The windmill village of Amsterdam: Zaanse Schans
Zaanse Schans - The Netherlands
Zaandam - the inntel hotel area
How they make wooden shoes
Watch the tour of Zaanse Schans & Zaandam ::
seen from South Korea
seen from United States
seen from Japan
seen from France
seen from Netherlands

seen from China

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Sweden
seen from France
seen from China
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
The windmill village of Amsterdam: Zaanse Schans
Zaanse Schans - The Netherlands
Zaandam - the inntel hotel area
How they make wooden shoes
Watch the tour of Zaanse Schans & Zaandam ::
LAWANG SEWU
berada di kota Semarang, salah satu peninggalan sejarah
Lawang Sewu adalah bekas gedung perkantoran di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Ini merupakan kantor pusat Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda dan dimiliki oleh perusahaan kereta api nasional Kereta Api Indonesia.
Flower Parade 2024 - The Netherlands, Keukenhof - the winner
Flower Parade / Bloemenparade / Blumenkorso
Flower Parade / Bloemenparade - bollenstreek - runner up
Blumenkorso, Bunte Parade - Niederlande
Bloemenparade. Keukenhof 2024
Flower Parade - Holland
Flower Parade / Bloemenparade 2024
Enjoy the full video tour of the Flower Parade 2024
Kala Belanda Tidak Mau Indonesia Merdeka
SittySharaa - Pada tanggal 7 Desember 1942 seorang Ratu Wilhelmina mengantarkan pidato kenegaraan berbahasa Inggris, dikala itu Ratu Wilhelmina mengungsi ke Inggris sebab negeri Belanda dikala itu diduduki oleh tentara Nazi. Dalam pidatonya Ratu Wilhelmina mengantarkan pujian dalam pidatonya kepada rakyat tanah jajahan Hindia
( apalagi dikala itu Ratu Wilhelmina menyebutnya Indonesia) atas kedudukannya dalam mempertahankan diri dari serbuan Jepang. Dia pula melontarkan janji manis berbentuk wujud pemerintahan baru untuk negeri- negeri jajahan sehabis Perang Dunia II berakhir. 3 tahun setelah itu PD II betul- betul berakhir serta suasana politik global telah sangat berganti.
Dikala berakhir Perang Dunia II timbul kekhawatiran kalau negeri- negeri jajahan Belanda menuntut apalagi betul- betul mendeklarasikan kemerdekaan mereka. Bukan cuma si Ratu yang takut tentang negara- negara jajahannya. Kegelisahan ini pula timbul lho noona/oppa di benak orang- orang Belanda yang makin meningkat sebab melihat kenyataan kalau dekolonisasi besar- besaran tengah terjalin di mana- mana. Hindia Belanda, tanah jajahan kesayangan, pula lagi dilamun arus dekolonisasi itu serta memerdekakan diri jadi Republik Indonesia.
Timbul dikala itu pemikiran dari elit politik Belanda kalau Belanda hendak kehabisan anak emasnya ialah Hindia. Apalagi banyak Paradoks yang timbul memandang ikatan antara Belanda serta Hindia dari tahun 1942- 1949 ataupun bisa jadi sejauh penjajahan Belanda di Indonesia timbul suatu ironi yang tanpa di sadari kelompok ini karena sudah membentuk semacam“ etik” kolonialisme: senantiasa menempatkan Belanda bagaikan Tuan Eropa yang pemurah serta memiliki misi bawa kalangan pribumi kepada alam yang lebih beradab—suatu mission civilisatrice.
" Indisch verloren, ramspoed geboren"( Hindia lenyap, kesengsaraan tiba). Suatu berita mengejutkan yang diungkapkan pers Belanda di tahun 1940an. Perasaan ini berasal dari zaman masa Perang Dunia I yang disebar luaskan oleh tersangka Onze Vloot( Armada Kita), kelompok pencinta maritim dari Belanda dari para pelaut sipil serta anggota angkatan laut. Mereka kelompok nasionalis yang berhaluan konservatif. Kala pidato saat berkumpulnya mereka yang membahas pembuatan milisi Hindia yang terkenal dengan sebutan Indie Weerbaar( Pertahanan Hindia) mulai mengemuka pada dikala Perang Dunia I meletus, kelompok itu salah satu pendukung utamanya. Mereka waspadai dengan mungkin terburuk Perang Dunia I yang dapat menimbulkan Hindia lepas. Salah satu penyokong Onze Vloot merupakan W. V. Rhemrev, perwira KNIL yang pula pendukung utama aksi Indie Weerbaar.
Semacam yang noona/oppa tahu Negara Belanda saat itu mengkolonialisasi Indonesia, Indonesia ataupun Hindia Belanda dikala itu jadi pusat pemasukkan kas serta produk dalam negeri bruto terbanyak untuk Belanda dikala itu. Apalagi ketakutan ini terus menjadi jadi nyata kala negara Hindia ini mulai begerilya buat memproklamirkan kemerdekaan sehabis pasca dunia kedua.
Tetapi legenda menyebutkan tentang Indisch verloren, ramspoed geboren teruji jadi legenda belaka serta ketakutan belaka di tahun 1949 kala Hindia ataupun Indonesia betul- betul merdeka. Apalagi tanpa Hindia, pemulihan ekonomi Belanda nyatanya berlangsung sangat pendek, terlebih dengan dorongan dana dari Amerika Serikat lewat skema Marshall Plan.
Marshall Plan merupakan paket kebijakan ekonomi AS yang berikan pinjaman lunak kepada negara- negara Eropa barat guna pemulihan ekonomi pascaperang. Dorongan ini diberikan secara bertahap sepanjang 3 tahun( 1948- 1951). Belanda tercantum 5 besar negeri yang menemukan jatah sangat banyak dari 16 negeri penerima. Total dorongan yang diterima sebanyak 1. 128 juta dolar AS( rata- rata 376 juta dolar AS per tahun), sesuatu jumlah fantastis mengingat Produk Dalam negeri Bruto Belanda pada 1938“ cuma” dekat 280 juta dolar AS. Dengan dorongan sebesar itu, Belanda sukses kembali jadi salah satu kekuatan ekonomi Eropa pada akhir 1950- an. Pencapaian itu didapat tanpa memeras lagi bumi Hindia.
Tetapi bila kita menelisik ke balik kala Indonesia menemukan kemerdekaan di tahun 1945, tidak dan merta membuat Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949 tepatnya bertepatan pada 29 Desember 1949 yang bersamaan pada penyerahan kedaulatan Indonesia atas Belanda di Istana Dekameter. Apalagi dari perjanjian Linggar Jati, Renville, serta Roem Royem, Belanda tidak seluruhnya mengakui kedaulatan Indonesia serta tahun 1949 dapat dibilang Belanda tidak menyerahkan seluruhnya hak kedaulatan Indonesia jadi Negeri Kesatuan Republik Indonesia. Dikala itu Indonesia masih berjuang dalam konstitusi serta wujud negeri serikat.
Apalagi sehabis pasca 1949, sepanjang nyaris 60 tahun Belanda mengakui kalau kemerdekaan Indonesia merupakan bertepatan pada 29 Desember 1949 sampai tahun 2005 pas 60 Tahun Indonesia merdeka dikala itu saat sebuah Pengakuan ini baru keluarkan pada tanggal 16 Agustus 2005, satu hari saat sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu. Pada kesempatan yang langka itu, Pemerintah Indonesia akhirnya diwakili oleh Menlu Hassan Wirajuda. Keesokan harinya, Rudolf melakukan perjalanan dengan mengikuti Upacara Kenegaraan Peringatan Hari Ulang Tahun ke- 60 Kemerdekaan RI di Istana Negeri, Jakarta. Langkah Bot ini mendobrak tabu serta ialah yang awal kali dalam sejarah.
Perihal ini memanglah normal di negara Koloni yang masih menganut Paternalisme Kolonial. Paternalisme Kolonial ini ialah suatu pemikiran antara ikatan penjajah- terjajah yang dibayangkan semacam ayah serta anak. Penjajah selamanya menyangka rakyat negara jajahannya selayak" anak" yang mesti selalu dibimbing oleh" si ayah".
noona/oppa apalagi ilustrasi yang dapat menggambarkan kedekatan bapak- anak di atas dapat dilihat dalam ikatan antara raja- raja Jawa serta Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tiap raja Jawa diharuskan pemerintah kolonial buat memanggil serta memperlakukan Gubernur Jenderal di Batavia bagaikan orang tua dengan panggilan“ eyang”. Perilaku paternalistik berbagai ini berkelindan dengan mitos" Indisch verloren, ramspoed geboren" sehingga membentuk mentalitas kolektif dalam sebagian besar warga Belanda. Mentalitas ini menjelma jadi kekhawatiran kelewatan terhadap seluruh perihal yang berbau“ Indonesia merdeka”. Dengan mentalitas ini, Belanda terus menjadi posesif terhadap Hindia serta senantiasa mempertahankan tanah jajahan itu dengan metode apapun. Dampaknya parah untuk kedua belah pihak: peperangan jadi tidak terelakkan.
Inti dari naskah oleh Ratu Wilhelmina dari Negara Belanda ini merupakan menginkan kalau Hindia ataupun Indonesia ini bila satu hari lepas dari tangan Belanda, Belanda masih dapat mengendalikan Indonesia dengan mau membuat negeri pesemakmuran semacam yang dicoba Inggris atas daerah koloni mereka. Dengan membentuk negeri pesemakmuran serta membuat Hindia berupa negeri Federasi yang bisa mengendalikan pemerintahan sendiri tetapi masih dibawah kendali kerajaan Belanda. Apalagi Pidato ini jadi patokan untuk Jenderal Van Mook kala berunding serta berdiskusi dengan perwakilan Indonesia dari tahun 1945- 1947.
Apalagi warga serta tokoh- tokoh Indonesia menyangka pemikiran dari Jenderal Van Mook usang serta kuno. Sebab gagasan tersebut berasal dari paruh kedua abad ke- 20 yang dipopulerkan kelompok- kelompok progresif di Belanda. Suatu gagasan yang menekankan berartinya kebebasan membentuk pemerintahan sendiri untuk rakyat Hindia, tetapi masih dalam jalinan kesatuan antara Kerajaan Belanda serta Hindia.
Dari paradoks serta pemikiran menimpa Indisch verloren, ramspoed geboren inilah yang merangsang pemerintahan apalagi Ratu Wilhelmina susah melepas negeri jajahan mereka yang sudah lama menciptakan pundi- pundi duit untuk Kas negeri Belanda dikala masa Kolonial. Apalagi ketakutan ini terbantahkan pasca perang dunia kala Amerika menyodorkan Marshall Plan untuk negara- negara yang sirna pasca perang dunia kedua.
Baiklah noona/oppa itu hanya alibi gimana belanda susah banget ngelepasin Indonesia apalagi sejarah panjang pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda baru diakui kalau Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 di tahun 2005 pas 60 tahun Indonesia Merdeka sebab sejauh itu Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1949.
Perpisahan dengan cinta sejati ibarat membangun jalan raya dari Anyer hingga Panarukan, sebuah tragedi yang menyengsarakan.
Cinta Kerja Rodi
Museum ; Bagian 1
Sudah lewat berabad-abad sejak tahun 1511, saat perjalanan atas dasar kecintaan akan rempah-rempah itu berkembang jadi keinginan untuk menguasai, menularkan paham dan kejayaan, serta mengeruk kekayaan tanah air—lalu lahir titik balik pada kesadaran, pergerakan, lalu merebut kembali kemerdekaan yang satu.
Sudah lewat berabad-abad, dan belum seabad sejak tentara Nippon kocar-kacir dikerjai di Lapangan Ikada, dan semuanya sudah banyak berubah. Bangunan-bangunan Belanda yang megah di mana-mana dijadikan museum, Monas jadi lebih berwarna dan berkabut di hari ini, banjir yang semakin mengair yang katanya keberlanjutan dari gagalnya teknologi gubermen dalam mengatur perairan.
Sudah ditinggalkan bando besar berwarna merah polkadot mencolok dengan diameter yang lebar, baju kedodoran yang dimasukkan ke celana yang tidak ada ketat-ketatnya. Warung-warung telepon umum sudah tutup, kemarin bahkan ada yang menelepon tidak perlu pakai handphone. Semua berubah, dan yang pasti dari perubahan katanya adalah perubahan itu sendiri.
Aku selalu sedih saat berjalan-jalan di museum. Bagaimana waktu-waktu berlalu dan memberhargakan yang dulunya tidak berharga. Yang menyimpan apa yang dulu membuat tersiksa dan sekarang jadi kenang-kenangan. Membayangkan jari-jari dan tapak kaki yang dulu mengecap barang-barang serta bangunan yang ada. Bagaimana waktu berlalu—dan tidak pernah ada yang pasti selain perubahan itu sendiri. Tidak ada yang pasti, bahkan perasaan dari orang terkejam yang membunuh pribumi dengan larasnya sendiri.
Tidak ada yang pasti dengan kita di esok hari. Bahkan banyak yang berubah dari 20 tahun hidup di bumi. Bagaimana kau telah kehilangan banyak sekali barang, waktu, dan orang-orang. Kau kehilangan materi dan kau mendapatkan perih. Semua ada di museum dalam dirimu—dan kita semua bagian dari sejarah kita sendiri.
Sudah lewat berabad-abad sejak tahun 1511. Museum adalah tempat magis untuk merasakan kerinduan dan kenangan yang tak tahu datangnya dari mana. Mungkin kita dirasuki ruh nenek moyang yang sedih dan tidak mau kita lupa. Sudah lewat berabad-abad, dan banyak yang harus kita ingat.
Linimasa
Beberapa saat setelah submit draft thesis pertama tadi, aku pulang ke kosan. Rebahan di kasur. Termenung. Mengingat-ngingat masa saat aku pertama kali datang ke negeri ini. Gila! Itu sudah hampir 20 bulan yang lalu. Saking betahnya merantau, Belanda jadi semacam rumah baru untukku. Nyaman dengan lingkungan ini, sudah merasa dekat dengan teman-teman di koridor, sudah terbiasa naik sepeda menerjang angin 50 km/jam setiap hari. Sedihnya, submit draft ini menandakan bahwa masa studiku tinggal tersisa beberapa bulan lagi.
Pikiran lalu bernostalgia. Kota apa selain Wageningen yang pertama kali aku kunjungi disini? Ah iya, Arnhem. Masih ingat gimana aku mengambil pintu keluar stasiun yang salah. Malah yang ke arah Sonsbeek, bukan ke centrum. Ohiya, aku hampir lupa tentang Ede: hari dimana aku baru mendapatkan sepeda baruku (yang sekarang sudah rusak haha). Lalu dengan ambisius aku bersepada ke Ede dari Wageningen, yang notabene makan waktu sekitar 30 menit. Kehujanan. Beli router.
Lalu ingat perasaan ketika pertama kali menjejakkan kaki di Amsterdam. Pertama kalinya benar-benar merasakan apa yang mereka bilang peradaban Eropa. Amsterdam terasa cantik sekali waktu itu. Rasanya hampir setiap sudut kota ingin kufoto. Jalan kaki jauh banget, sampai ke Museumplein hingga balik lagi ke arah Centraal, beli nasi kotak Tikka Masala di AH to go. Makan di Oosterdok sambil sok-sok-an menikmati sunset.
Lalu jadi nyoba inget-inget setiap kota yang pernah dikunjungi di Belanda. Every single one. Mulai dari suasana kotanya saat itu, stasiunnya seperti apa, tempat apa saja yang aku kunjungi, sama siapa waktu itu. Pikirian lalu merambah ke kota-kota luar Belanda yang aku kunjungi. Krakow, Budapest, Berlin... Ah, Italia. Sungguh negara yang sangat berkarakter. Venesia, Florence, Roma. Super fine. Hebat, aku bisa ingat semuanya!
Dalam dua minggu aku akan mulai internshipku. Walaupun aku tetap tinggal di Wageningen, aktivitasku mayoritas akan aku habiskan di Rotterdam. Yup, aku internship di sebuah perusahaan di Rotterdam. Rencananya akan naik kereta kesana tiap hari. Exciting!
All the floats of Bloemencorso 2025 🌷 Part-1/3
The amazing annual flower parade of Holland!
Enjoy the entire parade here