
seen from Italy
seen from China
seen from Canada

seen from France
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from China
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Italy

seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Estonia
seen from Türkiye
seen from United States
Berhati-hatilah ketika kamu mengkritisi syariat agama yang dibawa Allah dan Rasulnya dengan akal pikiran dan hawa nafsumu. Sebab, tidak mungkin kecerdasanmu itu melebihi Allah dan Rasulullah. Apabila kamu belum bisa menjalankan, diamlah. Tidak perlu mengajak orang lain agar mengikuti dan mengiyakan kritikanmu terhadap agama
Tidak semua syariat yang datang itu harus bisa dinalarlogika manusia. Wajib bagi seorang muslim untuk mengimani. Sebagaimana kita mengimani peristiwa isra' mi'raj, adanya idul adha, shalat wajib lima waktu, dan hukum-hukum lainnya.
Ingatlah, bahwa salah satu bentuk kesombongan ialah menolak kebenaran. Semoga Allah menjaga kita semua dari sifat sombong.
Pena Imaji
JILBAB BUKAN KEWAJIBAN TETAPI PILIHAN
Jika ada orang atau seorang ulama yang mengkritisi jilbab dengan keilmuan tinggi, bukan anti jilbab tetapi memberi pencerahan dan mengkritisi lalu berkata bahwa jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, maka orang atau ulama ini akan dihujat habis-habisan, akan dicaci maki, akan disumpah seranah, lalu dibilang: liberal, sesat, murtad, penista agama dan kafir.
Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan kedewasaan berfikir ?
Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan saling menghargai dan saling menghormati ?
Dan teryata tidak bisa, tidak pernah bisa.
Kenapa tidak pernah berhenti akan pemaksaan pendapat dan pemaksaan kehendak ?
Kenapa tidak kita serahkan pilihan itu kepada perempuan sendiri dan kita hormati: "Yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan, dan tidak perlu diancam-ancam dengan dosa dan neraka".
Yang beragumen jilbab wajib dan jilbab tidak wajib sama-sama dengan dalil Al Qur'an dan hadist, beda penafsiran, beda paham. Dan faktanya sepanjang sejarah:
- Kaum tekstual vs. kaum kontekstual.
- Kaum konservatif vs. kaum rasional.
- Kaum yang tidak boleh menggunakan akal dalam memahami agama vs. kaum akal sehat.
- Tidak peduli, buta dan menolak sejarah.
- Beda paham tidak bisa saling menghargai, tidak bisa saling menghormati.
Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang baik dan benar, pendidikan yang sangat bermutu oleh guru-guru yang bermutu, tetapi ada (tidak digeneralisasi) sekolah negeri yang mungkin tidak mementingkan mutu pendidikan tetapi yang dipentingkannya adalah para siswi harus wajib pakai jilbab dan siswi yang menolak akan dibully dan diintimidasi (tidak digeneralisasi), dan ini bisa sangat berbahaya karena jika jiwanya tidak bisa menerima karena dipaksa untuk sekolah wajib berjilbab maka anak ini bisa depresi (traumatis). Jika ditanya sekolah ini akan ngeles dan berkata: "Kami tidak mewajiban tetapi hanya memberi saran secara lisan untuk pakai jilbab". Apa bedanyanya perkataan tersebut, sama saja, murid-murid menjadi takut lalu terpaksa dan terjadilah pemaksaan. Kenapa tidak diberi saja kebebasan, diberi saja pilihan, yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan, tanpa ada bullying dan intimidasi.
Mutu pendidikan dinegara kita Indonesia ini jauh tertinggal:
- Di Asia Tenggara saja peringkat pendidikan Indonesia nomor 4, kalah sama Singapore, Malaysia dan Thailand.
- Survei negara tercerdas di dunia 2022, penelitian terhadap 203 negara di dunia untuk mengukur tingkat kecerdasan penduduk di masing-masing negara dan Indonesia menduduki peringkat 132.
- 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dan Indonesia tidak termasuk.
- Survei 61 negara yang masyarakatnya paling malas membaca dan Indonesia di peringkat 60.
- Uji kompetensi guru di Indonesia masih berada ditingkat yang sangat rendah, jika dilihat dari Uji Kompetensi Guru (UKG) nilai yang diperoleh rata-rata masih di bawah 5.
Pertanyaannya: Kenapa guru tidak memperbaiki kualitas dan mutu mendidik?
Kenapa justru yang diprioritaskan adalah jilbab dan akhirnya terjadilah pemaksaan?
Jika ada murid/siswa/siswi yang kritis lalu bertanya kepada gurunya :
- Adakah ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa rambut perempuan itu aurat? Jika tidak ada, kenapa perkataan itu ada?
- Adakah perkataan wajib? Apakah semua perintah Allah dalam Al Qur'an itu semuanya wajib?
- Bukankah Asbabun Nuzul ayat itu tentang perbedaan kasta antara budak dan wanita merdeka?
- Bukankah Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana? Maha Pengasih dan Penyayang? Lalu benarkah jika rambut kepala tidak ditutupi akan masuk neraka?
Apakah yang akan dijawab gurunya? Secara jujur atau akan marah?
Jangan pernah terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak, karena akan menimbulkan kebencian dan bisa menimbulkan benci kepada agamanya sendiri.
Yang terbaik itu beri kebebasan kepada perempuan/siswi menentukan pilihannya sendiri:
- Yang berpaham: Jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, kita hargai dan hormati.
- Yang berpaham: Jilbab itu bukan pilihan tetapi kewajiban, kita hargai dan hormati.
Tetapi jangan sampai terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak dari gurunya, ustadznya atau siapapun.
Bisakah? Faktanya dari dulu sampai sekarang tidak pernah bisa.
Bisa jadi semua itu sudah berlebih-lebihan dan Allah tidak suka hal-hal yang berlebihan.
(KH. Quraish Shihab)
JILBAB BUKAN KEWAJIBAN TETAPI PILIHAN Jika ada orang atau seorang ulama yang mengkritisi jilbab dengan keilmuan tinggi, bukan anti jilbab t
Semua ada porsinya..
Benar. Hidup memang ada takarannya. Yg mengatur takarannya ialah syariat. Kita dsini sebagai pelaksana syar'iat harus tunduk dan patuh kepada sang pemilik syariat.
Ada kalanya kita tertawa dan bahagia namun sesuai porsinya. Klw sudah kelewatan batas itu namanya keluar dari aturan syar'iat. Adakalanya kita marah dan emosi namun sesuai takarannya. Klw kelewatan batas itu namanya melanggar syariat.
Simple kan? Ya memang. Klaw itu kita lakukan atas dasar keterikatan kita kepada syari'at. Kita sadar bahwa ketika kita melafazkan Kalimat syahadat itu berarti kita siap dan tunduk kepada syar'iat serta menerima segala konsekwensinya.
Dalam hal sepele saja misal tertawa juga ada porsinya. Jangan mentang-mentang perihal ini dibolehkan lalu kita main labrak aja ketawa cekikikan. Itulah gunanya syariat, mengatur dari hal² kecil hingga besar.
Begitupun dengan kebahagiaan. Kita tidak dilarang membagikan kebahagiaan kpd orang lain seperti berfoto manis dengan sahabat karib. Atau sekedar jalan-jalan sambil menikmati waktu yg pernah tergunakn oleh kesibukan masing-masing. Namun balik lagi, semua ada porsinya.
Klw kamu bilang hal kecil seperti ini terlalu ribet. Sebenarnya bukan syar'iat itu yg ribet. namun otak kita yg bermasalah.
Seberapa sering kamu menasihati dirimu?
Bisa jadi, dari ujian orang lain justru sejatinya hal tersebut adalah bentuk nasihat untuk dirimu sendiri. Namun seringnya naluri baqo' menjadi penghalang untuk menerimanya. Kenapa? Karena masih ada sederet standar manusia yang bercokol di dalam jiwa. Padahal baik-buruk timbanganya tak pernah berubah, dan semata-mata hanya berasal dariNya. Sering kita lupa bahwa kacamata manusia amat sangat terbatas. Dengan lemah dan terbatasnya ini sudahlah pasti tidak bisa menjadi acuan mutlak bagi kita untuk mengambil keputusan.
Wahai diri, kembalikan ketundukanmu semata-mata hanya padaNya, bukan kepada mahklukNya.
(Renungan) Menjadi Perempuan: Mencari Keadilan atau Menuntut Kesetaraan?
Menjadi seorang perempuan itu sederhana. Sama halnya dengan bahagia, ia tercipta dari kebersyukuran atas perihal kecil namun bermakna. Pun menjadi seorang perempuan, kiranya hanya perlu menginsyafi bahwa dirinya istimewa dan bersyukur dengan hak serta batasan yang membersamainya. Islam menyebutnya, fitrah. Ialah anugerah Allah yang menyerta sejak tangis bayi menyapa bumi.
Sang Pencipta kita adalah Yang Maha Sempurna. Maka, penciptaan manusia yang dijadikan-Nya berpasangan laki-laki dan perempuan, tidaklah miskin tujuan. Dalam kitab suci Allah berfirman, bahwa tujuan mengapa Ia menciptakan manusia berpasang-pasangan, berbeda suku dan berbangsa-bangsa adalah supaya saling mengenal. Dan tidaklah ada yang membedakan derajat manusia melainkan karena derajat ketaqwaan (QS. Al-Hujurat: 13).
Sekarang, ketika Allah secara detail memberikan ‘amanah’ pada perempuan yang cukup berbeda dari laki-laki, apakah itu membuat kedudukan-Nya menjadi tidak adil? Oh ya, mungkin sebenarnya kita sama-sama mafhum bahwa Allah pastilah berlaku adil, tapi beberapa saudara kita menginginkan yang lebih: kesetaraan.
Mereka sebut, menutup aurat menghalangi kebebasan, mengikuti kehendak suami adalah bentuk penindasan, pembagian hak waris yang lebih sedikit dari laki-laki adalah ketidakadilan, serta ayat yang berbunyi ‘ar-rijaalu qowwaamuna ‘alan nisaa’i’ (QS. An-Nisa’: 34) sebagai indikasi adanya bias gender dalam kitab-Nya.
Mereka sebut, menjadi seorang perempuan haruslah mampu melampaui batasan yang mengekangnya. Seorang perempuan seharusnya bebas melakukan apa yang disuka, berhak melakukan apa pun tanpa perlu mencari izin untuk itu, memiliki kedudukan yang sama dengan suami di dalam rumah tangga, dan berbagai propaganda lainnya. Indah dan heroik sekali, bukan begitu? Ya, sepintas ajakan ini akan nampak sebagai narasi perjuangan.
Baik, sebentar. Ya, mari tarik napas perlahan.
Mari kita melompat ke beberapa kurun waktu yang telah lalu, saat perjuangan atas nama perjuangan perempuan pertama disuarakan. Pertama muncul, gerakan ini didasarkan adanya penindasan dan penghinaan yang besar – kalau tidak bisa dibilang luar biasa – di Barat sana. Jika tidak menurut aturan, perempuan bisa dihukum dengan tak wajar. Hukuman dengan penyiksaan, bukan pendidikan. Alih-alih mendapatkan efek jera, hukuman yang ada justru menghilangkan nyawa beserta kenangan pahit bagi perempuan di Eropa kala itu. Jika tak menurut saja demikian berat konsekuensi, apalagi untuk mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan mengemukakan pendapat. Jelas tidak ada titik terangnya. Maka, muncullah gelombang pemberontakan. Hingga saat ini kita kerap mendengar istilah feminisme dan emansipasi wanita, itulah produk perjuangan perempuan pada masanya.
Ibu Kartini, jua adalah sosok perempuan yang diteladani atas keteguhan hatinya. Memperjuangkan hak kaum perempuan adalah fokus utamanya. Karena hak belajar, bekerja, juga bersuara untuk perempuan Indonesia nyaris tak ada. Kita dapati ide-ide cemerlangnya dalam kumpulan suratnya pada sahabatnya nun jauh di Belanda sana, yang kini kita kenal dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
Kini, perjuangan perempuan rupanya masih ada dan menggelora. Tapi esensi perjuangannya, perlu ditelisik dalam lagi. Benarkah perempuan masih ‘kurang setara’ dari laki-laki? Jika ya, dalam hal apa? Bukankah islam telah datang dan menghapuskan kejahiliahan? Bukankah kini hak perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, serta berpendapat sudah sama halnya dengan laki-laki?
Kalaulah yang dituntut perjuangan ini adalah syariat agama Islam, maka kiranya perjuangan ini salah sasaran.
Mengapa demikian?
Sebagaimana tertuang di awal tulisan, telah dikutip firman Allah dalam Al-Quran apa tujuan Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ya, karena masing-masing membawa peran. Telah Allah siapkan peran terbaik untuk laki-laki, sebagai imam, sekaligus yang menanggung beban keluarga di dunia maupun akhirat kelak. Dan bagi perempuan, karena demikian istimewanya, Allah lindungi dengan batasan aurat, aktivitas harus bersama dengan mahram, melakukan sesuatu harus seizing orangtua/suami, dan juga lainnya.
Menutup aurat mungkin dirasa berat, harus meminta izin di setiap aktivitas dirasa merepotkan. Tapi itulah syariat, Allah inginkan hamba-Nya taat karena sungguh, Ia lebih mengetahui apa yang baik untuk kita dibandingkan dengan kita sendiri.
Pun untuk kaum adam. Rasulullah mengibaratkan perempuan adalah tulang rusuk yang mudah patah, maka laki-laki harus sedapat mungkin menjaganya. Tidak dengan diluruskan paksa karena akan patah. Tapi juga tidak dibiarkan saja hingga akhirnya melengkung bahkan berbalik arah. Ini kewajiban yang berat pada laki-laki dan tidak ditanggungkan kepada perempuan. Seperti kewajiban memberi nafkah, melaksanakan sholat jumat, sholat berjamaah lima waktu ke masjid. Ini cara Allah menempa, supaya seorang laki-laki kelak mampu menjadi imam dunia hingga ke surga.
Dalam konsep syariat, Allah menerapkan konsep adil, sesuai peran yang telah digariskan. Berbeda dengan pendidikan, pekerjaan, berpendapat yang antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Dalam syariat, masalahnya bukan terletak pada kesetaraan, tapi sejauh mana batas peranmu telah Allah tentukan.
Kita perlu bertanya, menelisik lebih jauh ke dalam hati kita, benarkah yang sedang diperjuangkan? Kebenaran kah atau sekedar hawa nafsu yang ingin diperturutkan?
Sehingga, wahai perempuan, marilah berlomba-lomba dalam kebaikan. Caranya dengan memenuhi amanah-amanah yang telah diberikan. Karena sekali lagi, pembeda antar insan adalah kadar ketaqwaan. Kita perjuangkan yang seharusnya diperjuangkan. Itulah perjuangan melawan hawa nafsu.
Ya, hawa nafsu yang menggerogoti iman lebih layak kita lawan dengan sebenar-benar perjuangan. Jika kita berhasil, sungguh menjadi perempuan itu sederhana. Sesederhana bersyukur dan senantiasa menginsyafi peranan kita sebagai perempuan.
Perempuan yang sebaik-baik perhiasan, yang kelak pantas untuk surga berada di kedua telapak kakinya.
Maitsa’ Fatharani
Surakarta,9 April 2020
3.05
Tentang syari'ah sering kali di artikan melalui penampilan atau hal tentang riba.
Jarang dikaji secara mendalam dan luas.
Seperti sopan santun, tata bahasa, tata krama, bahakan dalam hal melayani tamu atau pelanggan dalam berbisnis.
Cantiknya manusia dinilai dari akhlaqnya.
Sedang mulianya manusia karena Taqwanya.
Kembali kepada yang seharusnya
Banyak yang berdalih dengan argumentasinya yang menggugah, menyampaikan prinsipnya dengan harapan bisa menjadi contoh yang positif untuk kehidupan orang lain.
Salah??
Tidak, selama itu sesuai dengan syariat Islam maka tak ada masalah.
Kata kuncinya adalah syariat, sebagus apapun sebuah motivasi tapi jika tidak sesuai dengan syariat Islam maka tinggalkan. Jangan berkata "ini cocok dengan saya".
Bagi yang bingung dengan kehidupannya, maka kembali ke syariat. Dan bagi yang tau arah hidupnya, maka tetap kembali ke syariat. Kalau tidak sesuai maka tinggalkan.
Persoalan apapun itu ada dalam Islam, bahkan hingga masalah cinta. Cinta itu simpel kalau kita mengikuti syariat, bukannya mengikuti hawa nafsu.
Intinya, kembalikan semuanya kepada yang seharusnya. Kita umat islam, maka kembali ke syariat Islam. Jangan yang lain..