The days leading to Ramadan doesn't feel like the days leading to Ramadan. Maybe it's a personal experience, maybe others can sympathize, regardless this Ramadan do not forget to keep the oppressed in your duas.
Pray for Sudan, Congo, Armenia, Kashmir, Uyghur, and every other oppressed group of people as much as you would for Palestine. Do not let this month where all prayers are accepted go by without praying every single day for the freedom of the oppressed.
Remember that when we fast, there are others who fast involuntarily. Remember that when we break our fasts, others cannot. Remember that every drop of water, every bite of food, every breath of fresh air, and every day that we wake up without a threat to our life is a blessing that not everyone has.
Please donate to organizations that aim to provide those who are deserving of aid. Please donate to those who are needy in your own neighborhood. Please do not lose hope that the oppressed will be victorious because we do not have that right to grieve for a fight that is being fought every single day by people are have been stripped of their basic human rights.
Even if you are not Muslim or believe in a higher power, please do not forget about those who are suffering. Let us continue to elevate the voices of those under oppression until freedom is achieved.
Remember that we are not free until we are all free
Kurban Tulum (قۇربان تۇلۇم) (1883-1975) an Uyghur peasant who worked as a seasonal labourer for Uyghur landlords. During the land reforms of 1952, Kurban received land and various other properties. He is said to have visited Ürümqi, the capital of Xinjiang, by riding a donkey, to show his appreciation for the People's Liberation Army.
The People's Republic of China promotes him as a symbol of unity between the Uyghurs and Han Chinese. A song named "Where Are You Going, Uncle Kurban?" (库尔班大叔您去哪儿?) and a film titled Uncle Kurban Visits Beijing (库尔班大叔上北京) were produced in 2002. Monuments of Kurban's handshake with Mao stand in the town centres of Keriya and Hotan (Tuanjie Square).
“State-perpetrated and internationally enabled mass murder is actively terrorizing more than one part of our world, currently condemned by the very bodies specifically set up by humans to monitor things on Earth unacceptable to human society. These are facts. They need to be faced. So for the sake of clarity, let’s name it. The inhumane is being perpetrated on our watch. I’m here to name it without hesitation or doubt in my mind, and to lend my unwavering solidarity to all those who recognise the unacceptable complacency of our greed-addicted governments who make nice with planet wreckers and war criminals, wherever they come from.”
The harrowing true story of a mother of three from Ürümqi, Xinjiang, who was imprisoned by Chinese authorities: "I won't be silent."
please read this!! this is a true story based on testimony and interviews with Zumrat Dawut who was one of the many Uyghur people arrested and sent to a detention facility where they face terrible living conditions and abuse.
content warnings for blood, medical abuse, forced sterilisation, islamophobia, suicide attempt, self harm, ethnic cleansing.
Tumblr’s takeaway from RedNote seems to be “Chinese people finally learning about the poor oppressed Americans” and “wow China is so great” which, well……Godspeed Taiwan, Tibet and East Turkestan.
People who lie and spread fake news about an alleged genocide in China are doing a real disservice to the people who are experiencing a real and obvious genocide in Gaza. The difference couldn't be more clear at this point.
Also the funny thing is that Israel condemns China for their alleged genocide against Uighur Muslims Imao. That just goes to show how disingenuous this whole thing is. Israel is a huge supporter of the narrative that China is committing a genocide against Uighur Muslims lol. Since when does Israel give a fuck about Muslims?
And the U.S. vehemently condemns China for genocide but DENIES there's a genocide in Gaza and supports Israel financially and militarily in their effort to carry out the genocide in Gaza. What a joke.
Tentara Mongol pada dasarnya adalah pasukan kavaleri darat. Mereka tidak punya pengalaman dengan angkatan laut, baik dalam strategi perang maupun jenis angkutan transportasi tentaranya. Ketika menyerbu Jawa, mereka mempergunakan kapal-kapal yang tidak didesain untuk beroperasi di laut. Kapal yang dipergunakan menjiplak kapal-kapal ukuran sedang yang biasa berlayar di sungai besar semacam Yangtse, sedikit memperbesar ukurannya kemudian dibawa buat melaut. Ini sesuai juga dengan penggalian peninggalan kapal-kapal Mongol yang dijumpai di pesisir Jepang saat Mongol menyerbu Jepang. Desain kapal Mongol itu tidak stabil terhadap gelombang laut bebas, apalagi taifun. Mudah tenggelam.
Di kemudian hari Cina mengirimkan ahli-ahlinya ke India untuk belajar membuat kapal-kapal yang bisa melayari Samudera. Laksamana Cheng Ho kemudian mempergunakan kapal-kapal itu untuk ekspedisinya hingga ke Madagaskar, lebih dari 100 tahun setelah ekspedisi Mongol ke Jawa.
2. RUTE
Pada jaman itu, navigasi laut masih sangat primitif. Tidak ada yang namanya peta laut. Yang ada hanya ingatan nahkoda mengenai rute dagang Cina ke Jawa yang biasa dilalui plus bantuan bintang di langit. Oleh karenanya, tentara Mongol yang ke Jawa tidak melalui rute langsung seperti di jaman modern yaitu melalui Laut Cina Selatan. Namun saat itu mereka berangkat dari Cina, mungkin mengambil sebagian logistik/ akomodasi di Champa (Vietnam Selatan sekarang), kemudian menyusuri pantai menuju perairan Malaka, ke laut sekitar Bangka/ Belitung kemudian ke Jawa. Itu adalah rute laut yang paling dikenal dan biasa ditempuh oleh pedagang- pedagang Cina ketika mereka pergi ke Jawa.
3. PETA LAUT DAN NAVIGASI
Tidak ada yang namanya peta laut. Navigasi pada dasarnya dilakukan dengan melihat posisi bintang. Kompas sederhana mungkin sudah ada dan dipergunakan. Sebagian besar rute laut ditempuh dengan mengandalkan pengalaman saudagar atau nahkoda kapal dagang yang sudah terbiasa datang ke Jawa. Mereka ini entah dibayar mahal, atau yang paling mungkin diancam dengan kekerasan untuk mengantar invasi pasukan Mongol. Metode ancaman dan pemaksaan nahkoda ini sudah biasa dipergunakan sebelumnya dalam penyerbuan Mongol ke Jepang dan Formosa (Taiwan).
Bagaimana rumitnya dan tidak diketahuinya posisi pulau-pulau nusantara bisa dilihat dari peta tertua yang digambar oleh Portugis. Disitu pulau Bali (Java Minor) diletakkan di sebelah utara pulau Jawa (Java Mayor) yang membuktikan kesimpang siuran posisi Bali dan Madura. Sementara itu Kalimantan dianggap pulau kecil, dengan banyak gugusan pulau di sekitarnya.
4. ANGIN
Pada jaman itu, kapal-kapal terutama digerakkan dengan layar yang mengandalkan angin plus pasukan pendayung. Persoalannya, tiupan angin di Asia Tenggara itu berubah setiap 6 bulan. Kalau sampai mereka salah membuat rencana invasinya (berangkat, menyerang, pulang), maka mereka tidak akan bisa pulang sesuai jadual dan karenanya rentan terhadap kekurangan logistik di Jawa serta serangan lawan yang lebih mengerti medan. "Jendela" penyerbuan terhitung sempit dan tidak bisa lama-lama. Oleh karena itu penarikan secepatnya tentara Mongol dari Jawa setelah mengalahkan Jayakatwang, juga dapat dilihat dari ketiadaan banyak waktu dan ancaman logistik yang membayangi pasukan. Mau tidak mau mereka memang harus segera pulang.
5. PASUKAN
Inti kekuatan pasukan Mongol ke Jawa adalah kavaleri berkuda. Mereka ini veteran perang di utara yang dijadikan inti pasukan serbu, diperkuat dengan pasukan infanteri dari Cina sebelah selatan. Mereka kuat dalam serbuan di medan yang lapang tapi seringkali kesulitan dalam perang di hutan-hutan. Ketika Mongol menyerbu Vietnam Selatan dari utara (jauh sebelum ekspedisi ke Jawa), tentara kavaleri mereka yang jumlahnya begitu banyak mengalami kesulitan ketika harus mendaki pegunungan dan menghadapi hutan rimba. Banyak yang mati karena kedinginan, serangan nyamuk, penyakit kolera, kehabisan makanan dan serangan gerilya di sepanjang jalan.
Invasi Mongol ke Jawa menghadapi medan hutan tropis yang serupa dan bisa jadi berakhir dengan kondisi yang sama buruknya dengan saat penyerbuan di Vietnam. Sehingga secepatnya menarik diri setelah membumi-hanguskan Kediri menjadi pilihan yang paling masuk akal guna menghindari kerusakan pasukan yang lebih fatal.
6. SEKUTU LOKAL
Rute ke Jawa mungkin bisa diperoleh melalui pemaksaan nahkoda, pendaratan pasukan kavaleri dan infanteri yang jumlahnya puluhan ribu mungkin sedikit lebih sulit, namun melakukan penyerbuan darat ke Kediri adalah persoalan yang jauh lebih kompleks. Rute sungai dan darat mana yang harus dilewati? Apakah jalannya bisa dilewati kuda dan pedati logistik? Dan sebagainya
Laksamana Speelman yang mendarat di Surabaya pada sekitar 1677 (nyaris 400 tahun setelah Mongol) saja akhirnya hanya bisa sampai ke sekitar Terung (Mojokerto) ketika mengejar Trunojoyo. Speelman merasa, tanpa sekutu lokal yang mengerti jalan dan medan setempat, mustahil baginya untuk mengejar Trunojoyo sampai Kediri.
Persoalan itu akhirnya bisa teratasi oleh tentara Mongol ketika Raden Wijaya menyediakan diri sebagai sekutu lokalnya.
7. BARANG RAMPASAN
Model serangan yang umum dipergunakan di jaman itu, apakah di Cina atau di Asia Tenggara adalah dengan penghancuran pusat kekuatan politik dan melakukan penjarahan. Biasanya, hasil jarahan akan dibagi-bagi oleh komandan pasukan dan anak buahnya. Dan bagian besar rampasan perang akan dipersembahkan kepada Kaisar sebagai bukti keberhasilan tugas. Berdasarkan catatan, komandan panglima Mongol mempersembahkan barang rampasan dari Singasari dan Kediri kepada kaisarnya sejumlah 150.000 tael perak. Saya pernah menghitung dengan melakukan konversi kasar dengan harga perak saat ini, total nilai rampasan itu sekitar Rp 200-300 milyar (tergantung pada kadar peraknya).
1.) Apa jendral yuan benar benar tidak tau kalau kertanegara sudah terbunuh?
2.) Apa jayakatwang yg merebut kekuasaan dari kertanegara kurang pintar hingga mau menanggung akibat tindakan kertanegara melukai utusan yuan mongol yg datang ke singasari?
Komunikasi saat itu sangat sulit. Dara Petak dan Dara Jingga itu datang ke Jawa masih belum tahu kalau Singasari dan Kertanegara sudah tidak ada.
Saat itu tidak ada orang yang bisa memperkirakan bahwa Kubilai Khan akan memerintahkan penyerangan Jawa. Tahunya pasukan Mongol khan setelah mereka sampai di sekitar Tuban. Lagian penyerangan ke Jawa itu insidentil, tadinya Kubilai sedanf merencanakan penyerangan ke Jepang yg ketiga tp rencananya lalu diubah ke Jawa.
kalo komunikasi sulit kenapa dyah wijaya bisa membangun aliansi dengan pasukan yuan?
Gak ada aliansi yg direncanakan jauh hari.... aliansi itu diciptakan ketika pasukan Mongol sudah tiba dan karena persamaan kepentingan saja : melawan jayakatwang
berarti mereka bisa berkomunikasi,
Bisa berkomunikasi setelah pasukan sampai di Jawa. Pada saat itu bahasa melayu juga sudah dipergunakan sebagai bahasa di kalangan pedagang.
kalau bisa tentu saja jayakatwang juga bisa berkomunikasi dengan yuan. Lagian kabar bahwa yuan berkemungkinan akan serang kertanegara tentunya sudah menyebar sejak di lukainya utusan yuan. Kediri tidak punya kepentingan apa apa atas dwipantaranya singasari dan juga sebagai musuh kertanegara tidak ada alasan bagi jayakatwang menerima tanggung jawab perbuatan kertanegara atas utusan yuan.
Yang pertama ketemu dengan pasukan mongol kebetulan adalah raden wijaya, karena berada di sekitar mojokerto. Lebih dekat ke pelabuhan. Jadi informasi apapun yang mengalir ke panglima mongol, ya berasal dari raden wijaya. Tergantung raden wijaya mau ngomong apa khan?
Kedua, pasukan mongol itu di kepalanya masih ada kertanegara ataupun penerusnya...jadi siapapun yg ada di eks singasari harus dihancurkan, karena mereka khan gak mungkin kirim berita ke Cina "ini orangnya udah gak ada, terus kita musti gimana?". Yg paling masuk akal adalah menyerbu "singasari", menjarahnya dan mempersembahkan ke kaisar, serta membawa kerabatnya yg tersisa ke Cina untuk dihukum.
bisa juga seperti itu,tapi yg paling masuk akal jayakatwang menjawab dulu ke pasukan yuan bahwa kediri bukan singasari. Btw di catatan jendral shi bi apa bener yuan tidak tau kalo kertanegara udah terbunuh
raja jawa telah di bunuh oleh pangeran kalang
Gini loh ya.. seandainya Anda adalah komandan pasukan Mongol.. terus dikabarin kalau kertanegara sudah terbunuh, apakah berita itu bisa Anda percayai? Bagaimana Anda yakin kalau itu bukan trik saja dr kertanegara spy tidak diserbu? Bagaimana Anda nantinya akan mempertanggungjawabkan semua itu kepada Kaisar?
Jadi apakah kertanegara sdh meninggal beneran atau tidak menjadi tidak relevan di mata panglima pasukan mongol. Satu2nya pertanggungjawabannya kepada kaisar adalah dengan menghancurkan istana kertanegara, atau istana penggantinya dan membawa raja dan kerabatnya ke Cina untuk dihadapkan pada kaisar.
...........
Apakah sisa sisa pasukan yg lari dari gebukan balik raden wijaya masih banyak membawa rampasan?
Yess.. menurut sumber Cina mereka membawa rampasan. Hal yg masuk akal, karena biasanya penyerbuan itu diawali dengan pendudukan keraton, perampasan harta dan penghancuran situs (yg paling gampang dibakar karena kebanyakan bangunan terbuat dari kayu).
Iya paham..pasti lah. Bahkan hingga perang jaman modern...si musuh diharuskan menanggung biaya perang juga.
Maksud saya, apakah raden Wijaya yg menghajar balik pasukan asing itu, masih banyak harta rampasan yg lolos dibawa pulang ke negeri cina?
Saya beranggapan bahwa serangan raden wijaya tidak bersifat masif dalam arti perang terbuka antara inti kedua pasukan tapi dalam bentuk gangguan2 sepanjang jalur penarikan mundur pasukan Mongol. Karena lebih paham medan, sementara jumlahnya kalah banyak, maka strategi gerilya menyerang sayap2 pasukan mongol itu paling efektif. Toh tujuan utama raden wijaya adalah mengenyahkan pasukan mongol dulu. Tp pasukan utama mongol yg membawa barang jarahan akan sempat dengan cukup bebas balik ke kapal. Dilain pihak, pasukan mongol juga merasa sudah melaksanakan tugas "penghukuman", ada barang berharga dan sandera yg dibawa kepada kaisar plus angin muson segera berakhir shg mereka juga gak pengen melayani serangan gerilya di sayap2 pasukan
O..ya ya saya juga berpikir begitu. Toh..digebug ataukah tidak oleh Raden Wijaya dan pasukannya, mongol memang sudah beranjak balik, bahkan ada versi Jayakatwang pun juga dibawa dalam kapal mereka (bukan dieksekusi di kerajaannya saat digempur mongol dan pasukan R Wijaya)
Yang saya pernah tahu, keturunannya yg dibawa ke tiongkok
...................
Padahal Mongol jika menyerang mereka mempersiapkan segala hal termasuk berkerjasama dengan oposisi setempat.
Pertanyaan bagaimana mungkin Mongol tidak mengetahui jika oposisi tersebut adalah yg awalnya menentang nya. Raden Wijaya adalah mantu dari raja Singasari.
Dan apa tidak mungkin jika Mongol sudah tahu Singasari runtuh dan sekarang jayakatwang yg berkuasa?!
Seandainya dengan sistem dari pusat bumi hanguskan, maka Raden Wijaya tidak akan berkolaborasi. Ya di hancurkan sekalian.
Kertanegara itu tewas sekitar bulan Juni 1292. Kabar itu bahkan tidak diketahui Mahisa Anabrang yang ada di Melayu, shg mereka masih mengirimkan Dara Petak dan Dara Jingga ke Singasari. Apalagi Cina yang jauh disana, wong yang di Jambi saja gak tahu peristiwa di Jawa. Kalau tahu, Mahisa Anabrang gak akan bawa Dara Petak dan Dara Jingga ke Jawa. Armada Mongol itu berangkat mungkin Nov/Des 1292 memanfaatkan angin muson yg bertiup dr Timur Laut, 6 bulan setelah Kertanegara wafat. Kedatangan mereka ke Jawa-pun tidak diketahui oleh Melayu/Jambi padahal ratusan kapal mereka khan melintas di sktr Bangka/Belitung dan malah sempat istirahat pula disitu.
Dari situ kelihatan bahwa komunikasi saat itu memang sangat sangat sulit.
Saya menganggap bahwa untuk mempelajari sejarah, maka kita musti turba (turun kebawah) dengan menempatkan diri kita pada alam pikiran orang jaman itu dengan peradaban saat itu.
Banyak versi, dan tidak harus versi anda yg wajib di Amini dan di iyakan.
Karena kita sama sama tidak mengalami masa itu.
Betul... sejarah masa lalu itu direkonstruksi dengan berbagai sumber kemudian dievaluasi mana skenario yg paling masuk akal. Seberapa klop elemen-elemen yg lain dst. Tapi tetap saja akan ada ruang bagi ketidakpastian. Oleh karena itu sejarawan biasa juga mempergunakan kata2 "mungkin", "bisa jadi", "skenario yang masuk akal adalah" dst dsb. Uraian saya diatas didasarkan pada berbagai sumber, termasuk sejarah perdagangan asia tenggara (angin, jenis kapal, lalu lintas, navigasi dst) serta sejarah singkat pembangunan dan penggunaan kapal Yuan utk menaklukkan Jepang, Vietnam dan Jawa.
Kalau Anda punya argumen berbeda silakan disampaikan juga beserta dengan elemen pendukungnya. Shg kita bisa coba diskusi/ evaluasi bersama sama. Ini khan proses rekonstruksi sejarah biasa.
Ada sebuah buku desertasi doktor di Singapore mengenai Invasi Mongol ke Jawa ini yg banyak mempergunakan sumber2 Cina tapi harganya masih 800-900 ribu Bro hahaha....ntar nunggu aja bacanya kalau dah ada edisi murahnya. Saya baru icip-icip baca bagian gratisnya saja, dan so far gak ada pertentangan dgn apa yg saya tulis diatas.
Monggol hampir menguasai separuh bumi,tapi mengapa saat menghadapi Jawa monggol jadi Goblok? Sehingga tidak memperhitungkan kapal.
Saya tidak paham bagian mana yg menjadikan mereka tampak bodoh. Tapi ada baiknya kita melihat situasi di Cina.
Pertama, pasukan mongol itu terbentuk dari padang2 rumput yang mengandalkan kecepatan kavaleri berkuda. Anggap saja tank dan pasar jaman kuno. Di Mongolia sana gak ada yg namanya laut, apa itu topan, navigasi dan apa itu angin muson. Semua itu diluar jangkauan pengetahuan orang Mongol. Pengetahuan mengenai laut diperoleh dari orang Cina yang berada di pesisir2, yang kesetiaannya bisa saja terbagi. Emang siapa elo Mongol? Kira2 begitu... hahaha
Kedua, pedagang2 Cina sendiri berlayar hanya sampai Malaka kemudian balik lagi. Ini beda dengan pedagang2 India yang menempuh perjalanan samudera, kadang dari India Barat ke Malaka ataupun dari India ke Aden di Yaman. Orang India sdh biasa dgn pelayaran samudera, shg nantinya kaisar Cina mengirimkan ahli2nya untuk belajar pembuatan dan pengendalian kapal samodera ke India.
Masalah penguasaan teknologi ini bukan sesuatu yg gampang.
Hitler itu bisa menang perang dengan cepat di daratan Eropa mempergunakan pasukan kavaleri dalam bentuk panser dan tank. Tapi begitu sampai ke laut, ya gak ada apa2nya melawan Inggris. Hebat di darat tidak menjadi jaminan jadi tangguh di lautan, karena keduanya membutuhkan penguasaan teknologi dan SDM yg berbeda.
Topik Invasi MONGOL ke Jawa, ini menyimpan banyak pertanyaan, terutama untuk mengenali lebih dalam situasi dan kondisi politik, militer, teknologi dan budaya masyarakat dan peradaban Jawa pada masa kejayaan Kertanegara dan Kerajaan Daha & Kadiri di seputar aliran Sungai Brantas.
Kisah invasi Mongol sebanyak 2 kali, yang kemudian memunculkan MAJAPAHIT, membuat saya bertakon takon, Kapal2 Perang milik Kertanegara yg diparkir di Greasik itu apa cuma sedikit? Sehingga tidak terjadi Sea Combat? Kapal2 perang Singosari masih berada di Selat Malaka? Kok gak ketemu rombongan kapal Mongol ini ya?
Tahun 1293, bagaimana bentuk kapal perang Jawa ini? Dan desain apa yg ditiru? Pastinya kapal2 Singasari ini sdh klas Ocean going dg daya angkut logistik dan pasukan 100 org per kapal. Itulah sebabnya Nusantara di zaman Kertanegara sudah menguasai Malaka, Siam dan Maluku?
Kapal sekelas Jung miik Angkatan Laut Majapahit, yg kapasitas dan ukuran 6 kali kapal Jaugernot Spanyol, apakah sdh dimiliki Kertanegara?
Richard Psimeon Kita bisa merekonstruksi keadaan maritim saat itu salah satunya berdasarkan catatan portugis sbg bangsa eropa yg datang ke India dan Asia Tenggara ---dan dengan budaya tulisan.
Dr situ akan kelihatan bahwa kapal pada dasarnya dipergunakan untuk perdagangan (kapal cargo), bukan utk perang. Kalaupun digunakan utk perang, pada dasarnya itu adalah kapal dagang yang diisi prajurit bukan kapal pengangkut pasukan. Tidak efisien karena kapal dagang itu desainnya model kamar2 kedap air, spy muatan aman dr air. Istilahnya ini macam truk tanah yang digunakan untuk mengangkut orang...gak nyaman. Bisa bikin mabok laut para prajurit darat yg gak biasa di laut. Ini melemahkan pasukan.
Kedua, jaman itu hanya kapal2 India yg terbiasa mengarungi samudera. Dari India Barat (Gujarat, Goa, Surat dsb) mereka sampai ke Teluk Persia, Aden (Yaman) dan Afrika Timur. Yg India Timur (Koromandel, Benggala dsb) berlayar ke timur menuju Malaka. Kapal2 ukuran besar banyak yg dibangun di Pegu (Burma sekarang) karena teknik dan persediaan kayu yg bagus. Kapal2 kelas samudera itu seringkali dibawa dengan muatan ke pantai India Barat atau ke Malaka. Setelah muatannya dijual, lalu sekalian kapalnya dijual. Kapal2 ini ada yg diketahui dibeli oleh Jepara. Tapi tujuannya memang buat cargo.
Ketiga, kapal2 dagang dari Cina itu hanya sampai Malaka atau pantai timur sumatera kemudian balik ke Cina karena musim angin sdh berbalik. Jd kalau ada pendeta Cina mau ke India, mereka harus transit di Malaka atau Palembang/Jambi lalu menumpang kapal india ke barat.
Keempat, kapal2 yang ada di asia tenggara pada dasarnya berukuran kecil/sedang dan berlayar di sepanjang pantai. Kalau ada angin ribut atau badai mereka akan cari perlindungan ke pantai/ teluk terdekat.
Ekspedisi ke Melayu itu dimulai 1275 dan kembali membawa Dara Petak/ Dara Jingga tahun 1292. Itu artinya 17 tahun. Agak sulit utk menerima itu sbg ekspedisi militer murni yg bercorak pendudukan. Lebih masuk akal kalau itu sebuah unjuk/ pameran kekuatan yg disertai dengan diplomasi penaklukan. Salah satu yg dianggap ikut serta membuat Kubilai naik pitam, selain karena Meng Ki, adalah juga karena Melayu ---yg saat itu dianggap pusat perdagangan juga selain Malaka-- tidak lagi mengirimkan utusan ke Cina dan ini karena Kertanegara.