Holla!!! Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog.. hehe.. Pada kesempatan kali ini aku akan menceritakan ujian yang sudah sangat tidak asing lagi di FK Unpad tercinta. Yap, SOOCA (Student Objective Oral Case Analysis). Tidak dipungkiri bahwa penyebab stress kronis di fakultas tercintaku ini adalah SOOCA. Bayangin aja aku dan teman-teman yang lain harus mempersiapkan presentasi sekitar 17 case yang akan diundi secara acak pada 30 menit sebelum presentasi. 17 case itu adalah case utama, belum lagi ditambah case yang dipisah menjadi dua atau bahkan tiga atau mungkin etiologinya diganti.
Dulu, saat masih semester pertama, what i think (and maybe others) is that i should get an A for SOOCA. Apapun yang terjadi pokonya harus dapet nilai A. Setiap orang melakukan persiapan ini itu jauh-jauh hari sebelum SOOCA. Rasanya begitu hina kalau H-7 belum bikin draft atau at least fotokopi draft punya orang lain deh. Padahal dulu case yang diujikan Cuma TUJUH loh!! Dan bahkan saat SOOCA pertama tuh Cuma ENAM case loh!!! Tapi ya Allah Gusti nu Agung..... hina banget rasanya..
Di H-21 ini aku masih santai. Aku masih menjalani kehidupan secara normal seperti berorganisasi, bermain, tidur-tiduran, serta bercanda riang gembira tanpa ada rasa berdosa dan kehinaan. Draftku masih 4/17 case (3 DMS dan 1 HIS) itu pun belum bikin pathogenesis-pathomechanism dan draft flipchart. Kehidupan terasa begitu indah saat itu. SOOCA is still far far far far far far away.....
Hampir sama seperti minggu yang lalu. Kehidupan masih begitu indah dengan kegiatan organisasi, bermain, tidur-tiduran, serta bercanda riang gembira. Bedanya sih ada sedikit rasa berdosa yang terganjal dalam dada karena draft baru 8/17 dan dua minggu lagi SOOCA. Orang-orang juga masih menjalani kehidupan secara normal namun sangat sensitif apabila mendengar kata “SOOCA”. “SOOCA” disebut-sebut sebagai kata yang jorok lah, asusila lah, porno lah, ga sopan lah, ah pokoknya kata yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Aku mulai begadang-begadang cantik di cafe sekitaran Jatinangor-Bandung untuk belajar bersama Alifah. Niatnya sih bareng Isti dan Maryam, tapi mereka lebih memilih pulang daripada belajar. Waktu itu Aku dan Alifa bgadang cantiknya di McD Soeta. Di situ enak banget buat dipake belajar.
Pokonya yah, kalo udah deket-deket SOOCA pasti kamu akan menemukan banyak anak FK Unpad lagi ngambis bikin draft SOOCA di cafe-cafe sekitar Bandung- Jatingangor. Ya dengan modal minimal 7000 (beli eskrim) bisa lah nongkrong di cafe buat belajar sampai subuh.
Keadaan sudah semakin genting. Syndrome Pre-SOOCA sudah merajalela. Salah satu gejala syndrome Pre-SOOCA yang paling terkenal adalah nikah muda.
“Anjir mending nikah aja!!”
“MOODBOOSTER hari ini adalah KOPI, TEH, dan JUS”
“jus apa? Teh apa? Mau niru dong”
“KOPInang kau dengan bismillah, TERrimalah pinanganku ini, JUStru itu aku meminangmu”
“Kyaaa.. deket Al-Huda ada tuh, katanya kalau pencatatan tuh biayanya 30 ribu. Tapi kan berarti buku nikahnya berada di domisili Nangor. Pengennya sih di Bandung aja..”
“Pengen nikah sama orang ganteng, tajr, dan penyayang aja biar bahagiaaaa... huhuhuuu”
“I wanna marry your daugter... make her my wife...” *nyanyi-nyanyi sambil galau bikin patpat*
Kesensitifan akan SOOCA semakin kuat. Orang-orang semakin unreachable untuk kegiatan organisasi atau bahkan untuk kumpul ngegosip (termasuk aku karena HP aku lagi ga bisa dicharge dan sinyal provider di tab sangatlah jelek, haha). Kamar yang rapi kini menjadi sangat berantakan dimana buku, handout, dan kopian draft SOOCA orang bertebaran dimana-mana. Ada yang ditempel di dinding, lemari, berserakan di lantai, bahkan kebuang karena terkuwel-kuwel dikira sampah. Entah krena sudah merasakan 4x SOOCA atau gimana tapi aku masih belum deg-degan!! Aku masih dengan santainya marathon drama Korea di sela-sela ngedraft, hahaha...
Status LINE orang-orang semakin aneh. Ada yang (tetep) ingin nikah muda, ingin pindah jurusan, meratapi penyesalan karena tidak bikin draft, meratapi penyesalan karena kelamaan tidur. Pokoknya semakin menggila lah. Kalo bahasa kedokterannya sih “malignant”.
Aku sebenarnya sedikit bingung dengan diriku sendiri. Pada hari-hari mendekati SOOCA aku masih belum deg-degan. Duh kenapa sih si aku teh? Aku masih menyempatkan diri menonton drama korea di pagi hari padahal draft SOOCA belum selesai semua. Masih tersisa 5 case lagi yang belum terbahas dan hampir semua pathogenesis dan pathomechanism belum dibuat. Myeheheheheheheeee....
Mostly anak FK Unpad yang ngekos di Taruna menghujat PLN karena terjadi pemadaman listrik.
“HAYANG NAON ATUH SATEH PLN, NYAHO KEUR DIAJAR...!!! MAYAR LISTRIK OSOK.. MANA CIKAN NOMOR HAPENA”
“Mamang PLN ga pernah ngerasain SOOCA sih”
Alhamdulillah aku sudah membuat semua draft SOOCA. Horray!!!! Tapi patpatnya beluuuuum :( :(
Eh tapi tetep sih santainya ga nahan. Apalagi pas tau kalau aku SOOCA nya kloter kedua. Makin nyantai ga nahan. HINA BANGET DA SUMPAH!!! Terus aku baru SOOCA-SOOCAan 7 case dan case-case lain belum ada pat-patnya. Aku dan Maryam memutuskan untuk belajar di kamarnya Alifah. Alifah nampak sangat ketakutan karena dia kebagian kloter pagi. Alifah tidak mau aku dan Maryam meninggalkan dirinya.
Masih di kamar Alifah jam 1 malam. Aku dan Maryam terserang hypersensitivity tipe non alergy subtipe aversion dimana kami mulai palpitasi, gatal-gatal, dan terdapat erythema macule dan papule saking takutnya menghadapi SOOCA. Alifah terkadang mengeluh dan membuat suara tangisan kecil. Dia memutuskan untuk begadang karena Alifah belum ngedraft 2 case lagi. Entah aku sudah resisten atau bagaimana tapi aku malah tidur dengan cantiknya di kamar Alifa dengan memeluk guling.
Beberapa jam pergi ke padang mahsyar A63
Masih di kamar Alifah. Aku bangun tidur jam 5 pagi dan mengalami palpitasi kronis. AJDHAKJFHGDSUIDhewfuebkHGDLK BELUM BIKIN 7 pathogenesis-pathomechanism!!! Duh ini udah kurang hina apa coba? Dulu aja pas masuk FK yang SOOCA nya cuma 6 case uring-uringannya luar biasa bahkan di H-21. Alifah meminta doa dan semangat dariku dan Maryam. Dia memakai baju terbaiknya yaitu kemeja cantik bercorak yang dibalut blazer.
Alifah pergi SOOCA. Aku kembali ke kamar membawa serpihan draft SOOCA yang menumpuk tapi belum dibikin pathogenesis dan pathomechanismnya. Kini kamar yang aku jajah adalah kamar Maryam. Aku menanyakan hampir semua kasus DMS kepada Maryam. Aku sama sekali hapal nama semua otot di tubuh manusia. Hapal sih... tapi kemudian lupa lagi.. lalu ingat lagi.. lalu lupa lagi.. terus aja gitu..
Itu gambar progress persiapan SOOCA aku sampai H-sekian detik berangkat ke FK.
Aku berangkat ke FK Unpad bersama Maryam dan Isty jam 10 pagi. Dari kosan kami berjalan dengan santai sambil review case yang telah kami pelajari. Saat sampai FK dan mau naik ke Padang Mahsyar A63 kami merasa heran karena Bening, Aga, Vindy, dan lain sebagainya sudah turun dari padang Mahsyar. Lah ini ada apa ini? Bukankah mereka satu kloter sama aku? bukannya mereka juga kloter siang? Ih ih apa udah mulai? Kalau gitu aku telat dong? Kalo telat bukannya ga boleh ikut ujian SOOCA ya? Aaaaa gimana dooong? Hasil kerja keras yang penuh kehinaanku gimana????
Untunglah setelah sampai ke padang mahsyar kami masih diperbolehkan masuk ke kurungan ayam raksasa. Sialnya baru beberapa detik di kurungan ayam padang mahsyar aku dipanggil.. Kyaaaa belum review DMS yang hapalan muclenya luar biasa allohuakbar!!! Yaudah deh pasrah ajaaaa...
Aku dan yang lainnya digiring ke tempat penantian yang lebih kecil di ruang anatomi. Disitu aku review ulang semua kasus HIS karena aku mendapatkan waham (maksain) bahwa aku akan mendapat kasus HIS entah apapun itu. Aku sengaja duduk di paliiiiiiing belakang supaya bisa belajar dan mendapatkan giliran terakhir. Dan ya.. aku dapet giliran terakhir. Horray!!
Akhirnya aku dan teman-teman lainnya digiring lagi ke ruang isolasi yang lebih kecil. Di situ aku masih mereview case-case DMS meski apa yang sudah masuk ke otak langsung terpental. Case yang paliiiiiiiiing terakhir aku review adalah acne vulgaris. Baru saja aku membaca pathogenesis dan pathomechanism (itu juga belum selesai bacanya) aku sudah dipanggil ke ruang pembuatan flipchart. Aku mendapat nomor undi 17. Aku sudah bernafas lega karena sepertinya aku mendapatkan case HIS. Aku sudah tersenyum riang gembira. Pada saat aku membuka lembaran case di meja pun aku masih memasang senyum cantik karena kalimat-kalimat awal yang aku baca mengindikasikan bahwa case yang aku dapat adalah HIS.
“.......her diagnose is acne vulgaris....”
Aaaaaaaaomaygat!!! Ini case DMS! Aku langsung terbujur kaku lemah tak berdaya. Aku mengatur nafas dan mencoba mengingat apa yang telah aku tulis di draft dan juga patpat. Aku juga mencoba bersyukur bahwa aku mendapat case Acne Vulgaris, bukan case DMS yang lain. Akhirnya 30 menit di ruang flipchart berlalu. Saatnya masuk ke ruang presentasi. Dokter yang menguji aku adalah dr. Feni yang cantik banget itu. Yaudah deh aku presentasi apa yang ada di otakku. Tidak sadar waktu telah membawaku sampai akhir presentasi.
“Ada yang mau ditambahkan?”
“Ya gatau... menurut kamu apa?”
“Aduh saya juga bingung dok.. menurut dokter apa yang kurang?”
“hahaha ini bukan sesi tanya jawab ya...”
“habisnya saya beneran bingung dok..”
“Harusnya saya gak boleh ya kaya gini.. tapi coba deh kamu jelaskan lagi treatmentnya. Coba jelaskan PK dan PP dari masing-masing obat”
********menjelaskan apa yang ada di otak Vera
“terus itu prognosisnya coba dijelaskan. Kamu belum menjelaskan prognosisnya loh..”
********menjelaskan apa yang ada di otak Vera
“Ada yang mau kamu tambahkan lagi?”
“Emh.... kayanya udah dok..”
“yakin? Yaudah saya langsung kasih tau nilainya ya..”
“eh eh eh bentar dok saya mau berpikir dulu.”
Pada saat aku sedang berpikir tiba-tiba ada dokter yang aku lupa namanya siapa datang dan menyapa dr. Feni.
“eh ngapain disini. Sana-sana jangan ganggu!! Kasian tuh dia lagi mikir (nunjuk aku)”
“udah sana-sana... hus hus” kemudian dokter yang cowo tadi pergi.
Aku masih diam termangu mencari apa yang bisa aku jelaskan kepada dokter untuk membunuh waktu yang tersisa cukup lama.
Saat aku berkata menyerah bell tanda SOOCA berakhir pun terdengar.
“iya, lagian waktunya juga udah selesai. Yuk duduk dulu biar tenang” kata dr. Feni.
“Vera, sebenernya tadi kamu sudah bagus. Sayangnya kamu gak menjelaskan secara detail tentang treatment. Terus prognosisnya juga harusnya kamu menjelaskan apa yang kamu tulis di flipchart itu.. yang ad bonam, dubia ad bonam, dan lain sebagainya related to the case. Coba kamu bisa jelasin ga? Kalo bisa saya tambahin nih nilainya”
*********menjelaskan apa yang Vera tahu
“hmm.. ya ya ya.. kalo prognosis yang ketiga?”
“yah, gajadi ditambahin deh...”
“terus kamu juga ga jelasin wound healing dan mekanisme pembentukan lesion”
“kamu mau dapet nilai berapa?”
“pengennya sih dapet A Dok..”
“semua orang juga pengennya dapet A. Maaf ya Vera... saya Cuma bisa kasih kamu B++”
“Alhamdulillaaaaah... maksih banyak Doooook”
“padahal kamu bisa A loh kalo nambahin prognosis”
“Gapapa Dok saya lulus aja udah seneng..”
“Belajar lagi ya sayang....”
“Iya Dok... Makasih banyak Dok...”
Yiiihhhaaaaaayyyyy!!!! SOOCA telah berakhir!!! Senengnya teh ya kaya mengeluarkan kentut yang sudah lama tidak dikeluarkan. Sekarang bisa dikeluarkan dengan penuh penghayatan jiwa raga.. yuhuuu.... But it is not the end, Ver!! Masih ada CRP, MDE, COMPRE BHP, COMPRE PHOP, COMPRE MDE, dan OSCE.. pokoknya tetep semangat aja deh. Oia dan pecayalah bahwa perolongan Allah itu dekat :)