAUUU!!! KENAPA AMORRR!!!" Mereka tertegun, hingga sedikit fokus Jiran teralihkan oleh beberapa memori yang belum pernah ia lakukan. * "Terima kasih" Jiran menunduk pada pegawai kasir setelah melayaninya. Sebuah kantong plastik berisi obat-obatan dan snack ia bawa ke rumah untuk Myung. Beberapa kali Angin menghempasnya karena cuaca tak begitu baik. Hingga ia sedikit berjalan cepat agar tak terkena sakit. Clek~ Pintu depan terbuka ia menaruh kantong plastik dan mengambil obat untuk Myung. Suara gaduh di lantai atas membuatnya berhenti melakukan aktifitasnya dan menuju kamar Myung. "Myung" "Hey" "Amor" "Kau, apa yang kau lakukan di sini?" "Bubur" Myung menyodorkan semangkuk bubur untuk menjawab pertanyaan Jiran. Amor mulai berdiri saat ia duduk tadi. Menghampiri Jiran dan memberitahunya untuk keluar dari kamar Myung. "Sudah ku katakan pergilah. Aku akan mengurus Myung" "Dengan cara apa" Jiran terdiam. "Kau biarkan ia sekarat dan Naran sedikit demi sedikit mengambilnya di hadapanmu??" "Biarkan aku membantumu Ran" "No!" "Aku sudah kehilangan Naran dan ia kembali untuk Myung. Kini aku harus kehilangan kau???berapa banyak hal yang tak bisa ku lakukan dan itu sia-sia!" "Kau bisa. Selamatkan Myung" "Kau gila!!! Sekarang kau memintaku untuk membunuhmu???" "Please Ran, ini permintaanku. Sepanjang hidup aku tak memiliki sesuatu yang berharga. Hingga kalian datang dan mengenalkannya padaku. Persahabatan tak akan berakhir hanya karna aku mati kan???" "Amor~" "Bagaimana caranya?" "Yang aku tau hanya membuat mereka bertukar tempat dengan menggenggam telapak tanganku. Tapiㅡ" Amor langsung menyambar telapak tangan Jiran tanpa basa basi. "Ku rasa ini adalah jalan dimana kita harus bertemu dengan cara seperti ini" akhir kalimat Amor membuat Jiran sedetik setelahnya terpental jauh dan tak melihat sosok Amor. Matanya meredup, tenaganya hilang dan mulai terlelap. THE END