Menguak Sejarah, Menggali Etimologi
*Scroll to the bottom for the English version. Tulisan ini dimuat di majalah multibahasa dan budaya Tongues, Australia.
Setiap kata dalam esai ini, termasuk kata INI, termasuk juga tanda baca yang ada di antara kata-kata tersebut, memiliki sejarahnya sendiri. Setiap kata tersebut telah melalui rentang waktu yang panjang yang sedikit maupun banyak telah mengubah maknanya. Tulisan ini mengemukakan tentang sejarah atau asal muasal kata atau etimologi, pentingnya etimologi untuk memaknai ulang sejarah dan pengalaman manusia yang tertanam dalam bahasa, dan juga pada bagian akhir akan menggambarkan bagaimana etimologi dapat membantu pembelajar bahasa asing dalam mempelajari dan mengenal bahasa yang dipelajarinya.
Mengetahui sejarah dari mana sebuah kata berasal adalah seperti mempelajari bagian dari sejarah perjalanan manusia. Kata ‘narsis’ yang kita kenal sekarang memiliki makna yang dulu mutlak negatif sebelum sekarang menjadi lebih diterima dan hanya dilihat sebagai perilaku sebuah sub-kultur, ‘anak narsis’. Menjadi narsis adalah hal biasa, sedangkan dalam makna asalnya kata ini tidaklah sebiasa itu. Penutur Bahasa Indonesia mengadopsi kata ini dari Bahasa Inggris ‘narcist’ yang berarti seseorang yang hanya mencintai dirinya sendiri secara berlebihan dan cenderung egois. Kata ini sebelumnya adalah kata yang berasal dari lingkar ahli psikoanalisa di Jerman untuk menggambarkan sebuah kondisi psikologis ‘narzissismus’ yang kemudian dipakai oleh lingkar profesi yang sama di Inggris dengan kata ‘narcissism’. Lalu darimana para psikoanalis ini bisa memakai kata ini? Tentu ada alasannya. Mitologi Yunani Kuno tentang Narcissus, pemburu tampan yang karena dikutuk oleh peri sungai yang ditolaknya menghabiskan sisa hidupnya memandangi bayangannya di permukaan kolam dengan penuh kekaguman dan rasa cinta. Para ahli itupun menggunakan tokoh dalam mitologi ini untuk menamai fenomena tersebut, lalu dari mana akar nama Narcissus? Disinilah cerita terputus. R.S.P. Bleekes mengklaim bahwa tidak jelas darimana nama ini berasal. Yang jelas adalah bahwa akhiran –sus berasal dari Bahasa Yunani proto. Sampai di sini kita menyerah. Tidak ada catatan yang lebih tua daripada naskah mitologi itu. Sisi baiknya adalah kita mengetahui bahwa ‘narsis’ sebelumnya adalah suatu kondisi kejiwaan.
Setiap kata yang kita pakai sekarang memiliki ceritanya sendiri yang kadang mengagetkan. Bahkan satu kata bisa memiliki lebih dari satu cerita dikarenakan elemennya membawa cerita berbeda. Kata Bahasa Inggris ‘assasin’ berasal dari istilah untuk menamai sekte Islam rahasia Ismaili di bawah pimpinan Hasan Ibnu Al-Sabbah yang hidupnya didedikasikan untuk membunuh tentara kristen di perang salib. Pembunuhan ini biasa dilakukan setelah menghisap hashish atau getah ganja yang akhirnya membuat mereka dikenal dengan nama penghisap hashish atau ‘hashisiyyin’ dalam Bahasa Arab. Assasin. Penghisap hashish..
Karantina dalam bahasa Indonesia diambil dari ‘quarantine’ dalam bahasa Inggris yang memiliki akar bahasa Perancis ‘quarante’ dan ‘-aine’ yang jika digabungkan memiliki makna ‘sekitar empat puluh hari’, yaitu lama sebuah kapal dan kru yang dicurigai mengidap penyakit menular harus ditahan di dermaga sebelum melakukan kontak di pelabuhan.
‘Alpukat’, masih dalam bahasa Indonesia, memiliki pangkal bahasa Aztec ‘ahuacatl’ yang berarti buah pelir (scrotum). Selain bentuknya yang mirip buah pelir, alpukat juga seringkali digunakan ‘aphrodisiac’, pemicu gairah seksual.
Kata ‘minggu’ berasal dari kata ‘domingo’, Bahasa Portugis dan Spanyol yang dekat dengan istilah keagamaan atau tokoh dalam agama Kristen. Hal ini spesial karena nama-nama hari lain dalam Bahasa Indonesia yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat berasal dari Bahasa Arab. Banyak penceramah kemudian ‘melarang’ pemeluk agama Islam menggunakan kata ‘minggu’, akibat terlalu identik dengan salah satu agama lain, dan menggantinya dengan ‘ahad’, kata yang berasal dari Bahasa Arab, bangsa yang melahirkan Islam.
Sepuluh dari sepuluh orang Indonesia tidak mengetahui sejarah penamaan negerinya sendiri. Berikut adalah sepotong informasi yang seharusnya ada dalam kurikulum sekolah. Pada 1847, ahli etnologi sebuah jurnal di Singapura, George Samuel Windsor Earl menulis bahwa penduduk terjajah Hindia-Belanda seharusnya memiliki nama yang khas untuk menyebut wilayahnya. Bukan manut saja dipanggil ‘Nederlands(ch)-Indië’. Berdasar pada misnomer orang Eropa yang menyebut semua wilayah yang terbentang dari Persia sampai Cina sebagai ‘India’, ia mengajukan nama ‘indunesia’ atau ‘malayunesia’ (nesos > nesia, Bahasa Yunani untuk pulau atau kepulauan) Dia sendiri kemudian memilih ‘malayunesia’ dan membuang kata ‘indunesia’ karena dianggap lebih sesuai dengan ras penghuninya. Sementara ‘indunesia’ bisa saja digunakan untuk menyebut kepulauan lain seperi Maladewa dan Srilangka yang memang berada di dekat Hindia, India. Akan tetapi, ahli lain kemudian mengambil kata ‘indunesia’ ini karena dianggap sudah terlanjur akrab di Eropa yang biasa menyebut kepulauan ini ‘Indische’. Nama yang kemudian dipakai oleh Ki Hajar Dewantara dan kemudian menjadi nama kita sampai dengan sekarang.
Kepulauan Indonesia merupakan tempat berkembangnya ratusan bahasa daerah. Bahasa-bahasa ini memiliki sistem sendiri yang terbentuk dalam waktu yang panjang dan mengalami evolusi. Kata-kata dalam bahasa tersebut ada yang mati dan ada yang terlahir. Ada yang hanya berumur sebentar saja. Untuk memberikan gambaran tentang variasi bahasa, berikut adalah beberapa kata dari beberapa suku berbeda di Indonesia untuk kata ‘laut’.
Bahasa Batak Karo di Sumatra > lawit
Bahasa Makassar di Sulawesi > tamparang
Bahasa Jawa di Pulau Jawa > segoro
Bahasa Minang di Sumatra > lauik
Bahasa Bima di Pulau Sumbawa > moti
Bahasa Sasak di Pulau Lombok > segare
Bahasa Sasak dialek pujuk, sub-dialek Teruwai > mare
Apa yang kamu pikirkan ketika ternyata salah satu bahasa Roman, yaitu Bahasa Italia memiliki kata yang sama untuk ‘laut’ yaitu ‘mare’? Kata yang sama dengan kata untuk ‘laut’ dalam Bahasa Sasak dialek Pujut, sub dialek Teruwai, salah satu satu sub-dialek dari salah satu dari empat dialek di salah satu bahasa Sasak yang notabene berpenutur kecil di rumpun keluarga bahasa Austronesia di Nusantara. Perlu dicatat bahwa kata ‘mare’ tidak dipakai di daerah tutur Sasak lain di Pulau Lombok, dan hanya dipakai di daerah pantai Selatan. Sebuah kebetulankah? Apakah kesamaan kombinasi empat bunyi yang hampir sama persis ini tak memiliki kaitan apapun seperti kasus kata ‘goreng’ dalam Bahasa Sasak sub-dialek Teruwai yang berarti ‘kotor’ dalam Bahasa Indonesia? Kita bisa saja berpendapat demikian akan tetapi ini adalah jawaban yang‘malas. Kedua kata ‘mare’ ini memiliki makna sama. Laut. Saya tidak akan mengaitkan kata ‘mare’ dalam Bahasa Inggris dengan ‘mare’ dalam Bahasa Sasak karena memang maknanya berbeda dan pelafalannnya berbeda. Dalam tulisan sebelumnya tentang etimologi kata ganti orang ketiga, para ahli menemukan jawaban dari mana kata ‘dia’ berasal. Bahwa kata ‘dia’ tidak secara acak muncul begitu saja. Bahwa kata ‘dia’ memiliki sejarah panjang yang karena kata ini dipakai luas, dapat dicari dan kemudian diteliti. Para ahli dapat menemukan darimana kata ini berasal karena kata ini dianggap penting. Tentu memang kata ‘mare’ di sub dialek Pujut, Bahasa Sasak tidak sepopuler kata ‘dia’ dalam Bahasa Indonesia. Akan tetapi fakta kesamaan di atas mungkin menceritakan sesuatu tentang sejarah di masa lalu yang amat sangat menarik dan penting untuk kita ketahui.
Beberapa contoh di atas memberi gambaran jelas bahwa kata-kata bercerita tentang sejarah manusia dan cerita kehidupan yang mereka alami. Tentang ilmu pengetahuan. Sebuah kata tentu saja muncul di satu titik waktu. Kemudian berevolusi dalam makna. Mempelajari etimologi kemudian penting karena etimologi adalah pengingat tentang hakikat bahasa. Bahasa bersifat dinamis dan merupakan kendaraan bagi sejarah manusia. Pembelajar bahasa pada tingkatan yang lebih mahir bisa dengan mudah menebak makna ketika dalam sebuah koran menemukan kata ‘Amerikofilia;, jika sebelumnya dia memahami elemen yang membentuk kata ‘pedofilia’. Bahwa kemudian pembelajar yang reflektif terhadap proses derivasi dapat memahami bahwa sebagian besar bentuk kecintaan (yang kadang tidak wajar) terhadap sesuatu dapat disematkan kata –filia (bahasa Inggris –philia) dibelakangnya. Mereka yang reflektif terhadap etimologi, khususnya terhadap kata-kata yang populer, memiliki pemahaman yang lebih luas daripada mereka yang menghapal satu kata tidak dengan memahami elemennya. Mereka memiliki pemahaman akan sejarah di belakang kata tersebut sehingga dapat memprediksi kata lain yang memiliki elemen sama dengan kata yang telah dipelajarinya.
Jawaban untuk pertanyaan kenapa bahasa Italia ‘mare’ yang berarti ‘laut’ memiliki kata yang sama dengan ‘mare’ dalam Bahasa Sasak Dialek Pujut yang juga berarti laut sampai sejauh ini tidak jelas jawabannya. Silahkan saja berasumsi ini Cuma kebetulan. Orang-orang Eropa Selatan memiliki kata yang persis sama untuk menyebut hal yang sama dengan penduduk beberapa desa di pantai selatan Lombok. Sampai sejauh ini kita tidak tahu kenapa. Sama sepeti R.S.P Bleekes yang menyerah menjelaskan darimana kata Narcissus berasal. Tidak banyak data disini yang tersedia. Mungkin saja dulu banyak pelancong dari Italia yang selalu berteriak ‘mare’ setiap kali melihat laut atau mungkin juga beratus tahun yang lalu ada seorang pelaut Italia yang mengunjungi pulau ini. Kita tidak tahu. Yang pasti adalaha banyak kata yang kebetulan masih memiliki cerita. Jejak informasi. Jejak-jejak ini yang harus kita kuak dan pelajari. Kata-kata ini bercerita sesuatu tentang pengalaman hidup pendahulu-pendahulu kita. Kata-kata ini menginginkan kita untuk menguak sejarah dengan mempelajari etimologi.
____________________________________________________________________________________________________________________________
Revealing the History, Digging Etymology
Every word in this essay, as you’re reading this essay and now looking at THIS word, including the dots and marks among them, has its own history. Each of them has been through decades and centuries that have slightly or drastically changed its meaning. If understanding the history of Homo sapiens is important, it is also important to know the history of their communication elements. This essay sets out the history or etymology of words, the importance of etymology to reveal the history of human experience embedded in the language, and how learning etymology can help foreign language learners to better learn the target language they’re learning.
Knowing the history of a word equals studying a part of the history of mankind. The word 'narcissistic' as we know it has a negative sense in the first place before now is becoming more and more accepted in Indonesia and is viewed as merely a normal behaviour of a sub-culture, as in the phrase 'anak narsis'. Being called ‘narsis’ in Indonesian language (which translates to ‘narcissist’ in English) is very common among Indonesian urban youth although in its original meaning this word is not as casual as it is now. Indonesian speakers adopted this word from the English 'narcissist' which means ‘someone who loves himself excessively and tended to be selfish’. Its origin is from a term used by a community of psychoanalysts in Germany to describe a psychological condition of 'narzissismus' which was then used by the same circle of professionals in the UK and altered into the word 'narcissism'. The question is, how did they come up with the word? There’s a reason for sure. In the mythology of Ancient Greek, we know Narcissus, a handsome hunter who was condemned by the river fairy he was romantically rejected, spent the rest of his life staring at his own reflection on the surface of the pond with a strong feeling of admiration and love to himself. Experts then use the mythology to name the emotional phenomenon. The question does not stop here. Where did the name ‘Narcissus’ come from? How was that poor mythological guy named? The history of a name. The only piece of information R.S.P. Bleekes claimed is that it is not clear where the name was derived from. What is clear is that the -sus suffix comes from the proto Greek, which does not really explain anything. To this end, we give up. No records available older than the mythology texts. The bright side however is that we know that ‘narcissistic’ was and is still used to denote a psychiatric condition.
A word that brings several elements can have more than one story because each of the elements brings a different story. English word 'assassin' was derived from the term to name the secret Ismaili sect of Islam under the leadership of Hasan Ibn al-Sabbah who dedicated their life to kill the Christian soldiers in the crusade. Murder is usually done after smoking the sap of marijuana or ‘hashish’ that ultimately made them famous as hashish smokers or 'hashisiyyin' in Arabic. Hashisiyyin. Assasin.
The word ‘karantina’ in Indonesian was adapted from 'quarantine' in English, which has French rootsm of 'quarante' and '-aine' which when combined mean 'about forty days', i.e. the length of time a ship and its crew suspected of bearing infectious diseases should be retained in dock before making contact in the harbor.
‘Alpukat’, 'Avocado', still in Indonesian, can be traced back to Aztec’s ‘ahuacatl’ which means ‘testicles (scrotum)’. In addition to the testicles-resembling shape, the avocado is also often used as 'aphrodisiac', food that triggers sexual arousal.
The word 'minggu' in Indonesian was derived from the word 'domingo', a Portuguese, Spanish and a popular Christian name. It is a special because the names of the other days in Indonesian i.e. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat and Sabtu were taken from the Arabic. Many religious traditionalists then 'prohibit' Muslims to use the word 'Minggu' because it was a term from another religious group. They suggest 'Ahad', another word derived from the Arabic, the language of the Quran .
Ten in 10 random Indonesians do not know why they were called Indonesians. So, here’s what should be in the school curriculum. In 1847, an ethnologist of a journal in Singapore, George Samuel Windsor Earl wrote that the population of the occupied Dutch East Indies should had a unique name to refer to their occupied territory without having to be obedient when called 'Nederlands (ch) -Indië'. He then proposed the European misnomer who called any areas stretching along Persia to China as 'India', he proposed the name 'indunesia' or 'malayunesia' (nesos > nesia, Greek for island or archipelago) He himself then chose 'malayunesia' and drop the word 'indunesia' because it was considered more appropriate to race of inhabitants. Also 'indunesia' etymologically could had also been used to refer to other islands like the Maldives and Sri Lanka, which are also located near the East Indies, India. However, other scholar then took the word ‘Indunesia’ because this word was already very familiar in Europe who called these islands 'Indies'. The name was then used by Ki Hajar Dewantara and became our name since then.
The Indonesian archipelago is home to hundreds of indigenous languages. These languages have their own system which have been formed in a long time and has evolved since then. Some words in these languages died, and some were born. To give an idea of the word variation in these languages, here are some words from several different tribes in Indonesia for the word 'sea'.
Batak Karo language on Sumatra island > lawit
Makassar language in Sulawesi > tamparang
Java language in Java > segoro
Minang language in Sumatra > lauik
Bima language on Sumbawa Island > moti
Sasak in Lombok Island > segare
Pujut dialect of Sasal language > mare
What thought comes to your mind when you know that one of the Roman languages, Italian, has the same word for 'sea', i.e 'mare', the same word for 'sea' in Teruwai sub dialect (a sub of Pujut dialect, one of the four dialects in Sasak language, indigeneous language in Lombok Island, Indonesia). It should be noted that the word 'mare' is not used in other areas in Lombok Island, and is only used in the Southern beach area. Is this a coincidence? Does the similarity in four sequence of sound has nothing to do whatsoever with the meaning? I would argue that the word 'goreng' in Teruwai sub-dialect which means 'dirty' in Indonesian has nothing to do with the word ‘goreng’ in Indonesian language which means ‘to fry’. It is safe to say that this is a coincidence because the meaning is far too different. Could we do the same to the ‘mare’ case? Two words. Same sound combination, same meaning. Both the words 'mare' has the same meaning of ‘sea’. I would not associate the word 'mare' /me;/ in English with 'mare' /mare/ in Sasak language because they have distinct meaning and different pronunciation. However, I’m intrigued to find the answer why these two languages have the same word for ‘sea’. In the previous article about the etymology of the Indonesian third person ‘dia’, we found the answer to where this word came from. That the word 'dia' didn’t just got there randomly, that the word 'dia' has a long history. As it is used widely, it can be searched and investigated. The experts could find out where this word originated because this word is considered important and popular. Certainly the word 'mare' in Sasak language is not as popular as the word for 'he' in Indonesian. However, the fact that they posit a strong similarity may tell us something about the history of these two far separated areas which probably are interesting and important for us to know.
Some of the examples above clearly illustrate that words do tell us a lot about the history of mankind and the story of their life experience. Science. One word was born somewhere on the history timeline then evolved in meaning. Studying the etymology is important because etymology is a reminder of the nature of language. Language is dynamic and is a vehicle for the human history. Language learners at a more advanced level can easily guess the meaning when in a newspaper they find the word 'Amerikofilia’ if prior to that they have already understood the elements that make up the word' paedophile'. Reflective learners, with sensitive knowledge about the history of words understand that any ‘-phile’ at the end of a word means ‘the lovers of the + word it is attached to’. It is most often a wrong kind of love, as it is often used to denote sexual or emotional disorder.
The answer to the question why Italians ‘mare’ meaning ‘sea’ is identical to the word from Pujut dialect of Sasak language 'mare' also meaning 'sea' is so far unclear. Tell me it is coincidence. People from the Southern Europeans and people from the Southern Lombok, Indonesia use the same word to denote the same object. At the moment, I know not that yet. Neither did R.S.P. Bleekes who gave up explaining the name etymology of Narcissus. There wasn’t enough data on these cases. There were probably some Italians who were spending time on vacation and started screaming ‘mare’ every time the saw the ‘sea’ or maybe an Italian voyager once visited the island long time ago. We don’t know. One sure thing is that some words happen to still have their traces. These traces are to be revealed and studied. They tell us about our ancestors. They want us to reveal, unveiling the history by studying the etymology.