SOOCA terakhir (?) di Jatinangor
Semua orang perlu tau agar tidak melakukan kesalahan yang sama, untuk itu saya menulis ini tanpa ada maksud lain.
Saya mahasiswa fakultas kedokteran universitas padjadjaran, jurusan idaman sejuta umat di masa itu. Saya akan bercerita, mungkin terdengar kufur nikmat tapi saya tidak bermaksud seperti itu. Sejujurnya saya tidak pernah berpikiran untuk kuliah di kedokteran dari lahir. Karena saya nggak suka menghafal dan saya memang bukan penghafal yang baik. Singkat cerita saat kelas 3 SMA semester ganjil, saya merubah tujuan yang tadinya mau ambil IPC jadi ambil kedokteran. Saya nggak mungkin mengambil keduanya, sama sama berat. Akhirnya saya fokuskan satu, dan itu adalah kedokteran.
Apa yang membuat saya merubah target jurusan kuliah dalam waktu yang singkat, yang dari awal memang ingin mengambil jurusan di bidang keuangan mengikuti jejak papa saya, tiba-tiba ingin kedokteran? Karena saya ingin membahagiakan mama dan almarhum mbah kakung. Mbah kakung adalah sebutan untuk kakek saya, orangtua dari mama, yang dulu pernah keterima FK UGM tapi karena tidak punya biaya jadi harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Mama saya juga pengen ada anaknya yang jadi dokter, tapi mama tidak memaksa saya sama sekali. Ya karena adek saya yang kedua dari lahir juga udah bercita-cita jadi dokter. Jadi adek saya ajalah, saya sih nggak mau kuliah kedokteran.
Tapi waktu itu mbah kakung serangan jantung, hampir dipanggil malaikat (almarhum yang bercerita ke saya setelah sembuh). Hal itu yang membuat saya akhirnya memilih kedokteran. Iya, umur seseorang siapa yang bisa memprediksi, takutnya mbah kakung meninggal sebelum ada cucunya yang jadi dokter. Karena saya cucu pertama, apa salahnya membuat bangga mbah kakung di akhir hayatnya, yang juga bisa membuat bahagia mama saya. Bismillah, akhirnya saya pilih kedokteran dan alhamdulillah diterima.
Saya diterima di dua tempat waktu itu, FK UNPAD dan FK UNS. Singkat cerita, saya memilih FK UNPAD, karena itu pilihan mama saya juga. Pikir mama, kan deket dari jakarta jadi mama bisa sering sering nengok. Saya semakin mantap memilih unpad, saya yakin itu adalah pilihan terbaik fiddunya wal akhirat, jawaban dari doa saya selama ini. Awalnya saya pengen kuliah di FK UGM, tapi seseorang pernah bilang, kalo kedokteran dimana-mana sama, buku yang dipakai juga sama, ujung-ujungnya juga kan jadi dokter, jadi di universitas selain UGM UI juga gapapa.
Saya rasa itu salah. Untuk anak SMA yang sedang mencari jurusan kuliah kedokteran, cari tau dulu sistem apa yang dipakai di universitas tersebut, apakah sesuai dengan cara belajar kalian. Bayangan saya kalau kuliah di kedokteran, kita akan sering merangkum textbook, mengerjakan tugas, mengerjakan soal-soal sambil membaca rangkuman. Ada yang bilang juga ke saya, nggak kok kedokteran itu bukan hafalan, tapi pemahaman, saya semakin mantap di kedokteran.
Dan akhirnya saya kehilangan satu puzzle kehidupan yang sampai saat ini saya tidak tau apa alasan Allah yang begitu baik hati memberikan saya dua pilihan, UNPAD dan UNS, tapi saya ditakdirkan di UNPAD. Saya mengalami 3 fase di 3 tahun berkuliah di fk unpad.
Ya, seperti kita tahu, tahun pertama kuliah adalah masa adaptasi. Dan pada saat itu serentak dengan kejenuhan saya yang terlalu memaksakan diri belajar selama SMA demi bisa lulus dengan terhormat, sampai saya lupa definisi bersenang-senang. Bayangkan baru selesai rangkain ujian tiba-tiba harus terekspos dengan SOOCA. Alhasil saya cuma bisa meminta doa mama dan mbah saya setiap ujian sooca. (Oh ya buat yang belum tau sooca, coba search di wordpress tag sooca. Atau mbah gugel mungkin lebih tau.) Banyak masalah yang menghampiri saya saat itu, ah muak mengingatnya. Saya berhasil melewati 3 kali sooca dengan sooca pertama mendapat nilai tinggi, sooca kedua saya remedial sampai imunitas saya menurun drastis hingga terinfeksi tuberculosis, sooca ketiga saya mendapat keberuntungan lagi dengan nilai lumayan.
Setelah berhasil keluar dari muaknya kejenuhan, akhirnya saya sempat bernafas selama liburan. Dan fase kedua ini, ambisi saya untuk membenarkan nilai saya kemarin sangat tinggi, saya ingin belajar nggak sekedar keberuntungan, karena yang saya hadapi nanti adalah pasien. Pada dasarnya saya bukan orang yang pemalas, saya juga tau amanah saya besar, saya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tapi ya, SOOCA tidak sesuai dengan cara belajar saya. Saya suka belajar dari dasar, perdalam dulu dasarnya, baru setelah itu saya bisa menyelesaikan masalah dari dasar yang sudah dipelajari itu. Seperti layaknya matematika, saya pelajari dasarnya rumus itu muncul, setelah itu saya buat rumus baru yang nyaman saya gunakan. Tapi fk unpad berhasil membuat jalan pikir saya berubah drastis. Kita dituntut menghafal segala materi yang superficial, yang penting tau garis besarnya. Tapi saat itu saya tidak mengeluh, walaupun disertai masalah masalah internal, saya tetap menjalankan dan belajar yang namanya SOOCA. Dua kali SOOCA, yang pertama saya mendapat nilai lumayan karena saya minta doa mbah kakung, yang kedua nilai sekedar lulus karena saya hanya minta doa mama. SOOCA kedua jauh lebih menyakitkan, saya dapat kasus anaphylactic shock, saya yang buat path-path nya, saya juga ngedraft, tapi ketika maju di depan penguji yang saya ingat sedikit, udah gitu path2 yang saya buat dibilang salah. Masa-masa itu memang tidak banyak dosen yang mengajar jadi wajar kalau saya tidak tahu mana yang benar dan yang salah. Ya, saya ingatkan lagi, jika kalian bukan orang yang rajin banget membuat catatan tapi penghafal yang baik, pilihlah fk unpad.
Tahun ini identik dengan skripsi, iyalah sudah mendekati tingkat akhir. Tapi alhamdulillah skripsi saya dilancarkan. Jadi tidak terlalu membebani saya. Lalu saya masih harus menghadapi SOOCA yang alhamdulillah jadwal tutor dikurangin dan jumlah kasus pun dikurangi. Semester 5 saya akui saya tidak belajar karena SOOCA semester 4, udah belajar nilai juga jelek. Mending nggak belajar sekalian. Dan yap, SOOCA semester 5 saya nilainya sama kayak semester 4 tapi yagitu nggak belajar. Semester 6 ini, saya sudah muak dengan SOOCA. Capek ah, masa tiap sebelum SOOCA saya harus kesakitan, degdegan, sesak napas, kadang muntah-muntah. Bisa dibilang ini SOOCA tertenang saya, saya tidak terlalu banyak palpitasi. Saya pasrah ikhlas, niatkan ibadah aja. Jadi kalaupun nilai jelek, saya tetep dapet pahala. Dan SOOCA kali ini tidak disponsori oleh doa mbah kakung karena mbah kakung belum lama ini meninggal. Yaps, dengan bermodalkan beberapa kasus yang dihafal, saya datang ke ruang ujian, yang penting absen. Tadaa saya mendapat kasus yang saya tidak buat draft cuma baca, mana hafal. Ya mau bagaimana lagi, saya siap remedial sooca yang kali ini saya jamin saya tidak akan terinfeksi apapun karena stress. Kemampuan menghafal saya memang sangat rendah, saya tidak bisa menghafal sebanyak itu. Bahkan menghafal 5 lirik lagu pun saya tidak bisa.
Oke awalnya mendengar saya remed memang saya menangis. Sakit hati. Padahal semester 6 ini saya belajar, saya membuat rangkuman tapi memang tidak membuat draft sooca. Beda lho rangkuman sama draft SOOCA. Draft SOOCA itu konsep. Seberapa banyak yang mau kamu bahas di kasus itu, sedalam apa anatominya, sesingkat apa klinisnya sampai kira-kira pas 20 menit. Tapi, ya mau gimana lagi ini takdir namanya.
Saya sudah muak sejujurnya dengan fk unpad. Bayangan saya bisa belajar seperti saat SMA dulu, membuat rangkuman, dibaca berkali-kali, lalu sambil mengerjakan soal-soal latihan biar makin nempel, ternyata tidak seperti itu. Saya ingin jadi mahasiswa normal, saya ingin belajar begadang mengerjakan tugas. Bukan berdoa dan belajar penuh tekanan mengharapkan sebuah keajaiban. Iya, SOOCA itu ujian yang subjektif. Tes keberuntungan.
Ah yaudahlah, kemungkinan terburuk SOOCA itu adalah remedial. Bukan masuk neraka. Jadi SOOCA bukan segalanya. Mungkin hikmahnya dengan di unpad saya jadi lebih dekat dengan Allah, ah tapi udah berdoa juga masih dikasih remed, mungkin sedang diuji tingkat keikhlasan dan kesabarannya. Entahlah... Satu potongan puzzle kehidupan itu sampai sekarang masih belum saya temukan, tapi mama saya selalu membesarkan hati saya, sabar nak Allah pasti punya rencana, yang penting jangan berhenti berdoa dan belajar.