Anjangsana; sebuah upaya meleburkan rasa
Seharusnya sudah tidak ada alasan bagiku untuk terus menemuimu.
Seharusnya tidak ada lagi perasaan setelah momen kita yang sedikit demi sedikit berkurang atau mungkin nantinya tidak ada lagi.
Seharusnya aku tidak membiarkan kepalaku dipenuhi oleh bayangmu setiap hari.
Seharusnya pula aku tidak membiarkan tanganku diam-diam memantau akun sosmed-mu.
Aku sebetulnya tidak yakin dengan apa yang kutuliskan kali ini, tapi perasaanku terus bergejolak. Aku mendengar seseorang mengatakan:
"Jatuh cinta itu di luar kendali, tetapi mencintai itu sepenuhnya kendali kita"
Perasaan yang kali ini kurasakan benar-benar berbeda dari perasaan yang pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan, aku tidak yakin apakah yang kurasakan ini perasaan cinta, kagum, naksir, atau apalah namanya. Aku tak peduli orang menyebutnya apa.
Namun, yang kutahu pasti aku selalu ingin menemuinya. Alam bawah sadarku selalu mencari sosoknya. Meskipun sebenarnya dia dekat, tapi tidak juga. Masalahnya, meskipun kami sudah cukup sering pergi bersama, aku merasa ada semacam jarak aneh yang menghalangi kami. Aku tidak yakin jarak apakah itu.
Bahkan untuk menemuinya, aku selalu mengumpulkan keberanianku untuk menyapanya lalu mengajaknya mengobrol sebentar. Meskipun kadang rasa canggung muncul tiba-tiba dan membuat suasana menjadi sedikit aneh. Aku selalu mensyukuri pertemuanku dengannya.
Setiap membuat janji temu, aku selalu berpikir tidak apa-apa karena waktuku bersamanya hanya sesaat. Aku sadar betul jika perasaan ini hanya sementara. Terlebih, perasaan ini serupa karma bagiku.
Aku akan menerima karma itu sampai berakhir. Setidaknya, ini tidak seburuk itu. Meskipun buruk, tapi tidak juga. Entahlah, aku tidak begitu paham dengan perasaanku kali ini.










