Untuk setiap air mata yang kulepas diam-diam, untuk setiap kesedihan yang kau pendam dalam-dalam: berbahagia memang bukan di dunia tempatnya.
©Fasih Radiana (@fasihrdn)

seen from United States

seen from Türkiye
seen from India
seen from Russia
seen from United States
seen from Colombia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France

seen from United States
seen from Kuwait
seen from United States

seen from France
seen from Mexico

seen from France
seen from Serbia
seen from Serbia
seen from Serbia
seen from China
seen from China
Untuk setiap air mata yang kulepas diam-diam, untuk setiap kesedihan yang kau pendam dalam-dalam: berbahagia memang bukan di dunia tempatnya.
©Fasih Radiana (@fasihrdn)
Bila Dunia Kau Ingini
Bila harta, tahta, kedudukan, dan juga cinta memenuhi jiwa, dunia jadi tujuan utama. Maka seseorang secara sadar atau tidak, akan berani mengambil langkah apa saja, bahkan termasuk "menyakiti" sesamanya.
Mata tiap-tiap kepala boleh saja tidak melihat, tapi kalbu di dalam dada tak akan bisa mendustai dirinya sendiri atas apa yang telah diperbuat.
©Fasih Radiana (@fasihrdn)
Lalu apa artinya tidak boleh bercerita kepada manusia? Menceritakan masalah lalu meminta saran ataupun sekadar ingin ditenangkan kepada sesama manusia adalah fitrah. Namun, perhatikan, siapa orang yang kau ceritakan. Bercerita tentu berbeda dengan mengeluhkan keadaan. Mengapa? Karena seseorang yang mengeluh adalah tanda ia belum mampu bersabar. Apa itu sabar? Menerima takdir yang menimpa dirinya, lalu berupaya memperbaiki dan mencari jalan keluar. ©Fasih Radiana, Yogyakarta
Hujan Rindu di Tanah Merah
Ada kalanya, seutas rindu ingin melepaskan dirinya. Digunting hangat kata-kata. Dipeluk mesra oleh hati lapang yang menerima.
Ada waktu, sekeping rindu hanya jadi receh dalam dompetmu. Tak tersentuh. Tak bernilai. Kau masukkan ke dalam celenganmu.
Ada ketika, kita hanyalah kau dan aku. Yang satu penuh harap. Yang lain mengepulkan asap, katanya, mau apa lagi?
Lalu ada, satu titik yang terhubung dari dua kata. Hujan rindu.
Tetes demi tetesnya tak mampu menjadi utuh, berceceran ke mana-mana. Begitu saja membasahi tanah merah. Lalu mengering sebelum engkau tiba.
©Fasih Radiana, Yogyakarta, 21 September 2016
Masa Lalu, Jangan Malu untuk Berlalu
Pada gelas kaca yang memerah bias senja. Duduk-duduk meliarkan air mata.
Bersama senyum yang menyimpan luka. Jauh, dari mata. Jauh, dari rasa. Jauh dari kita.
Bersama siluet yang tersisa, bayang-bayangnya terlampau kentara. Ia pikir ilusi belaka.
Sebab dalam mendung yang tak menyumbang hujan, ada gigil yang kian gemetar. Ia kira siapa lancang membuka gagang tanpa mengucap salam. Ah, ternyata masa silam. Masa lalu, jangan malu-malu untuk berlalu.
Dariku, yang tak bisa menghapusmu tapi sungguh tak lagi ingin merasakanmu.
©Fasih Radiana
Rindu yang tak bertuan; pulanglah dalam doa. Gelisah berkepanjangan; pergilah dengan ikhlas.
Fasih Radiana (@fasihrdn)
Bila harap adalah jabat. Tanpa ramah sebuah sapa, ia hanyalah asa. Tinggal sisa-sisa. Lebur begitu saja. Sia-sia.
Fasih Radiana (@fasihrdn)
Jangan hanya diam. Jangan cuma bungkam dan ikut-ikutan. Berkata iya padahal dirinya tak suka. Bertindaklah, bergeraklah. Hidup terlalu rumit bila kita hanya mampu berkomentar ke sana kemari, mencaci-maki, mengutuk dalam hati. Pemberani bukan selalu yang paling depan dalam medan perang, tetapi yang jujur bersahaja.
Fasih Radiana (@fasihrdn)