Sebelum Lupa, 1 September 2015
Kita kembali ke tiga bulan yang lalu, masa dimana sebagian besar cerita telah ku bagi denganmu, namun belum dengan cerita inti dimana aku berada pada posisi hidup dan mati. Itulah masa dimana semua orang yang menyayangiku hanya menunggu sebuah pintu kembali terbuka dan seseorang datang menghampiri dengan senyum lebar di wajahnya. Itulah masa dimana yang dilakukan oleh semua orang yang menyayangiku adalah hanya terus berdoa dan meminta kepada Yang Maha Kuasa.
Ah, ulang tahunku! Aku tidak pernah se-tidakbergairah tahun ini. Bahkan untuk mengharapkan ada yang mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak. Usiaku telah ku gunakan 19 tahun, dan berapa sisanya? Aku tidak tahu. Tidak perlu kue ulang tahun ataupun kado. Aku hanya ingin do’a dari semua orang yang mengenalku, yang menyayangiku, dengan pengharapan yang baru. Ku titipkan satu do’a yang jangan sampai mereka semua lewatkan: sehat.
Berbeda denganku, Mamah justru sangat bersemangat menghadapi hari ini, entah mungkin semangat yang dipaksakan, agar aku tidak merasa sedih. Mengucapkan selamat ulang tahun untuk pertama kalinya, berusaha memberikan kado istimewa, serta terus menerus menyemangatiku agar aku juga bersemangat, setidaknya di hari ulang tahunku ini. Kado yang berusaha Mamah berikan bukan main berharganya pun usaha yang harus beliau lakukan, tidak peduli jika beliau harus bolak-balik Ciamis-Bandung.
Sudah, ku cukupkan hari ini berakhir begitu saja. Aku tidak mau tambahan waktu di hari ini, 24 jam sudah sangat lama bagiku.
Sehari setelah ulang tahunku, kejutan datang tak henti-hentinya. Riuh rendah suara gelak tawa meramaikan seisi rumah sore itu. Mulai dari teman-teman KMC komisariat POLBAN juga teman-teman semasa SMP datang ke rumah secara bergantian. Dengan bungkusan di tangan, dua kue sekaligus, pikirku. Mereka merayakan ulang tahunku, membawakan kue ulang tahun dan meniupkan lilin untukku. Ah, susah rasanya meniup satu lilin saja saat itu. Sebagai penutup, mereka mendo’akanku, untuk kesembuhanku dan kelancaran proses penyembuhanku. Dan sore itu, setelah teman-temanku pulang, ku langkahkan kaki tergontai-gontai menuju “pintu gerbang”. Dari sini lah lembar baru akan segera dimulai. Bandung, kembalikan kehidupanku yang dulu, yang penuh kesibukan juga kenangan, batinku.
Tak ada yang istimewa waktu itu. Hanya kembali berbaring di ranjang kamar inap menunggu waktu yang telah dijadwalkan. Teman lama tak henti-hentinya berdatangan, menyemangatiku dan mendoakanku agar semuanya berjalan dengan lancar. Kue ulang tahun pun nampaknya tak pernah terlewatkan, mulai dari teman-teman sedepartemen BEM juga teman-teman PKM. Pengunjung? Oh jangan ditanyakan lagi. Aku sudah merasa seperti pasien yang sangat penting, dikunjungi banyak orang tak berkesudahan.
Selama di sana, aku mulai sadar akan banyak hal. Aku masih memiliki sesuatu yang patut disyukuri pun dalam kondisi sakit seperti saat itu. Aku bukanlah satu-satunya orang yang kondisinya menyedihkan, bahkan kondisiku jauh lebih baik dibandingkan orang lain. Sebut saja Teh Amel, dia bahkan divonis oleh dokter tidak akan mampu berdiri lagi meski setelah dilakukan operasi. Tapi jujur aku malu padanya, dengan kondisinya yang seperti itu, dia tetap bersemangat dan bahkan menyemangatiku yang notabene kondisiku lebih baik darinya.
Inilah waktu yang aku tunggu-tunggu. Hari bersejarah ini akan menjadi titik balik kehidupanku. Setelah semua doa, sekarang lah saatnya aku melakukan usaha terakhirku. Ya, akhirnya aku akan menjalani operasi.
Hari itu, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku kemudian mandi dan keramas, mengingat beberapa hari pasca operasi, aku mungkin tidak dapat membersihkan diri. Tidak ada sarapan ataupun segelas susu di pagi hari, sebab aku harus sudah berpuasa sejak malam tadi. Ah, rasanya perutku sedikit bermasalah, mungkin karena komplikasi maag dan rasa gugup yang berbarengan.
Jam 08.00 pagi itu, aku dibawa ke sebuah gedung dimana operasiku akan dilakukan. Seluruh keluarga juga temanku, Susi dan Irez, mengantarkanku hingga ke ruang tunggu. Kami berdo’a bersama-sama, mengharapkan kelancaran atas semuanya. Selepas itu, semua orang yang ku kenal keluar ruangan, meninggalkan aku seorang diri dengan pasien lain di kanan-kiri.
Aku kemudian dibawa ke ruang operasi oleh dua orang dokter anestesi, dokter Ronald salah satunya. Selama perjalanan dari ruang tunggu sampai ke ruang operasi, tubuhku menggigil cukup hebat, entah karena suhu ruangan yang sangat rendah atau karena rasa gugupku. Ah benar-benar tak terbayang jika nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ku sempatkan mengucapkan dua kalimat syahadat, takut-takut di tengah operasi, Allah mengakhirkan takdirku di dunia.
Jam 08.30, aku sudah berada di ruang operasi. Ku tatap sekelilingku, hanya ruangan besar dengan peralatan medis yang tidak aku mengerti sama sekali. Belum ada tanda-tanda dokter lain akan datang, aku masih ditangani oleh dua orang dokter anestesi. Mana dokter Rully? Mana dokter Bobby? Mana dokter-dokter yang akan mengoperasiku? Kapan operasinya akan dimulai? Ah, aku semakin gugup. Tubuhku benar-benar merasa dingin hingga tak mampu menahan gigil. Rekan dokter Ronald (aku tak tahu namanya) kemudian menyuntikkan cairan ke dalam selang infusku. Sesaat setelah itu, aku merasakan rasa dinginku mulai berkurang, berkurang lagi, berkurang terus hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
Entah operasiku berjalan selama berapa jam. Yang aku ingat, aku mulai sadarkan diri sekitar jam 16.00 di ruang pemulihan. Ah rasanya masih sama saja, dingin sekali. Tubuhku tetap saja menggigil seperti sebelum aku dioperasi. Sepertinya ini karena suhu ruangan yang sangat rendah.
Pandanganku masih sangat kabur dan membuatku pusing ketika aku berusaha memfokuskan. Bagian punggungku terasa pegal, rasanya ingin sekali aku membaringkan tubuhku menghadap kiri dan kanan secara bergantian. Dan ketika aku mencobanya, aku menyadari suatu hal, rasa sakit yang selama ini aku rasakan sekarang sudah hilang. Alhamdulillah yaa Rabb, segala puji bagi Engkau Tuhan semesta alam. Engkau yang memberikan sakit ini, Engkau pula lah yang mengangkat sakit ini. Kemudian setelah aku cukup lama di ruang pemulihan, aku dibawa kembali ke ruang kamar inap. Jangan tanyakan apa yang terjadi setelahnya, karena sudah jelas selama 7 hari aku bahkan tidak bisa memasukkan sesuap nasi pun ke dalam mulutku.
Terimakasih kepada semua orang yang telah menjadi perantara atas kesembuhanku. Kepada dokter Asri yang telah berbaik hati menjadi pembuka jalan berlangsungnya operasi ini, meski beliau sendiri tengah disibukkan dengan pemindah-tugasan beliau ke rumah sakit di Jakarta. Kepada dokter Rully, dokter Bobby, dokter Ronald serta dokter yang lainnya yang telah menanganiku baik sebelum dan sesudah operasi. Kepada para perawat yang telah mengurusiku mulai dari mengganti sprei tempat tidur, membersihkan luka hingga mencuci rambutku.
Terimakasih kepada Teh Amel, ayah serta ibu kak Regi yang telah memberikan semangat dan motivasi padaku. Terimakasih kepada Susi, Irez serta Rindah yang selalu menemaniku dan menginap di rumah sakit secara bergantian. Terimakasih untuk seluruh keluargaku, terutama Mamah, Nenek dan Mang Iwan yang telah mengurusiku selama di rumah sakit juga di penginapan. Terimakasih kepada pasien Sandi yang telah mengajarkanku bahwa tidak ada orang yang tahu kapan ia akan meninggal, bahkan dalam kondisi segar sekalipun tidak ada yang menjamin Allah tidak akan memanggilnya; juga tentang pelajaran bahwa kasih sayang seorang Ibu adalah segalanya, dan aku beruntung bisa mendapatkannya. Terimakasih untuk semua yang tidak dapat aku sebutkan. Dan ingatlah bahwa Allah selalu mempunyai rencana terindah untuk kita. Tetaplah bersyukur dan berhusnudzon terhadap-Nya.