Rumah dan Memori
Alhamdulillah bahagia sekali rasanya bisa pulang kembali ke rumah. Malam ini malam yang tenteram dengan gerimis sisa tadi sore di luar.
Ayah di kamarnya sibuk di depan laptop sambil telponan dengan seorang kawan lama dengan bahasa jawanya yang fasih, sementara Ibu sedang duduk di sofa ruang tamu sembari membaca buku serta dengan headset di kedua telinganya, sesekali terkantuk-kantuk. Nenek ada di kamarnya, sudah tertidur pulas sambil sesekali terbatuk-batuk. Adik nomor satu sedang ada raker dan memilih menginap di kosan temannya, adik nomor dua masih di pondoknya yang berada di Jawa, sementara kakak merantau ke Jakarta, bekerja untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah agar ia bisa segera menikahi anak orang.
Keadaan seperti ini benar-benar harus dinikmati dan dirasakan keberadaannya. Nampaknya normal dan biasa saja, tapi jika kita mengingat bahwa waktu sungguh sangat cepat berlalu, betapa banyak kejadian-kejadian sehari-hari yang menurut kita itu mungkin biasa saja, lalu kita menjalaninya tanpa arti, padahal di setiap waktu adalah berharga.
Tidak akan selamanya rumah dalam keadaan seperti ini. Akan tiba hari dimana kursi yang biasanya terisi, nantinya kosong. Ruang makan yang biasanya ramai di jam makan, kelak hanya denting jam dinding yang berisik di sana. Buku-buku yang biasanya tergeletak di atas meja, sisa dibaca tadi malam, kelak akan selalu rapi di raknya, sebab tiada lagi yang membacanya.
Percakapan-percakapan sepele seperti,
"headset aku dimana, ya?"
"Lihat handphone ku nggak?"
"Remote dimana?"
"Mau pakai laptop?"
"Nitip kirim paket, dong!"
"Airnya udah dimatikan belum?"
"Angkat jemuran yuk, mau hujan."
"Jendelanya tutup aja."
"Kucingnya belum dikasih makan."
"Tanamanku udah disiram belum?"
"Lihat jepitanku nggak?"
Dan masih banyak percakapan sepele lainnya yang sebenarnya amat berharga untuk dikenang, direkam dalam memori ingatan, bahwa kita memang pernah sama-sama dalam suatu masa, menjadi sebuah keluarga. Tidak boleh pura-pura peduli karena memang harus beneran peduli. Katanya keluarga, kan.
Bahkan sampai detik ini, Ayah Ibu masih terus mendukung apa-apa yang hendak kulakukan. Sampai terpikir, bagaimana bisa jika nanti aku tanpa mereka?
Bdg, 12 Maret 2021 | 20.36 | @wedangrondehangat
















