Pentingnya Family Value
Nilai-nilai seperti apa yang perlu diadopsi oleh suatu keluarga?
Alhamdulillah berkesempatan hadir di live instagram Mbak Dhira dan Bapaknya, Pak Jamil Azzaini. Meski live dilakukan di tempat yang terpisah, keduanya terlihat begitu hangat dan kompak dalam obrolan kemarin saat membahas “Family Value”.
Family Value yang kemarin dibahas merupakan Family Value yang diadopsi oleh keluarga beliau, yakni:
Tidak membandingkan anak.
Customer focus; saling melayani layaknya customer. Ketika ada anggota keluarga yang meminta tolong, selama kita ada waktu dan mampu maka jawablah, “siap!” langsung laksanakan.
Integritas; apa yang kita ucapkan, sama seperti apa yang kita lakukan. Bukan cuma ngomong, tetapi dilakukan sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan dan respect dari orang lain. Hal ini juga akan melatih kita untuk ikhlas. Tanpa ada orangtua yang memperhatikan, kita akan tetap melakukan perbuatan baik tersebut karena kita punya integritas, menjalankan apa yang diomongkan.
Bagaimana cara melihat integritas seseorang?
Hal ini dapat dilihat misalnya ketika seseorang tersebut join suatu kepanitiaan. KIta bisa melihat bagaimana ia mengatur anak buahnya, mengelola keuangan acara, atau bagaimana cara ia merancang suatu acara. Selain itu, cara mudah lainnya adalah buatlah janji bertemu dengannya di waktu-waktu yang sulit, lihatlah apakah ia mampu datang tepat waktu?
Bagaimana cara hidup bahagia tanpa memikirkan apa kata orang?
Pak Jamil juga membahas dua hal penting bahwa dalam hidup:
Ada hal yang berada di dalam kendali kita; seperti pikiran kita, omongan kita, sikap kita.
Ada hal yang berada di luar kendali kita; seperti bencana covid-19, respon orang, dan lain sebagainya.
Bila kita fokus pada apa yang ada di luar kendali kita maka kita bisa jadi stres, depresi, capek, banyak ngeluh, dan lain-lain. Misalnya, “Kapan covid-19 berakhir?” atau “Kenapa dia mengabaikan aku?” pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya di luar kendali kita malah akan membuat kita stres sendiri.
Namun, bila kita fokus pada apa yang ada di dalam kendali kita, maka kita lebih mampu untuk bahagia. Misalnya, “Oh, mungkin Allah beri cobaan covid-19 supaya kita bisa menghabiskan quality time di rumah bersama-sama, setelah selama ini jarang berkumpul di rumah seperti ini.” atau “Oh, mungkin dia mengabaikanku karena dia butuh mengambil jeda sementara waktu dan akan menghubungiku kembali di lain waktu.” Jadi, sebenarnya kita bisa berbahagia dengan cara fokus mengendalikan apa-apa yang bisa kita kendalikan, bukan fokus pada apa yang tak bisa kita kendalikan.
Tulisan ini ditutup dengan kutipan nendang dari Pak Jamil,
“Hidup harus ada ruhnya, begitupun dengan rumah tangga, maka hidupkanlah rumah dengan Family Value.”
Bandung, 9 Juni 2020 | 11.16
















