Dua buku, Siang kemarin pinjam dua buku klasik karya Fuad Hassan dan Boris Pasternak di Perpustakaan EAN. Pertama, karya mantan Menteri Mendikbud zaman Soeharto itu membuka cakrawala baruku: eksistensialisme manusia selalu mendahului esensi. Orang kerap mencari keberadaan dirinya di tengah keterasingan pencarian, meski sebetulnya ia mencari ketiadaan menuju diri sejati. Fuad sampai pada tesis meniadakan diri untuk menembus ruang suwung, yakni Sang Ada yang mengada di jagat kecil. Kedua, Boris terlalu pesimis terhadap masa revolusi Uni Sovyet. Tokoh yang dihadirkannya diposisikan sebagai pribadi yang kehilangan kepercayaan diri, kendatipun ia menemukan strategi sosial-politik yang di awal ceritera dikisahkan heroik. Tapi, apa arti heroisme bila komunitas manusia di sekitarnya acap kali menampik--selalu melakukan antitesis dalam bentuk sikap maupun verbal. Di sana, bagiku, revolusi Bolshevik niscaya menuai kecaman dan penolakan yang tak banyak diketahui publik. Diskusi terus berlanjut. Tak ada siapa yang benar. Bahkan kami tak tahu apa kebenaran itu. Yang kami lakukan adalah proses mengotentikan diri melalui dialog interaktif terus-menerus. #FuadHassan #eksistensialisme #BorisPasternak #DrZhivago #Rusia #EAN











