Berteman tanpa bertema. Berbunyi tapi sunyi. Kamu bingung? Sama. Tapi aku menikmati.
Paramuda
No title available

Origami Around
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS

oozey mess
No title available
No title available

ellievsbear
$LAYYYTER
Sweet Seals For You, Always
sheepfilms

Game Changer & Make Some Noise
The Stonewall Inn
Lint Roller? I Barely Know Her

#extradirty
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

tannertan36
cherry valley forever
★

if i look back, i am lost
seen from Poland

seen from Chile

seen from United States
seen from Greece
seen from Indonesia
seen from Indonesia
seen from Brazil
seen from Ukraine
seen from Brazil
seen from Norway
seen from Iraq
seen from Argentina
seen from Lebanon
seen from Jordan
seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Japan
@sholichmubarok
Berteman tanpa bertema. Berbunyi tapi sunyi. Kamu bingung? Sama. Tapi aku menikmati.
Paramuda
Bebas bukan karena bekas. Bebas bukan karena bablas. Aku bebas, karena aku diikat.
Paramuda
Akhirnya Bertemu Akun Sang Teman Itu
Dulu dia pernah main Facebook. Lalu dihapus. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Tidak pernah bertanya. Lagipula bagaimana mau tanya, kontaknya saja tak punya sama sekali.
Betapa payahnya mencari teman yang dia tidak hidup di dunia maya. Dia juga tidak hidup di kolam seperti kecebong, atau hidup di goa seperti kampret.
Beberapa kali mencoba mencari tahu sang teman itu, mengetik namanya di Google. Tidak nemu. Hanya profile dia yang sudah usang di LinkedIn.
Mencoba di medsos lain, Twitter dan Instagram. Nihil. Mencoba dari nama awal, tengah atau nama panggilan. Podo wae.
Benar-benar insecure.
Lalu, pada suatu kala, ketika aku naik bus, mendadak terlintas sebuah susunan kata yang berputar di kepala. Aha, Eureka!
Aku menyingkat nama pertama dan nama tengah, lalu mengutuhkan nama akhir. Alhamdulillah akhirnya ketemu. Apakah ini yang dinamakan ilham? Kamu pernah merasakannya juga?
Akhirnya follow Instagram. Akunnya diprivate. Benar-benar ansos benar dia. Masih seperti dulu. Tak lama kemudian menerima, dan memfolbek akunku.
Aku amati unggahan-unggahannya. Tak banyak. Dia tampaknya makin subur. Memiliki anak-anak yang lucu dan istri yang saya tidak tahu siapa namanya. Sementara dirinya jarang posting muka. Ini Nicholas Saputra apa gimana sih?
Setelah itu ya sudah. Cukup. Tak ada tegur sapa atau tanya kabar. Pun aku tidak melakukan hal yang sama. Tampaknya ada sesuatu dari masa lalu yang belum selesai. Tapi apa? Entah.
Sudah tahu dia masih hidup saja sudah sangat bersyukur. Yang penting dia tidak menyembah kol goreng.
Dia tidak bisa menemani malam lagi
Dia telah mati. Sepertinya akibat minum banyak air hujan. Aku sudah berusaha agar ia kembali. Hasilnya nihil. Ia tidak bisa apa-apa.
Aku tak bisa menulis di malam-malam. Atau memang ini tamparan. Mentakacuhkannya begitu saja. Tulisanku mangkrak lah.
Aku masih punya handphone. Paling tidak. Meski harus sakit mata memelototinya.
Aku sudah melupakannya, setelah ia keluar dari gerbang sekolah.
Paramuda
Terbangun
Dia masih berada dalam tenda. Dengan beberapa teman pasukan pandunya. Sebentar lagi akan keluar membawa secangkir teh hangat untuk aku yang dingin.
Aku lalu terbangun. Hanya mimpi.
Pergi adalah cara terbaik untuk rindu pulang.
paramuda
Jika sudah sakit jangan sebarkan penyakit
paramuda
Selalu ada hal-hal ajaib setiap kali menulis.
Paramuda
Buk, Aku Ranking 4!
Tas itu aku lempar ke lantai. Lalu melepas sepatu dengan kecepatan dari biasanya. Aku membuka resleting tas, mengambil buku bersampul biru: raport!
“Buk, lihat. Aku ranking 4!” deretan nilai aku tunjukkan.
Ibuk melihat. Lalu biasa saja ekspresinya. Benar-benar biasa. Tidak seperti di iklan televisi yang menceritakan kebahagiaan selepas minum susu sapi.
Bangunan hatiku barangkali runtuh. Pengin dipuji ibuk bahwa aku golongan anak pandai di putih biru. Anak yang rajin biar dibelikan sepeda baru seperti tetangga di depan rumah.
Tapi memang, ibuk tidak seungkap begitu.
Barangkali besok aku harus ranking 3, 2, 1 dan...0
Setelah itu, ia meminta aku memecahkan kelapa dengan bendo, lalu memarut kelapa. Kemudian diminta daun karle di depan rumah mbah. Ibuk memasak tidak seperti biasanya.
Belakangan aku tahu, “Ibuk tidak peduli nilai raport. Ibuk hanya mau nilaimu tidak merah.”
Sudah.
Jangan Mengetuk Pintu yang Terluka
“Patah lagi?”
“Tak apa, aku sudah terlatih.”
Di bawah pohon akasia, ia duduk pasrah. Busur ia empaskan ke tanah, di atas rumput-rumput hijau yang mulai meninggi. Dan sebuah anak panah yang patah.
Aku tidak tahu pasti apa yang dirasakan laki-laki itu. Sepanjang hari ini ia tidak menampakkan matahari dari mukanya. Padahal hari ini begitu cerah dan ranting-ranting tidak ada yang jatuh.
“Atau ....”
“Berhentilah bertanya. Aku tahu arah kalimatmu, kau mau bertanya tentang perempuan yang menggedor pintu di siang itu kan?”
Jika sudah begini aku tidak akan pernah bertanya lagi. Barangkali diam adalah jalan keluar. Tapi membisu malah membuat jalan menjadi buntu.
“Yang penting kau sudah berusaha untuk tidak patah,”
Laki-laki itu memainkan anak panah yang patah. Rahangnya mengeras. Setelah itu aku tahu selanjutnya tapi tidak akan aku biarkan.
Satu minggu lalu, di awal Ramadhan, laki-laki itu kulihat sangat bahagia. Ia senang Ramadhan telah tiba. Makin berbinar lagi ketika pintu rumahnya diketuk seseorang.
“Ia mengetuk kembali pintu rumahku. Betapa bahagianya aku!”
Aku ikut senang. Sepanjang Ramadhan ia begitu semangat. Ada pendar-pendar dari sorot minusnya.
“Seharusnya dia tidak perlu menggedor pintuku lagi. Jika hanya mengantarkan potongan hati yang basi,”
Dia bicara lagi. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak membahasnya. Tapi barangkali dia memang butuh pendengar.
“Dongeng-dongeng yang indah sudah kauhabiskan di alam imajinasi. Itu akan sulit bagimu menciptakan cerita yang indah di alam mata.”
“Ketukan pintu maut. Ia mengetuk hanya untuk mematikan semangat hidupku.”
“Tapi kau masih punya hidup. Kau punya senyum yang ditunggu banyak orang. Kau masih punya panah. Ya panah ini. Meski patah, bisa kau ganti lagi kan?”
Dia diam.
“Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri. Aku sudah terlatih.”
Nenek Tisu Dua Ribu dan Pengemis-Pengemis Itu
“Tissuenya dua ribu!”
Begitu dan seterusnya. Setiap kali berangkat kerja sering melihatnya di jalan, di lorong kampus swasta di Margonda. Jalanan yang hanya bisa dilewati oleh dua orang berpapasan. Dan penjual tissue itu duduk, menghalangi kami. Jika ada yang papasan, kami menunggu di depannya. Hingga ada celah untuk jalan.
Satu, dua, tiga,....
Aku menghitung dalam batin, lalu...”Tissuenya dua ribu!”
Selalu terngiang begitu. Tak ada kalimat lain, sampai hafal di luar kepala dan dalam hitungan-hitungan yang lepas.
Menggelisahkan lagi ketika ada yang membeli, maka kami akan mengantre untuk sesuatu yang tidak jelas.
Tak jauh darinya ada ibu tua dengan anaknya yang masih kecil. Duduk. Di jalan yang sama. Satu mangkuk di tangannya, atau sekali waktu ditaruh di atas aspal. Mengemis. Lalu di ujug tikungan ada lagi, pemuda. Lusuh, rambut keriting dan tiduran. Kemudian di sana, ada seorang bapak tua menyapu sambil duduk. Mengumpulkan hasil sapuannya di situ. Menumpuk dan itu tetap dibiarkan dan menyapu yang sudah bersih.
Ibu penjual tissue masih “terhormat” ia masih berupaya. Sisanya aku tidak punya istilah lainnya. Tapi mereka sama, memungut hak para pejalan.
“Jika tak memberi jangan mencaci maki,” begitu kata orang dari ruang lalu.
Di hari yang masih sama.
Setelah itu, kata-kata terdiam
Dari sebuah ruang kosong, bertumpuk buku-buku. Jika kau ambil satu, maka akan meniupkan debu-debu. Bikin mata indahmu kelilipan.
“Kau pandai menulis. Aku suka dengan kata-kata,” kataku padamu, di bawah temaram teplok yang tak menyala. Siang terlalu ganas untuk memasukkan cahayanya.
Ada tiga, oh empat maksud aku, teman yang suka dengan kata-kata. Mereka meliuk-liuk kalau sedang menulis. Mesin tiknya, bukan apa-apanya dan apa adanya.
“Aku juga suka dengan kata-kata,” tuturmu, timpal.
Padahal Jakarta, tapi sunyi. Padahal Ibu Kota, tapi renta. Masih di ruang yang sama sebenarnya.
Di tahun yang berbeda.
Tiga oh maksudku empat temanku. Mereka sudah tak terdengar lagi. Wajahnya masih. Senyum mereka masih. Bertebaran di laman-laman bersosial, yang tak tersentuh.
Dan mereka sudah menggantungkan mesin tik. Sudah sibuk dengan dinding-dinding baru yang mereka ciptakan. Kata-kata mereka terdiam. Bisu. Hanya haha-hihi. Lalu, hihi-haha.
Dan kau juga tak tampak. Aku punya kata-kata untukmu.
Mari tuntaskan, pekerjaan hati
Paramuda
Setiap yang tersakiti berhak untuk tidak melihat masa lalunya
paramuda
Mas, Saya Mau Pulang...
Refleks aku menoleh. Laki-laki berbadan gemuk itu, memanggil. Asing di depan mata. Nafasnya Senin Kamis tapi aroma yang keluar dari tubuhnya Sabtu malamnya para lajang.
“Mas orang sini kah? Saya butuh bantuan,” ia menyeka peluh dari dahinya. Medhok di tenggorokannya tidak bisa ditinggalkan.
“Saya mau pulang...”
Di pinggir jalan, di trotoar Ibu Kota, di malam 30 menit lewat sembahyang Isya. Ia bercerita. Tas tentengnya terbawa oleh orang ketika di bandara. Ia baru saja baru pulang dari tugas keluar kota. Dompet, ponsel dan barang bernilainya raib.
“Ini masih menempel kertas maskapai saya,” ia menunjukkan kertas kuning yang menempel di tas ranselnya. Tertulis di sana nama sebuah maskapai berlambang singa.
Hanya tas ransel yang mungkin berisi pakaian itu yang masih tersisa. Ia meminta uang, ehm, tepatnya meminjam uang untuk ongkos pulang.
“Nanti saya akan kembalikan, tapi maaf mas, tidak bisa langsung,” ujarnya.
Tak bisa langsung karena ia harus mengurus surat kehilangan ke kantor polisi. Untuk mengurus ATM.
Aku tak banyak bicara, hanya tertarik dengan segala penjelasannya. Aku pernah kehilangan tas, yang isinya ada dompet dan di sana ada ATM serta KTP. Jadi paham tentang itu.
Kadang kita perlu percaya dengan orang baru...
“Saya akan naik bus ke Banjar.” ia menyebut sejumlah uang. Tak banyak, hanya 120ribu.
“Tidak naik kereta saja biar lebih cepat?”
“Tidak mungkin, karena harus memakai KTP.”
Ah iya.
“Boleh minta nomor, Mas? Nanti saya hubungi untuk pentransferan,” pinta laki-laki itu.
Saya mengeluarkan buku note dan bolpen. “Silakan, Mas tulis nomor mas saja di sini,” perintahku.
“Mas saja yang tulis!” balasnya.
Aku menggeleng, ia menyerah. Lalu menuliskannya. Ternyata ia tidak hanya menuliskan nomor ponsel tapi juga alamat lengkap rumahnya.
Di kantong dan dompetku tak ada uang bersemayam sebanyak itu, tapi mendekati. Sementara kalender di arloji sudah menunjukkan batuk kering.
Namanya Rizky. Rizky Fakhrozi. Orang Banjar, Jawa Tengah.
“Oh ya minta nomor, Mas. Mas muslim kan?”
Aku menuliskan di halaman berikutnya di buku seukuran kantong kemeja om-om kantoran itu. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya membuat otakku berpikir tentang diri sendiri. Sebegitu asing kah wajahku untuk masuk kategori sebagai muslim yang berwajah adem? Atau dawam wudhu yang tertutupi oleh kerak-kerak noda?
Di tengah obrolan itu, mendadak ada mobil avanza hitam berhenti di belakangku. Aku dibekap dan dimasukkan dengan paksa ke dalam mobil. Tapi khayalanku kelewat liar dan kriminal. Mobil avanza yang berisi keluarga itu hanya tanya jalan menuju Setu Babakan. Tak lama, mobil itu berlalu.
Rizky banyak bertanya tentang aktivitas kantor dimana dan bergerak di bidang apa. Serta lulus kuliah tahun berapa.
Ia pun pamit ketika angkot merah menuju Rambutan sudah datang. Ia mengucapkan terima kasih.
Aku jalan. Lalu ada sapaan lagi. Aku menoleh.
“Mas Mubarok, terima kasih ya!” bernada teriak, Rizky melambaikan tangan sebelum masuk ke angkot. Wajah serupa Senin pagi yang penuh tugas kantor itu agak cerah, penuh semangat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kondisiku seperti dia. Lebih jauh dari dimensi, bagaimana jika “Saya mau pulang..” tapi tidak punya bekal apa-apa. Tak ada sama sekali. Pada hari kepulangan nanti....
Jakarta, 29 Desember 2016
Payung Melankolia
“Sial!”
Serapah itu muncul dari laki-laki di ujung gang. Palkanya terkontaminasi cipratan air genangan. Belang. Bentuknya lebih menyerupai matcha latte cake yang jatuh dari lantai 13.
Satu motor kotor telah lewat dengan jumawa. Tanpa menoleh. Pengecut!
Sudah susah payah ia menggunakan payung, merah pula. Payung adalah terminologi asing yang baru ia terima sepekan ini. Dari dulu ia tak suka memakai payung. Tak laki, katanya. Lebih baik hujan-hujanan atau meneduh di warung-warung tutup di pinggir jalan.
Payung yang membuatnya bisa mengantar Kartika, perempuan dalam hatinya. Pekan lalu sepulang dari ekskul.
Ia jalan lagi. Tiga rumah lagi akan sampai. Satu lembar amplop ia keluarkan. Ia tatap lekat-lekat, di dalamnya ada puisi yang ia tulis. Tak habis pikir, zaman sekarang masih saja ada yang memakai surat untuk menghubungkan rasa.
“Waalaikumsalam,” perempuan itu melongokkan kepala. Manis.
“Ini ada titipan dari Andhika, buat...kamu! Aku tidak tahu apa isinya,” kata laki-laki itu, menyodorkan.
Setelah itu ia pamit. Padahal ingin berbicara banyak. Kata-katanya telah habis. Menatapmu saja sudah senang, Kartika.
Masih dengan payung, masih hujan yang gemuruhnya berpindah ke hatinya.
Kesepian melemahkan sistem kekebalan tubuh. Dan aku menguatkannya lewat puisi itu.