Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Mengapa Berpikir “Kelak Ingin Menjadi Apa”?
Jika anda benar-benar hidup di lingkungan akademisi, anda akan selalu bertemu dengan orang-orang berbagai gelar: Profesor, Doktor, PhD, Dokter, Master, dan lain sebagainya. Tidak jarang mereka yang mengisi kuliah, pun, adalah orang-orang yang terpandang. Kita merasa kagum dengan orang tersebut.
Saya pun begitu. Kagum dengan banyak dosen di kampus ketika kuliah, membuat saya ingin menjadi Profesor karena bisa bikin karya banyak, beropini di forum internasional, memanajemen divisi yang dibawahi. Keren gitu.
Tapi kemarin saya ngobrol kembali dengan kawan “deep talking” saya. Sebut saja namanya W. Ketika bicara dengannya (layaknya adegan film di mana pembicaraan yang dalam topiknya dibahas di dalam kafe), banyak yang membuka pikiran kami. Kali ini saya ingin berbagi beberapa.
Ketika kecil kami sama-sama bercita-cita ingin menjadi apapun. Saya pribadi ingin menjadi pembawa berita, lalu menjadi dokter, lalu menjadi polisi, lalu menjadi ahli IT nya Google, seperti lagu Doraemon, ingin ini ingin itu banyak sekali semua semua semua dapat dikabulkan. Besarnya, pun, kami ingin jadi ini ingin jadi itu. Tetap.
Yang menarik, seringkali kita berpikir :
“aku di masa depan ingin jadi (sebut salah satu profesi atau apapun)”
tapi jarang berpikir
“aku di masa depan ingin membuat karya (sebut sebuah karya yang ingin diwujudkan)”.
Sehingga somehow, saya lebih berorientasi terpusat pada gelar atau jenis profesi, justru bukan pada karya. Gelar dan profesi itu kan sebenarnya adalah jalan untuk bisa berkarya.
Logika gampangnya begini.
Misal,
kelak saya menjadi profesor di bidang IT
“Kenapa jadi profesor?”
Supaya bisa bikin karya ini itu buat Indonesia
Bagaimana dengan misal begini;
kelak saya bikin AI (Artificial Intelligence) buat MRT di Indonesia
“Gimana caranya?”
ya saya belajar di bidang IT
“Perlu jadi profesor tidak?”
belum tahu, kalau dengan menjadi profesor menjamin karya saya baik, ya saya ambil
Intinya saya ingin memberi ide, kalau kita sebaiknya berfokus pada “ingin membuat apa” daripada “ingin menjadi apa”. “Ingin membuat apa” itu lebih berorientasi pada proses dan hasil daripada “ingin menjadi apa”.
Jadi kelak Indonesia tidak sekadar “ramai gelar, miskin karya”
Dari filosofi kepemimpinan yang sudah saya pelajari, ada beberapa yang “breath taking” karena merubah beberapa pemikiran saya. Salah satunya adalah filosofi “makan terakhir”; ternyata tidak semudah menahan makan semata.
Sejauh ini saya sudah pernah memimpin beberapa kelompok; kelompok kecil dalam belajar, team kerja berbagai bidang, angkatan pertukaran pelajar, dan organisasi-organisasi yang tidak kecil. Tapi satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya; bagaimanakah kepemimpinan saya?
Pernah memimpin, belum berarti otomatis pintar memimpin. Bedakan.
Tidak sedikit kritikan saya terima di akhir jabatan, dan menjadi legowo adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan saya. Terkadang saya mencari pengembangan diri dengan cara aktif; menanyakan langsung kepada anggota kelompok satu-persatu.
Ada saatnya saya sangat buruk dalam performa, ada saatnya juga saya sempat hampir melenceng dari visi yang dibawa, pun saat personal feeling mempengaruhi kinerja sebuah tim. Beberapa hikmah saya pelajari dari pelajaran yang pahit sejak pertama kali memimpin suatu kelompok; biarlah itu menjadi kenangan saya pribadi.
Namun intinya, beberapa nilai kehidupan tersebut ingin saya bagikan di sini.
Mengapa Pemimpin Makan Paling Terakhir?
Mengutip dari Simon Sinek dalam bukunya , Marine Corps mempunyai tradisi dalam melatih timnya. Itulah mengapa saya menaruh gambar tentara di atas hohoho. Tradisi tersebut menarik.
Ketika makan bersama, pemimpin dalam suatu squad tidak jarang makan paling terakhir; ia mendahulukan anggotanya.
Tahu porsi makan orang barat yang tidak sedikit? Terlebih, tahu porsi makan tentara? Banyak, bung.
Hingga akhirnya, seringkali ketika pemimpin squad hendak mengambil makanan, hanya sedikit yang bisa ia makan; bahkan tidak tersisa apa-apa.
Tapi ia tenang. Ia puas berkorban agar anggotanya tidak ada yang kekurangan ; dan ia harus puas.
Tapi tradisi tidak berhenti di situ.
Sebagai anggota, dalam mengambil makanan, tidak sedikit dari mereka yang disisakan untuk disimpan. Ketika jam makan siang selesai, adalah giliran mereka untuk berkorban demi pemimpinnya; mereka berbagi bagiannya kepada pemimpinnya.
Awalnya saya bertanya, “mengapa mereka tidak begitu saja menyisakan satu piring ketika mengambil makan? mengapa sesusah itu dalam memberikan makan? semua kan dapat jatah,”
Ternyata tidak semudah itu. Suatu tim yang baik, organisasi yang baik, harus mempunyai trust di dalamnya. Tanyakan kepada mereka, dan jawaban mereka sama semua, “karena saya yakin, mereka akan melakukan hal yang sama kepada saya,”. Tingkat trust seperti ini yang membuat mereka merasa aman, terbuka, dan nyaman. Environment seperti ini perlu dibangun. Membangunnya pun tidak terbatas pada satu dua cara; semua perlakuan harus berdasar pada rasa “membangun trust”. Bukankah itu dasar dari kita, yang membentuk kita menjadi manusia?
Ada cara yang sedikit berbeda pada Nelson Mandela.
Tahu Nelson Mandela? You should know him, one of the “world changer”, go study the guy !
Dia pernah bercerita, salah satu pelajaran yang ia dapat dari ayahanda dalam memimpin. Ayahnya adalah seorang kepala suku, dan dalam membangun rasa, ada dua hal yang simpel dan selalu ia lakukan dalam setiap perkumpulan :
1. Duduk melingkar
2. Bicara paling terakhir
Sudah. Aneh ya? Yuk perhatikan.
Duduk melingkar bertujuan untuk menyamaratakan kesempatan dan keterbukaan; ketika ketua duduk berjajar dengan anggota, seakan tidak ada barrier di antara mereka.
Bicara paling terakhir bertujuan untuk memberi keleluasaan kepada tiap orang untuk beropini tanpa terpengaruh oleh opini ketua. Sebegitunya. Ketua harus menahan egonya, itu penting dalam organisasi; bahkan dalam hidup sesama.
It is what drives me, always.
Dalam memimpin pun, ternyata perlu banyak belajar, dan saya selalu ingin mempelajari itu. Belajar, tidak terbatas pada buku, saya sadar hal itu. Belajar bisa dari sejawat dalam memimpin, bisa dari guru dalam mengajar, bahkan (yang terpenting) dalam kinerja dalam keluarga; organisasi kecil yang memegang peranan besar. Dalam belajar pun, kita harus punya why yang kuat. Tanpanya, kita akan goyah dan terlena dengan posisi. Padahal kepemimpinan itu aksi, bukan posisi.
Maka mari kita dalami kutipan ini, wahai para pemimpin apapun,
ngelihat paus itu bikin kalem, apalagi dengar nyanyiannya.
Kali ini bahasannya agak berat, be prepared guys!
Pernah mengalami masalah? Tentu.
Tapi tahukah kawan kalau kita bisa mengukur tingkat kedewasaan kita dari cara kebiasaan kita dalam menghadapi masalah? Berbeda dengan umur yang bisa diukur dengan mudah, kedewasaan atau maturitas emosi tidak semudah itu untuk diukur lho sebenarnya.
*kalem, bahasannya masih ringan kok di awal-awal
ini bela diri. yang kita bahas bukan bela diri begini sih, tapi bela ego. beti beti lah yaa
Yap , bela ego
Dalam menghadapi suatu masalah, manusia punya berbagai cara. Outputnya ke dalam kejiwaan adalah antara dua, eustress (berhasil) atau distress (gagal).
Remember these things : Eustress / Distress
Stresor ini adalah pemicu stress, dalam hal ini adalah masalah. Masalah itu pasti menyebabkan gangguan keseimbangan jiwa; meski sedikit. Mekanisme penyesuaian diri ini adalah adaptasi, cara manusia untuk kembali menyeimbangkan jiwanya. Ada dua cara yang akan manusia ambil; task oriented atau MPE (mekanisme pembelaan ego). Task oriented ini adalah keterpakuan si doi untuk menyelesaikan masalah secara lugas, ibaratnya si doi punya goal-goal tertentu dan mengambil langkah untuk menyelesaikannya.
Tapi task oriented people tidak serta merta dijalankan sendiri. Ia akan berbarengan dengan MPE. Ujung-ujungnya adalah akankah itu menjadi eustress atau distress.
Task oriented people pasti sudah banyak dan bisa dipelajari. How to solve a problem, how to manage people, how to ini how to itu, banyak cara juga. Tapi secara kejiwaan, jangan kita lupakan MPE itu sendiri. Kalau task oriented sudah benar, tapi MPE yang diambil salah, bisa saja itu menjadi distress. uhuy.
nah di sini kawan, bahasannya mulai agak berat. kencangkan sabuk pengaman anda wohoo
mbak pelan-pelan makai sabuknya
Jadi ... kudu MPE yang kayak gimana ... ?
MPE itu punya banyak tingkatan, menurut Eyang Vaillant. Ini tingkatan mulai dari tingkat 1 hingga 4.
1 itu adalah imatur, 4 itu matur.
1 itu belum dewasa, 4 itu dewasa.
1 itu patologis, 4 itu super.
Satu lagi, MPE ini tidak bisa kita kehendaki sendiri. Tapi menurut yang saya pelajari, MPE Suppresion itu bisa kita kehendaki sendiri. Nanti bisa kita diskusiin kuk.
Oke, kita break down kuy
Level 1 : Psikotik
Contoh : Delusi, Konversi, Denial, Distorsi, Splitting, Extreme Projection
*note : sebenarnya ini normal, sampai umur 5 tahun. Di atas 5 tahun, ini berarti gangguan
Level 2 : Imatur
Contoh : Acting Out, Hypochondriasis, Pasif-Agresif, Proyeksi, Schizoid
*note : level dua ini intinya dia merendahkan distress dengan cara mengancam/menekan orang lain atau mengubah “realita” menjadi tidak nyaman
Level 3 : Neurotik
Contoh : Displacement, Dissociation, Intellectualization, Reaction Formation, Repression
*note : si doi bakal menyalurkan emosinya yang bisa bikin si doi nyaman dalam waktu singkat, tapi efek jangka panjangnya berat. Displacement misal, si doi melampiaskannya dengan menghajar meja kantor.
Level 4 : Matur
Contoh : Altruism, Antisipasi, Asketisme, Humor, Sublimasi, Supresi
*note : ini matur. tampak bahwa kepribadian si doi semakin matang. orang yang biasa memakai ini MPE adalah orang yang berbudi luhur. ea.
Jadi dari keempat level tersebut, kita bisa melihat dan mengukur diri kita sudah sampai di mana.
Mau coba case? okee
Andi mendapat kabar bahwa pacarnya memutuskan dirinya karena Andi bau seperti ketiak paus. Andi awalnya tidak percaya, hingga akhirnya ia bertemu dengan ikan paus dan mencium bau ketiak di bawah siripnya. Bau. Tapi Andi pun tetap menolak kenyataan dan masih menganggap si doi pacarnya. Dia tidak menganggap dirinya diputuskan, dia menganggap yang diucap itu tidak pernah terucap dari mulut si doi, Andi selalu membantah dengan keras meski sudah disadarkan oleh berkali-kali oleh si doi, dia menolak realita.
Ini denial, penolakan, people. Level 1. Kalau boncabe level 1 oke lah ya rasa asin dan pedes bagaimana begitu. Tapi level 1 ini berbeda, ini level gangguan. Si Andi terbiasa mengambil MPE seperti ini, meski dirinya sudah menghadapi realita melalui ketiak paus.
Mau lagi? okee
Budi sedang makan eskrim. Tetiba, eskrim itu terjatuh, karena tersenggol oleh orang-orang yang berlarian menuju ikan paus yang terdampar di pantai. Budi awalnya tidak percaya realita bahwa eskrim kesayangannya jatuh di depan matanya. Tetapi Budi tidak mau bersedih selalu. Dia alurkan rasa bersedih itu untuk belajar giat, berlatih, dan berkarya menjadi pawang ikan paus terkenal. Hingga akhirnya ia mendapatkan uang dari hasil karyanya dan membeli eskrim yang hilang itu kembali.
Ini sublimasi. Level 4. Dia tahu ketika eskrim itu terjatuh dia punya pilihan, apakah dia akan jatuh juga bersama eskrim atau bangkit dan mengupayakan eskrim itu dapat terganti. Dia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, dia menyalurkan kesedihan tersebut ke dalam hal-hal positif. Itu Sublimasi.
Konklusinya adalah, MPE bisa kita ukur, baik itu kepada diri sendiri atau orang lain. Matangnya kepribadian, menghasilkan MPE yang matur. Tidak apa bila MPE yang ada dalam diri kita terkadang tidak di level 4; jangan takut untuk mencari pertolongan ! Kejiwaan kita itu berkembang dan tidak statis atau diam, dia harus terus dilatih melalui tempaan-tempaan.
wallahua’lamubisshowab, feel free to discuss with me !
*afwan banyak literatur ikan paus. saya suka ikan paus sebenarnya, karena suara nyanyiannya itu terapeutik, bikin kalem.
source :
1. Slide Powerpoint “Psikiatri Umum” milik dr. Hendy Margono, guru psikiatri saya
2. Wikipedia
3. Slideshare seseorang yang insyaAllah isinya valid juga
ini bukan gambar saya. btw coba tebak yang gerak-gerak ini tulang apaa
Setelah bersemedi, merenungkan konten-konten untuk Tumblr ini di tahun 2018, saya mendapat kesimpulan :
Tahun ini (dan tahun depan) akan lebih banyak dipenuhi konten medis
Tenang, bukan konten medis khusus untuk yang paham ilmu kedokteran to the max. InsyaAllah bukan begitu.
Kalau saya memantau kehidupan kakak-kakak tingkat saya yang sudah memasuki dunia klinik, baik DM (dokter muda) , dokter spesialis , pun profesor, pengalaman mereka itu tidak sedikit yang tergesek dengan keadaan kenyataan kesehatan Indonesia. Mulai sistem BPJS yang masih diharap-harap, kurangnya peralatan yang mumpuni untuk operasi, stigma negatif masyarakat terhadap penyakit ini itu, hingga macam-macam kelit kebijakan pemerintah yang buruk dalam pelaksanaannya.
Di dunia preklinik, saya belum yakin bisa menulis itu semua karena saya belum banyak tersentuh. Jujur, ingin begitu berdakwah bidang kesehatan seperti banyak dokter lainnya semacam dr. Meta , dr. Riva , dr. Gia , dr. Falla Adinda , dr. Firdaus Sani , dan rampai tulisan-tulisan penuh makna dokter lainnya.
Bismillah, dunia keprofesian sudah di depan mata. Tidak akan mudah, dunia jas putih ini bagi saya adalah paradoks; penuh pendakian dan jatuh ke jurang.
Pendakian tangga kesehatan, ia selalu perlu usaha di tiap langkahnya untuk mencapai puncak.
Jatuh ke jurang kebaikan, karena tidak ada lagi jalan berbalik menuju awal berpijak.
Bismillah, mohon doanya untuk kami dan mereka yang berjuang di jalan pemajuan kesehatan.
Setelah menyimak kisah sejawat yang berkesempatan berada beberapa hari di RS Terapung Unair, saya mendapat sebuah pelajaran.
Kepekaan, toleransi, tidak bisa diajarkan di dalam kelas ajar semata; perlu pengasahan, dialami, dirasakan.
Kami mengira daerah yang sudah mempunyai Rumah Sakit tipe B pun sudah mumpuni bagi warga sekitar. Awalnya. Tapi realitanya?
Tenaga kesehatan tidak dapat selalu di tempat. Fasilitas memadai, tapi jadwal tenaga kesehatan memang terlalu padat. Harus mengisi praktik di sana-sini meski jauh terbatas jarak.
Belajar dari pelajaran yang saya dapat selama di ISMKI, masalah tenaga kedokteran Indonesia ada pada tiga hal; kualitas, kuantitas, distribusi. Ternyata ini masalah distribusi.
Dampaknya? Pasien yang seharusnya mendapat operasi abdomen sederhana, meski ditanggung pemerintah, harus menunggu dokter dalam waktu yang tidak sebentar. Masalah.
Di sini sejawat menjadi peka. Di luar zona aman, selalu ada mereka yang membutuhkan bantuan. Pun sekadar menyimak kisah penderita, itu pelajaran berharga. Apalagi bila berkarya demi bangsa, bukan?
untuk apa belajar meraih gelar
tinggi-tinggi di perguruan tinggi
jika tidak ada dalam benak diri
merendah untuk rakyat sendiri??
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip dr. Ario Djatmiko, Sp.B Onk dalam bukunya, Dilema Bangsaku,
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Sempat belum ya saya cerita kenapa nama unggahan ini scripturient bodoh?
Ya, scripturient itu sudah dijelaskan di gambar di atas. Tapi bodoh, mengapa bodoh?
*ehem*
Jadi saya menganggap diri saya ini bodoh. Tapi tidak mengerdilkan diri. Bodoh di sini, supaya saya tidak pernah merasa pintar, supaya selalu ingat bahwa banyak hal yang harus dibaca, dipelajari, dipahami.
Unggahan ini adalah hasil dorongan menulis mendadak seorang yang menganggap dirinya bodoh. Begitu kira-kira.
Yoi Om Keanu, gak usah terkagum begitu lah, saya kan jadi malu
Di unggahan ini saya selalu berusaha untuk “Free writing”, di mana saya menulis secara “flow”. Sembari ide melayang-layang di otak, imajinasi bermain, jari mengetik tanpa menunggu keragu-raguan atas kata-kata yang salah ejaan. Maklum, masih berkembang, harus mencoba-coba sana-sini.
Akhir-akhir ini saya belajar banyak hal. Bukan, bukan pelajaran kedokteran (itu saja sudah banyak).
Kita semua tahu bahwa Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang melek literasi. Daya literasi kita rendah menurut sebuah studi internasional. Sedih, dan studi tersebut dilaksanakan 2016, which is masih lumayan baru.
Awalnya saya tidak percaya, kenapa bisa serendah itu? Mengapa ada 61 negara?
Ternyata indikatornya ada 5 hal dalam penilaian; perpustakaan, surat kabar, input dan output pendidikan, serta akses komputer. Dari 200 negara, yang benar-benar bisa diukur ternyata hanya 61 negara. Apesnya lagi, kita nomor 60.
Di wawancara VICE dengan admin akun twitter @clickunbait , di situ disebutkan bahwa fakta 60 dari 61 ini menjelaskan kaitan kepercayaan terhadap hoax yang tinggi. Rendahnya tingkat literasi ditunjukkan oleh mereka yang mudah terprovokasi tanpa konfirmasi.
Apalagi headline yang sekarang lagi hangat-hangatnya, seringkali dibesar-besarkan dan menggiring opini pembaca pada hal yang sebenarnya beda jauh dengan yang diberitakan. Sedih.
Apa fenomena ini muncul karena budaya “critical thinking” yang rendah di masyarakat? Entah, mungkin ada kaitannya.
Yang jelas, seperti kampanye yang lagi on di youtube, saya masih yakin Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Generasi millenials yang disorot media massa memang cenderung anak-anak yang melakukan kekerasan, pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Tapi coba kita buka mata, media massa memang tidak sedikit yang berprinsip “bad news is a good news”. Prestasi-prestasi generasi millenials tidak sedikit yang bagus-bagus; dan terus berjalan begitu ke depannya.
Tugas kita pertama adalah menentukan arah. Coba tanyakan dan jadikan renungan, selama kita melangkah sampai detik ini, langkah kita ini memajukan bumi ibu pertiwi atau malah memundurkannya?
Again, ini opini, tidak pasti 100% benar pun 100% salah hohoho
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Semester terakhir. Preklinik. Ea baper.
Banyak rekan yang mulai foto buku kenangan, sibuk mengurus karya akhir, bersenang (dan mengeluh) menuju deadline pengumpulan syarat yudisium dan wisuda.
Saya? pfft, saya malah mengisi waktu dengan katarsis, membaca buku atau literatur sebanyak dan sesempat mungkin. Keburu kelak, mungkin tidak seleluasa ini.
Entah, pada waktu sendiri dan dengan ditemani buku, saya bisa refleksi diri.
Refleksi, bertahun-tahun kuliah di sini apakah sudah sesuai dengan purpose saya apa tidak.
Refleksi, apakah sudah mumpuni untuk memasuki dunia “dokter muda” apa tidak.
Asyik juga nih, serasa scene di ending sebuah game adventure di mana pemeran utama melihat ke arah padang rumput yang luas lalu diiringi monolog penutup perjalanan panjang. Maklumkan, saya anak yang besar dengan game genre adventure di playstation. Uhuy.
Tapi kali ini berbeda; saya yakin ini masih permulaan dari perjalanan yang lebih jauh.
Saya teringat bermalam-malam ngobrol dengan sejawat-sejawat terdekat saya. Bukan sembarang obrol, tapi deep talk. I always love it. Salah satu potongan konversasi nya adalah seperti ini,
“Aku perlu pendapatmu. Menurutmu, benar tidak jika aku berpikir agak berbeda tentang masa depan?”
“Seperti apa, Hil?”
“Aku mengimpikan, Hilmy yang terbaik insyaAllah ada di ujung nanti. Hilmy, karyanya bermanfaat besar. Punya keluarga yang bermanfaat di masyarakat. Ibaratnya, “the best of me is yet to come”, bagaimana menurutmu?”
Jawaban mereka sama. Mereka tidak menyalahkan saya. Mereka mendukung. Mereka sepemikir. Alhamdulillah.
Bukan sombong; sama sekali tidak mau sombong dalam berpikir seperti itu. Ini sudah menjadi mindset saya. Karena saya yakin, Allah lebih ridho dengan hambaNya yang optimis. Allah senang dengan hambaNya yang senyum, dalam sedih senang mudah susah sempit maupun lapang. Aku ingin jadi hamba itu. Mindset ini yang drive saya menjadi takut bila membelok dari jalanNya. Semoga Allah istiqomahkan ..
Yap, penghujung preklinik. Memasuki klinik. Saat di mana teori sudah harus dipraktikan. Saat di mana gemblengan semakin keras. Saatnya lebih dekat dengan mereka, guru-guru saya, dengan berbagai perlakuannya dalam mendidik kami.
Yap, penghujung preklinik. Saatnya lebih dekat dengan cita-cita. Membangun keluarga. Menorehkan karya. Hingga siap menjadi agen kebaikan Allah yang terdepan dalam bidang kesehatan.
Yap, penghujung preklinik. Mau tidak mau, siap tidak siap, saya harus siap.
*Mohon doanya bagi kami dan sejawat kami dalam meningkatkan taraf kesehatan Indonesia, aamiinn*
Ahli Bedah Saraf dan Pecinta Literasi : Harvey Cushing
Mungkin ada yang kenal dengan beliau, mungkin pula tidak. Tapi bagi anda pecinta dokter-penulis-saraf, seharusnya mengenal beliau.
Beliau adalah Harvey Cushing, Profesor Bedah Saraf di John Hopkins Hospital, yang meninggal pada 7 Oktober 1939 lalu.
Pada kali ini, saya ingin bercerita sedikit mengenai sisi lain beliau. Bukan tentang kontribusi beliau mengenai teknik torniquet, cushing syndrome, cushing triad, dan lainnya, namun mengenai sisi lain kehidupannya yang membentuk dirinya.
Harvey Cushing ini rajin menyimpan spesimen dari otak. Setidaknya dirinya mempunyai sekitar 615 spesimen yang diambil oleh dirinya setelah operasi. Namun yang menarik adalah, beliau itu sangat senang menulis. Setidaknya dia menulis 1000 kata tiap hari, aku Dennis Spencer MD, salah satu penerus beliau.
Apa yang ditulis?
Semua. Semua info mengenai penyakit pasiennya. Bagaimana perasaannya. Bagaimana kelainan-kelainan yang dirasakan. Bagaimana bentuk dari semisal tumor yang ada di kepala. Semua beliau tulis dengan tulus, ditaruh di berbagai kertas yang ada di ruang operasi. Kadang dilekatkan pada spesimen yang telah diambilnya, entah itu tumor atau penemuan lainnnya.
“He is very passionate in writing”
Itu yang saya tangkap setelah membaca biografi beliau beserta video dokumentasi beliau. Sejak kecil ia memang senang menulis diari dan menggambar gedung layaknya arsitek. Kebiasaan itu pula yang ia bawa sampai menjadi ahli bedah saraf; bahkan menulis cerita-cerita dari pasien-pasiennya. Jarang ketika itu dokter bedah yang senang menulis pengalaman-pengalaman pasiennya sendiri.
Ini yang penting. Sebenarnya, beliau pun tidak tahu apakah umurnya akan sempat mengkaji 615 spesimen otak ini. Tapi beliau tetap istiqomah mengumpulkan semua itu, karena beliau yakin kelak akan berguna untuk para penerusnya.
Maka itu pun terjadi.
Adalah Cushing Center , sebuah center pendidikan di Yale University yang menyimpan segala spesimen beliau, lengkap bersama segala tulisan beliau. 615 lebih spesimen beliau dipelajari oleh berbagai ilmuwan seluruh dunia dan menghasilkan penemuan-penemuan baru di bidang Neurosains dunia.
Saya menaruh hormat pada Harvey Cushing karena ketekunannya. Ingin sekali saya yang debu ini, hadir di ruangan itu melihat karyanya yang sekarang dipakai untuk menyelamatkan nyawa orang. Saya ingin ke sana, Yale School of Medicine, Connecticut, USA.
Bukan sekadar mengagumi, namun meneruskan perjuangan beliau.