Hell Is Other People.
Saya bukan seorang eksistensialis, bahkan saya tidak terlalu paham dengan pemikiran Sartre. Tetapi Sarte pernah berkata, cukup dengan seseorang merasakan malu maka ia telah menjadi seorang eksistensialis--baik disadarinya maupun tidak. Atas hal itu, saya akan menjadiĀ āsok beraniā dengan membawa Sartre dalam tulisan ini.
Saya selalu muak menjadi objek orang lain, meminjam kalimat dalam Being and Nothingness-nya Sartre.
āI am guilty first when beneath the Other's look I experience my alienation and my nakednessā
(Saya merasa bersalah saat berada dalam tatapan orang lain, aku mengalami keterasingan Ā & ketelanjangan)
Sartre mengisahan pengalaman itu kala ia sedang duduk sendiri di sebuah taman, bangku, pepohonan, kolam, dan air mancur menjadi objek penglihatannya. Tetapi, semuanya berubah ketika seseorang hadir dan menatap Sartre. Kini ia yang berganti menjadi objek. Orang tersebut telah merenggut dunia Sartre dengan membuatnya malu.
Munculnya rasa malu pada individu berkaitan erat dengan fenomenaĀ āLe Regardā atauĀ āTatapan mataā. Dan tatapan mata itu diibaratkan sebagai sebuah lubang kecil yang menyedot seluruh dunia Sartre.
Hal serupa tentu sering saya alami, sebagai seorang pemalu. Saya benci ketika orang lain menjadikan saya sebagai objek. Orang lain akan menyelami diri kita sebagai objek melampaui esensi yang sudah kita tentukan bagi diri kita. Dengan begitu, orang lain memisahkan diri kita dengan esensi yang telah kita bangun.
āOther is looking, and judging..āĀ
Orang lain benar-benar dapat menyebabkan saya keluar dari penilaian diri saya sendiri. Dan mereka mampu bertindak lebih dari sekedar menatap mata. Tetapi bagaimanapun, manusia akan selalu mencoba mengobjekan orang lain, tanpa mau menjadi objek.
Dan sekali lagi, saya meminjam kalimat Sartre
āAku melihat diriku karena orang lain melihatku, sejauh ini sebagai objek dari orang lainā Ā -Jean-Paul Sartre (1956: 410)











