Petisi: To rise and fight back.
I'm sorry if this text contains so much hate and inappropriate words. But let's see in the different kind of perspective.
Entah sejak kapan gue punya haters (selalu mau ngakak kalau ngetik ini), because I'm not even popular, sometimes I feel that I am invisible for a lot of people. Cuma udah lama gue mendetect kejanggalan ini (halah) dan menurut gue juga, I've done my best efforts untuk tidak menimbun enemies within my society, tapi lagi-lagi entahlah.
lebih tepatnya nggak ngerti,
kenapa ada orang yang cape-cape menyita waktunya buat membenci orang lain. Buat menyalurkan nafsunya berusaha membuat orang lain menderita. Dan bagian gobloknya ialah kalau dia melakukan itu untuk jadi tameng bagi temennya.
To make it simple nih, I give you an example:
Seandainya haters gue A, dan temennya B. Keberadaan si A yang sangat membenci gue habis-habisan ini adalah suatu hasil dari keberadaan B yang sama; bencinya, tapi nggak punya kuasa dan mungkin nggak bermental sebaja si A. Dalam rangka menyalurkan hasrat si B yang nggak kesampaian menyakiti gue, maka muncullah si A ini. Dengan segala daya upaya melakukan segala macam cara, entah bagaimana, ya itu tadi, membenci seorang gue (disini gue tekankan seorang gue karena sampai sekarang gue masih ngerasa nggak penting untuk dibenci, dari sinilah keheranan gue berasal).
Dan dengan kurang kerjaannya, menghimpun orang lain untuk ikut-ikutan membenci gue.
Selalu ada aja reason buat si A ini menaruh perhatian sebegitu banyaknya ke gue, yang nemuin titik jeleknya gue di inilah itulah, padahal dari awal kan gue udah bilang, I am just a human, kalo kata orang-orang mah nobody is perfect, we all make mistakes. Hahaha, namanya juga orang benci, daki sekecil apapun melekat di badan aja pasti keliatan.
in the same time, si A juga keliatan seperti ingin make friends sama gue, tapi kemudian dia labil dan ngata-ngatain gue, terus tiba-tiba ngefollow dan add friend di Path (nggak paham kan? sama, gue juga),
"AH KEMOONNN, DUDE ARE YOU MENTALLY SICK OR WHAT?"
Nih orang sakit mental apa gimana.
Kalau temenan mah temenan aja, kalau busuk mah busuk aja, itu yang ada di pikiran gue dari dulu sampe sekarang. Nah kalau dia mah enggak, labil, mood swingnya parah kali ya, kasian gue liatnya.
Awalnya gue seperti orang-orang lain yang mencoba buat intropeksi diri, salah apakah gue ini sampe sebegitunya. Dan coba buat chill, I mean toh dia juga just a person only consists of 70% of water and dust, why do I have to afraid and care.
gue dulu males berurusan dengan hal demikian, gue males yell balik disaat dia neriakin gue dengan kata-kata yang nggak sepatutnya diucapkan, I didn't stare back at the moment she stared at me dengan tatapannya yang sok sinis biar gue jiper, I didn't laugh or cry either. I kept silent. Dan itu hal yang gue sesali sampai sekarang.
Gue nggak takut akan keberadaannya yang merusak itu.
Tapi gue takut apa yang gue lakukan akan salah, which is to fight back.
And eventho gue nggak menderita mau dibenci sedalam apapun,
gue masih wonder gimana seandainya saat itu gue ngata-ngatain dia balik, atau gue bales tatapannya dengan tatapan "GO GET A LIFE BITCH. MUCH LOVE XOXO.". Di saat itu gue hanya males untuk bikin perkara, makanya gue nggak ngelakuin itu semua.
Sayang sekali, too bad, padahal dengan segenap jiwa dan raga, gue mampu nih sekarang buat membayar rasa penasaran gue kalau aja dia berada di depan gue saat ini. Dengan gentle. Tanpa ekor-ekor dia yang sangat subjektif itu.
Gue nggak mau dibilang sok punya nyali atau tiba-tiba berani setelah sekian lama, tapi gue sih, personally nggak mau terus-terusan berada di titik bodoh, jadi orang yang cuma diem disaat ditekan, atau jadi lebih bodoh lagi: bikin orang lain benci sama orang lain. Sebenci-bencinya gue sama seseorang, gue sih anti hasut-menghasut. Sifat kayak gitu yang amat sangat bisa dijadikan bahan tertawaan.
Disini gue cuma mau bilang. Merujuk pada contoh yang gue berikan tadi, to people out there, if there's anything that hurt you or make you uncomfortable, fight it back. Nggak usah sok suci dengan bilang ke diri sendiri kalau itu nggak penting buat dilawan balik. At the first time kalau emang itu nggak mengganggu, nggak apa-apa.
Lo bisa balik badan, kibaskan rambut dan bilang "Talk to my hands. Ehe."
Tapi kalau lo mulai merasa risih,
lo merasa eneg (seperti yang gue rasakan),
sementara lo dihina-hina dan yang di otak lo adalah pengen ngebentak balik,
kemarahan lo udah berada di kerongkongan minta disalurkan,
dan dia nggak ngelakuin itu cuma sekali, apalagi dia cuma ngelakuin itu just to please herself,
I'll let you to fight back.
give them a slap and additional punch in the face, if necessary. Ini hanyalah sebuah bentuk perlawanan kalau lo juga manusia dan lo nggak hidup di dunia cuma buat menerima perlakuan-perlakuan semacam itu. Bangkitlah. I say again, rise and fight back.
Karena gue tau rasanya dibodoh-bodohi dan merasa bodoh, gue sarankan buat nggak melakukan hal yang sama kayak gue dulu.
Sekian itu aja tulisan (sekaligus curhatan) gue, yang balik lagi ke perspektif masing-masing, mungkin bisa jadi sangat useful buat yang baca atau sebaliknya. Hanya mau menekankan sekali lagi, gue menulis ini dengan tujuan baik.
(Because a good faith is taken into account in law). *
*((Terms and conditions apply)).
BYE PEOPLE. Thanks for reading. See you later!