Ketika anak perempuan pertama bertemu anak laki-laki pertama,
seperti bermusuhan dengan ego setiap harinya.
Kamu, laki-laki dewasa, bertanggung jawab dan sedang berproses menata masa depan.
Maaf harus bertemu denganku yang terlalu banyak kurangnya.
Kalau ditanya, pasti kamu menyesal bertemu denganku.
Kalau bisa memilih, pasti kamu tidak akan pernah memilih bertemu denganku.
Berjalan begitu saja
sampai tiba dimana masing-masing ego mulai meruntuhkan segalanya.
meruntuhkan komunikasi, kepercayaan, sikap dan perasaan.
Aku yang selalu ingin tau kabarmu, aku yang selalu ingin menjadi prioritasmu, aku yang selalu ingin mendapat pengakuan darimu dan aku yang selalu egois karena ingin dan harapku sendiri.
Pelan-pelan aku berusaha memperbaiki diriku sendiri
memperbaiki pola pikir, mengelola emosi dan menghilangkan segala prasangka di pikiran dan hati.
Kuhapus semua sosial mediaku agar tidak menambah pikirku.
sengaja kututup segala akses overthinkingku
agar aku dan kamu tetap baik-baik saja.
Sudah cukup bermain dengan ego,
tak akan kuturuti lagi semua egoku
karena ego, aku hampir kehilanganmu