seen from Saudi Arabia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from Belgium

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Paraguay

seen from Netherlands
seen from Oman
seen from Saudi Arabia

seen from United States
Fourteenth Day: Art Workshop
Oh my nagpaint na kami ngayon sa canvas. Canvas panel ang ginamit ko. Nagpaint kami ng nature kung saan may mountain, bushes, and trees. First day pa lang namin paggamit ng canvas that's why naninibago pa ko.
Hari Keempatbelas dari Tiga Puluh Sembilan Hari Berikutnya
Sejak semalam aku susah tidur. Aku memikirkanmu. Bukannya aku menyalahkan atas kehadiranmu. Tidak. Sungguh. Bukan maksud hati membuatmu jadi tidak nyaman. Aku justru sedang menyalahkan diri sendiri, dan situasi yang tidak enak ini. Aku pikir jika ada seorang pengadil di depanku, saat ini, aku pasti akan dihukum berat karena tidak konsisten dengan apa yang telah aku putuskan pada waktu yang lalu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak seterpuruk itu.
Aku teringat sewaktu dulu, ketika aku juga tidak bisa tidur di malam hari, aku mengajak pergi teman wanitaku keluar berjalan kaki di pinggir jalan raya. Aku suka malam hari. Karena waktu itu semua kehidupan beristirahat, polusi kendaraan naik ke langit dan terganti oleh udara yang lebih bersih. Bintang-bintang bertaburan di balik awan, bersembunyi, menunggu seseorang menengadah dan menghitung jumlahnya. Terkadang bulan bersinar terang sehingga kita tidak butuh lagi lampu jalanan sebagai penerang jalan yang aku lalui. Aku dan dia berjalan, berbicara tanpa arah, duduk di halte yang kita tahu tidak akan ada satu pun kendaraan umum yang akan berhenti, sampai pagi, sampai seseorang yang mengenakan jas rapi dan membawa kopor duduk di samping kami. Itulah tanda bahwa kami memang harus pulang.
Ada kalanya kami duduk di sebuah rumah makan yang buka 24 jam. Memakan seadanya, lalu pergi lagi mengikuti arah kaki melangkah. Aku menggenggam tangannya agar ia berjalan tidak terlalu jauh denganku. Aku suka ketika ia bercerita tentang masa kecilnya, ketika ia bercerita tentang apa yang ia suka, ketika ia bercerita tentang hal-hal konyol yang pernah ia lakukan. Aku suka ketika ia tidak pernah menyembunyikan keburukannya di depanku. Setidaknya aku tahu bahwa ia jujur padaku. Aku suka ketika dia menyenderkan kepalanya di bahuku, lalu terlelap tidur, hingga terpaksa aku turunkan kepalanya di atas pahaku. Setidaknya aku tahu bahwa dia menaruh kepercayaan kepadaku. Aku juga suka mencium keningnya ketika kami hendak berpisah, memegang pipinya, menatap matanya yang juga menatap ke arahku. Mungkin dia menerima pesanku bahwa aku akan selalu menjaganya.
Tapi itu cerita di masa yang lalu. Kini aku dan dia sudah berjalan masing-masing. Kami punya kesibukan sendiri sehingga sulit rasanya untuk mengulang kisah yang sama. Namun aku yakin, masa lalu memang seharusnya menjadi sebuah cerita. Jika dia dapat terulang lagi, rasanya pasti akan berbeda.
Beberapa hari yang lalu aku menghubungi dia. Aku mengatakan padanya bahwa temanku sedang mencari seorang pasangan untuk pernikahannya. Mencari calon istri. Dia tertawa ketika aku berkata dia orang pertama yang ada dipikiranku untuk urusan ini. Mungkin ada banyak pertanyaan yang ada di pikirannya, kenapa aku berbuat demikian, dan yang pasti aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Dia tidak menolak perjodohan itu, namun dia butuh waktu untuk menyesuaikan semuanya. Ya. Aku setuju. Cinta memang butuh waktu. Walau terkadang diriku tak sabar untuk segera menemuimu, dan ingin berbicara banyak denganmu.
365 Day Challenge : Fourteenth Day
Day 14: write about something you believe in, anything at all
Fictional characters are better than their creators. The End. PERIOD.
your hair around, and it would be almost clear. The sunlight poured from the
Greenland stunning landscape
Pino's sense for snow
Because Iceland wasn't exotic enough, I decided to book a day trip to Greenland. Ok, I admit it, this wasn't the exact reasoning. I just wanted to make the most out of my time in Iceland and put my feet on a very mysterious country, even if for few hours.
It is indeed possible to book a guided tour to the village of Kulusuk directly from Reykjavík: what you get is not only a return flight but a whole Inuit experience. I'd say that it was a bit tacky from time to time, especially when an Inuit man in his kayak was pretending to haunt sharks and seals just for the sake of a touristic photo... But on the other side I had the chance to see how Inuit live, with only one supermarket, in a very closed society and economy, coping with extreme weather conditions. It is really another world... which has been turned into a tourist attraction.
Anyway, just look at the pictures I was taking there: the nature is breathtaking and the village just eye-candy with its tiny colorful houses.