Saya akan pindah, sore ini juga. Pindah kos-kosan. Well, there’s nothing in particular with my old kos-kosan. It’s just a little bit far from my campus compare to the recent ones and… yeah, more expensive. Padahal sejujurnya, saya sudah cinta mati dengan kos ini. Kalau tidak dengan alasan yang mendesak itu, saya tidak akan mau pindah. Karena ada beberapa anak sefakultas saya yang tinggal sederetan kamar, dan tepat di depan kamar saya ada sebuah waiting spot; or ngegaul spot, or what-so-ever, which is immensely comfort. Dan segudang alasan lain yang membuat saya enggan untuk pindah.
However, back to pindahan. I never really had a good experience with moving out. Pindah. Selalu menyakitkan, apa pun alasannya, kemana pun tujuannya, bagaimana pun bentuknya. Selalu menyisakan rasa sesak di dada dan rasa tak rela. Rasanya baru kemarin saya merasa homesick karena harus tinggal sendirian; punya kamar untuk dihuni sendiri di Jogja, tapi kini saya harus pindah lagi. Harus memulai lagi. Load and unload. Pack to unpack.
Saya benar-benar akan rindu dengan kecepatan internet yang mahadahsyat di kos ini, designnya yang minimalis korealis tapi tetap futuristik, ibu kosan baik hati yang selalu menawarkan makan siang (karena tau penderitaan seorang anak kosan), those two fluffy cats which love to cuddle around, and sort of. Oh, no. I start being melancholy again.
I wanna cry, I hate this moving out part.
Kamar ini, kamar sempit yang lebih sering saya tinggal daripada tempati ini, menyimpan banyak sekali cerita. Cerita malam-malam sedih saya, hingga saksi bisu perjalanan cinta. Saya ingat, dulu sekali, ketika kos-kosan ini masih dihuni oleh tiga orang termasuk saya, seorang anak mahasiswi fakultas kedokteran dan sang anak pemilik kos, saya sering ketakutan. Saya rewel mengajak teman-teman menginap saking heningnya. Seiring berjalannya waktu dan tahun ajaran baru dimulai, saya yang mulai terbiasa sendiri, kini harus berbagi dengan beberapa teman dari Amerika yang sedang punya program volunteer di Jogja. They are Shelby, Tiffany and Kelsie.
Suatu siang, penjaga kosan meminta tolong kepada saya untuk menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris kepada Kelsie yang unfortunately, harus pindah kamar karena pipa air di kamar mandinya sedang rusak dan harus diperbaiki.
“Hey, I am really sorry to disturb you, but you have to move to another room because, um, the pipe in your bathroom needs to be repaired.” adalah kalimat pertama saya yang mengantarkan ke perkenalan saya pada tiga sahabat saya yang baru itu.
Setelah tiga bule itu kembali ke negara asalnya, kos ini pelan-pelan ramai dipenuhi mahasiswa baru. Ada yang dari fakultas kedokteran, hukum, komunikasi, ilmu budaya dan ilmu politik. Pernah suatu malam kami semua kelaparan dan kami berjalan kaki hingga ke salah satu warung steak di pinggir jalan yang jaraknya lumayan jauh dari kosan. Hari itu juga yang menggenapkan rasa betah saya tinggal disini. Tapi kemudian hari ini akhirnya tiba juga. Ketika tumpukan kardus harus pelan-pelan saya keluarkan isinya dan saya tata ulang. Saya harus berusaha mencintai tempat yang baru, membuat diri saya sendiri nyaman dan mungkin… I’ll soon have new friends there. Or maybe I will discover some other great things. Nobody knows.
Pindah bukan hanya berarti meninggalkan, tapi juga memulai awal yang baru. Maybe it's not bad at all. Maybe it will be good for me eventually. Maybe a new zone will bring the best out of me. And all I have to do is to enjoy the process.
Because like Brian Tracy said, "Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to feel awkward and uncomfortable when you try something new." :) wish me luck!