FILOSOFI BOLED
Hari ini pukul sembilan malam lewat sekian menit, dua Juni dua ribu lima belas. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan kepada teman-teman yang beragama Islam: “Allahumma bariklana fii rojaba wa sya’bana wa balighna romadhona waghfirlana dzunubana. Marhaban yaa Romadhoon marhaban yaa Syahrus Shiyaam...” Dan buat teman-teman yang beragama Buddha: “Selamat Hari Waisak 2599” Oh iya, saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang ingin membaca tulisan saya. Tulisan ini dibuat dalam rangka untuk sugesti diri dan terapi hati. Hari ini sampai tanggal tiga puluh Juni dua ribu lima belas nanti. Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang FILOSOFI BOLED versi saya. Sejujurnya, judul dari tulisan ini terinspirasi dari sebuah buku fiksi karya mbak Dewi Lestari,yaitu Filosofi Kopi. Kalian tahu tidak, apa itu BOLED? Yang sudah tahu apa itu boled berarti kalian satu suku dengan saya. *Aduh bahasanya satu suku jeh*. Dalam bahasa kami (Cirebon dan sekitarnya), Ubi Jalar biasa kami sebut dengan nama BOLED. Seperti itu. Jadi boled itu a.k.a ubi jalar. Siapa yang suka makan boled? Cung! Kalau suka berarti sama dengan saya. Saya paling suka makan boled cilembu,boled ungu juga enak. Apa sajalah, yang penting itu boled. Mau bolednya dibakar, direbus atau dibuat macam-macam kue lainnya. Saya makan deh. Hehe.. Tetapi, apa hanya saya saja yang setelah makan boled suka kebablasan buang angin ya? Apa kalian juga seperti itu. Kalau iya, kita sama. Ini yang saya pikirkan. Mengapa harga jual boled rebus lebih murah dari pada harga jual boled yang sudah dibuat cemilan keripik boled? Mengapa bisa begitu? Iya, karena boled yang satu dimasak hanya direbus. Sedangkan boled yang lainnya tidak hanya direbus saja, tetapi digoreng sampai renyah atau garing, kemudian ada proses diberi bumbu atau perasa dan terakhir proses pembungkusan, boled yang sudah melalui beberapa proses tersebut diberi wadah pembungkus yang cantik agar menarik hati para konsumen yang melihat untuk membelinya itulah yang menyebabkan harga keripik boled menjadi lebih mahal. Sama seperti saya. Okeh anggaplah boled itu saya. Jika saya ingin menjadi orang sukses, orang yang berjaya. Maka saya harus melewati beberapa proses. Tiap prosesnya itu bertahap one by one. Tidak ujug-ujug langsung sukses. Saya harus ikhlash, sabar, istiqomah dalam tiap prosesnya. Jika saya gagal, saya harus coba lagi. Seratus kali gagal, Allah masih memberikan seratus kali kesempatan untuk mencoba lagi. Jika saya masih gagal lagi, ya masa saya kalah saing sama keripik boled sih? -_- Seperti itu kurang lebih Filosofi Boled versi saya. Jadi ceritanya seperti ini, beberapa hari yang lalu saya dan adik saya membeli cemilan di minimarket dekat rumah. Saya berhenti pada etalase tempat cemilan keripik boled. Jujur, saya agak sedikit kaget. Harganya lumayan dikantong ini cemilan. Hmm..
















