Aku terkenang akan dirimu.
Aku terkenang akan dirimu.
Kala kulempar pandangku ke luar jendela sore ini, kulihat matahari bersinar hangat. Pohon jati tak menyisakan kecuali sedikit dedaunan di ujung rerantingnya. Panjang sekali barisan pohon jati itu, berderet-deret. Sisa-sisa daunnya bergerak ditingkahi angin semilir yang berhembus. Dan entah bagaimana rasanya suasana seperti ini familiar sekali.
Untuk kemudian kala kututup mataku dan kuhela dalam napasku, kuterkenang akan dirimu. Dan kala ku buka mata, pandangku tertuju pada tumpukan daun di bawah pohon jati. Banyak sekali dedaunan kering yang jatuh itu. Sepanjang tanah diantara pepohonan, adalah daun pohon jati. Tanahnya hanya sebagian kecil yang nampak. Rasa-rasanya hal semacam ini mengingatkanku pada entah apa.
Lalu ingatku berkelindan pada sebuah masa dimana aku ingat sekali, betapa bahagianya menghabiskan waktu bersamamu. Lantas aku tersenyum. Padahal mataku tetiba menghangat dan pandangku jadi agak mengabur. Lalu setitik air mata meluncur melalui pipi. Menyadarinya, aku mengusap air mata itu. Lalu kukenali perasaan ini. Kenal sekali. Dan rasa-rasanya aku telah melewatkan begitu banyak momen, dan secara tidak sadar aku merasa kurang. Ada yang hilang. Ya, presensimu dalam kehidupanku adalah absen semenjak kita tidak lagi berjalan berdampingan.
Lalu aku terkenang akan sebuah tempat dimana entah mengapa tempat itu terasa begitu spesial. Selama delapan belas tahun aku beredar di bumi ini, rasa-rasanya momen terbaikku kuhabiskan disitu. Aku tau kau juga tau.
Tempat dimana aku mengenalmu, lalu tempat dimana aku mengenalmu lebih jauh, dan tempat dimana kita ditempa untuk kemudian menempa generasi selanjutnya.
Membayangkannya saja, aku rindu. Rindu, rindu sekali. Merindukan masa dimana kita menghabiskan waktu bersama. Aku bisa lihat senyummu sepuasnya, mengobrol denganmu hingga aku lelah, bersama menertawakan hal-hal remeh, melihatmu bertingkah aneh, atau sekedar mendengar ceritamu dan tetiba kau menangis entah kenapa.
Ada bahuku. Kalau kau masih mau menangis dan bersandar, aku masih sanggup melakukannya, insyaa Allah.
Ada telingaku. Kalau butuh didengarkan dan sedang ingin meluapkan sesuatu yang melelahkan hatimu, aku ada.
Ada tanganku, badanku. Kalau kau mulai ingin berkata kau lelah, aku bisa memelukmu.
Ada kakiku. Kalau kau merasa sendiri, tak ada yang menemani, aku bisa berlari menghampiri.
Jarak, betapa ia memisahkan kita.
Aku tak bilang dia jahat. Sebab, ada masa depan yang menunggu. Sementara ini kita berpisah dulu. Penting sekali untuk menyiapkan diri, sebab sama dengan sedang menyiapkan masa depan Indonesia. Tak apa. Sementara ini rindu biar ditahan dulu. Berdo’a yang banyak, biar nanti bisa bertemu sepuasnya di tempat yang dijanjikanNya bagi mereka yang saling mencinta karenaNya.
Kalau memang begini harusnya, walau kau tak lagi membersamaiku, aku bisa bertahan. Asal kau janji bakal melakukannya juga.
Rindu ini, aku yakin aku tak sedang merasakannya sendiri.
Kalau kau ada, mungkin bakal kuhambur raga yang amat kukenali dengan peluk paling dalam.
Terima kasih buat ada pada masa itu. Maafkan, mungkin amat sering aku menyakitimu. Tenang, aku sudah memaafkanmu. Kalau aku ada utang, kau bisa menagihnya padaku (:
buat kawan-kawanku, angkatan VII SMA Ar-Rohmah Putri IBS
jangan lupa ingatkan dia selalu.
Blitar, 28 September 2019