Perkara Bulu Mata
Rumah.
Kuliah pukul 09.00.
Tapi alarm di handphoneku sudah berbunyi sejak pukul 05.00 tadi. Tepat setelah sayup-sayup subuh lewat, aku membuka mata.
Tak langsung beranjak dari tempat tidur. Justru malah meringkup kedinginan karena hujan semalam.
Membuka handphone sekilas, scrolling instagram dan mengecek beberapa notifikasi di WhatsApp. Setelah beberapa menit berlalu dengan kegiatan rutin itu, barulah diri beranjak bangun, mengambil air wudhu dan beribadah.
Kebiasaan tidak baik memang. Tapi begitu lah, aku termasuk orang yang terbawa arus dengan gaya hidup orang-orang zaman sekarang. Ah tidak, makasudku,
tidak sepenuhnya terbawa arus, hanya saja, sebagian diriku masih bisa asertif terhadap hal-hal yang terlalu berlebihan.
Kampus.
Aku telat. Tidak seperti biasa, palang kereta api yang biasanya hanya tertutup selama kurang lebih 5 menit, kini tertahan lebih lama. Simpangan tindih kereta api menahan puluhan kendaraan yang hendak berlalu lalang dan membuatku harus bersabar dan betah menunggu lama. Belum lagi macet panjang di jalan sekitar bandara. Membuat emosi kecil menyelinap dan menyesakkan dada.
Agak berlarian kecil menuju kelas. Benar-benar kondisi yang tidak aku sukai. Berkeringat. Cemas. Mata kuliah yang satu ini memang istimewa, apalagi dosennya.
Aku segera membuka pintu kelas dan kudapati seseorang berdiri tepat dihadapanku setelah melakukan presentasi. Karena terburu-buru, aku tak memperhitungkan langkah kakiku. Aku berdiri tepat di hadapan mata seseorang yang telah aku kagumi beberapa waktu ini. Dia kakak angkatanku, kebetulan mengambil kelas yang sama denganku. Ya, dia mengulang kuliah, mungkin karena tidak puas dengan nilai akhir, atau entah karena apa. Yang jelas, aku dan dia hanya bertemu di mata kuliah yang satu ini.
Beberapa teman memperhatikanku. Dosen duduk di bangku paling belakang, sibuk dengan makalah yang harus ia cermati.
Tak butuh waktu yang lama untuk membuatku sadar bahwa aku harus bergegas meletakkan tas dan pantatku di bangku. Sebelum seseorang sadar, bahwa dirinya begitu istimewa di mataku.
Mendapatkan kesempatan untuk berada di jarak terdekat dengannya, aku jadi tahu,
bahwa dia memiliki bulu mata yang indah sekali.
Wajahnya mirip Dimas Anggara. Skala 11:12 menurut versiku.
Kagum, ya aku hanya kagum. Tak pernah berusaha lebih dari itu. Karena aku sudah mempunyai seseorang yang lain di hati. Mungkin, si kakak kelas itu juga sama. Sudah memiliki seseorang di hati. .... (berlanjut)
[PART 1]









