Quick escape #bigbear2019 #adventureswithmylove #funhike #blueskies #snow (at Castle Rock Trail) https://www.instagram.com/mrbct27/p/Bv76g11g28u/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=cj5uwu6zp6pc
seen from Mexico
seen from Guatemala
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Greece

seen from Germany
seen from Canada
seen from United States
seen from Switzerland

seen from Türkiye
seen from France

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from Canada

seen from Canada
seen from Greece
Quick escape #bigbear2019 #adventureswithmylove #funhike #blueskies #snow (at Castle Rock Trail) https://www.instagram.com/mrbct27/p/Bv76g11g28u/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=cj5uwu6zp6pc
Fallen into Beauty Which one do you like best, full color or one of the color splash versions? #fallentree #river #woods #nature #colorsplash #fullcolor #treedown #intotheriver #funhike #hiking_hobby #hikingadventure #beautyofnature #cycleofnature #green #brown #vividcolors #vibrantcolor #photograph #milwaukeephotographer (at Wisconsin)
#beautiful #sandiamountains #funhike #over10kfeet #sohighup #outofbreath #excellentviews #thelesnestravels #travelingwiththelesnes (at Sandia Mountains)
Hujan Bulan Desember: Sebuah Catatan Pendakian Gunung Prau
“When you want something, all the universe conspires in helping you achieve it.” – Paul Coelho
Izinkan saya mengawali catatan pendakian ini dengan kutipan dari sebuah buku yang baru saya selesai baca. “The Alchemist” bercerita tentang sebuah perjalanan mengejar mimpi dari seorang anak. Apabila dikaitkan dengan cerita anak tersebut secara kasar , dalam pendakian ini kami mungkin juga mengejar sebuah mimpi yaitu secara bersama-sama mencapai puncak Gunung Prau. Kini perjalanan mencapi mimpi tersebut sudah selesai dan banyak pengalaman-pengalaman kecil yang ingin saya ingat ,maka dari itu selain momen-momen yang diabadikan dalam kamera saya memutuskan untuk membuat sebuah catatan. Semoga melalui catatan pendakian ini perjalanan kami dapat dinikmati dan pengalaman maupun cerita yang ada dapat kekal dalam tulisan ini.
Persiapan
Persiapan dari pendakian ini diawali dengan berakhirnya perjalan lain yang sebenarnya sudah direncanakan,namun dibatalkan karena tiket yang harganya fluktuatif. Melihat kekosongan jadwal sekitar 20-22 Desember, saya melempar wacana kepada teman-teman saya. Wacana yang saya tawarkan ternyata disambut positif oleh teman-teman bahkan antusias, awalnya terkumpul 10 orang namun karena satu dan lain hal akhirnya rombongan yang sepakat akan mendaki Prau menjadi sebanyak 7 orang. Motivasi yang melatarbelakangi mereka bermacam-macam, ada yang memang sudah terlanjur mencintai gunung apa dan mengerti apa itu pendakian melalui 4 pendakian sebelumnya, beberapa ada yang baru ingin mencoba sensasi sebuah pendakian,bahkan ada yang mengira ini adalah pendakian Gunung Tangkuban Perahu. Terlepas dari itu semua kami semua memiliki mimpi yang sama, dan terlepas dari segala perbedaan alam akan menerima kami apa adanya.
Pra-Pendakian
Dengan logistik yang lengkap, masing-masing dari kami sepakat untuk berkumpul di Stasiusn Kiara Condong pukul 23.30, pada tepat pukul 00.00 kami semua telah berkumpul dengan pakaian hangat warna-warni dan tas carrier dengan berat yang berbeda satu orang dengan yang lainnya. Pukul 00.30 kami siap dengan tiket kami masing-masing dan berjalan ke meja pengecekan informasi, kami yang waktu itu sepakat membawa gas untuk memasak terpaksa mengeluarkannya dari tas kami karena dilarang oleh keamanan setempat. Pelajaran #1: Tidak perlu membawa gas ,karena biasanya membawa gas untuk memasak dilarang terutama pada Stasiun Kiaracondong, hubungi basecamp setempat karena biasanya dijual segala peralatan camping. Kemudian kami memasuki gerbong kami yaitu gerbong ekonomi 5 dan melihat tempat duduk kami sudah ditempati. Pelajaran #2 : ada baiknya menempati duduk beberapa menit sebelum keberangkatan, karena biasanya ada ibu-ibu norak yang memberi berbagai alasan agar bisa menempati tempat duduk yang awalnya anda reservasi, ingin duduk dengan anak-ankanya misalnya. Buat bapak atau ibu yang ingin melakukan perjalanan jauh dengan kereta, sebenarnya tempat duduk bisa direservasi sebelumnya dengan tempat yang diinginkan sehingga tidak perlu mengambil tempat orang lain. Selama perjalanan kami lelap dengan posisi unik kami masing-masing,menikmati tempat duduk yang hampir 90 derajat sampai pada akhirnya kami sampai di Stasiun Purwokerto tepat waktu.
Sesampainya disana kami langsung disambut oleh manusia-manusia yang menawarkan kendaraan untuk wisata daerah Dieng dan Wonosobo. Pelajaran #3 : Jangan menerima tawaran dari orang-orang yang menunggu di pintu keluar, mereka adalah calo, usahakan cari carter angkot disekitar stasiun secara langsung agar mendapat harga yang lebih murah. Sejenak sebelum berangkat ke basecamp kami makan pagi terlebih dahulu, dan disana saya sedikit berbincang dengan pak supir yang kemudian saya tahu namanya adalah Pak Ratno, ia bercerita tentang para calo dan kewajibannya untuk membayar si calo, tentu saja para supir memiiki kecenderungan untuk menghindari calo-calo seperti ini, namun di sisi lain Pak Ratno juga mengatakan bahwa terkadang ia juga membutuhkan calo untuk mendapat penumpang terutama saat keaadan sedang ramai pengunjung yang ingin naik gunung. Sebuah hubungan yang menurut saya mau tidak mau harus dijalin oleh para supir. Perjalanan menuju basecamp memakan waktu 4 jam apabila jalan tidak ramai, dan perlahan kami mulai memakai kembali jaket hangat kami.
Summit Attack
Mengingat waktu yang kami kejar agar kami dapat sampai di puncak sebelum gelap, kami segera mempersiapkan logisitk berupa tenda dan gas yang awalnya disita, tidak lupa kami melakukan pendaftaran dan mengisi kekosongan perut kami. Sembari kami melakukan persiapan hujan yang mulai turun. Pelajaran #3 : Jangan naik gunung saat musim hujan, selain track pendakian menjadi berbahaya dan suhu dan serta angin yang sangat dingin, cuaca mendung atau hujan dapat merusak pemandangan yang seharusnya bisa dinikmati. Ada baiknya sebelum pendakian dilakukan pengecekan cuaca melalui internet atau penduduk setempat, tapi ada kalanya cuaca seperti ini harus “dihajar” karena sebuah pemandangan puncak yang indah tidak lahir dari pendakian yang mudah, tentu persiapan yang matang juga harus disiapkan. Sebelum naik kami mengucapkan doa menurut kepercayaan masing-masing agar dapat naik dan turun puncak dengan selamat. Seperti yang telah disebutkan di atas, cuaca hujan deras bukan merupakan kondisi yang ideal untuk menaiki gunung, setiap beberapa menit kami diterpa angin kencang dan harus beristirahat mengingat keadaan seseorang teman yang tidak fit. Pelarajan #4 : untuk para wanita alangkah baiknya untuk mengingat siklus datang bulan, pendakian yang disertai datang bulan akan menimbulkan keadaan yang sangat tidak nyaman (Testimoni seorang teman). Selama pengalaman saya mendaki, saya selalu mendapati hal yang kurang lebih sama, para pendaki lain yang tiba-tiba menjadi ramah dan selalu menyapa bila berpapasan atau orang terdepan selalu memberi peringatan ketika jalan tidak rata atau mengisyaratkan berhenti ketika melihat yang lain sudah mulai lelah, hal-hal tersebut kembali saya amati sebagai orang yang berada di paling belakang barisan dan semua itu mungkin hanya bisa dirasakan dalam sebuah pendakian. Dalam pendakian ini saya mendapati hal baru, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 18.00 dan adzan maghrib mulai dikumandangkan seperti biasa ,namun kali ini ada yang berbeda, perspektif saya sejenak berubah, adzan maghrib yang didengarkan melalui ketinggian kali ini terdengar seperti lantunan yang indah, berbeda dari biasanya. Memang benar , terkadang alam dan semesta mempunyai caranya sendiri agar kita bisa menikmatinya.
Summit
Sekitar pukul 18.30 kami akhirnya sampai dipuncak dalam keadaan matahari yang sudah tenggelam dan tubuh yang basah dan kedinginan. Sejenak kami beristirahat dan sedikit merasa puas, kami segera mendirikan tenda dan memasak. Bahan makanan yang mungkin sangat biasa apabila di konsumsi di perkotaan terasa sangat luar biasa apabila dirasakan di puncak, masakan yang mungkin seadanya kami rasakan seperti sebuah fine dining di restoran berbintang, mungkin in yang dimaksud dengan hotel atau restoran seribu bintang (?). Kelelahan kami masing-masing membawa kami terlelap dibawah tenda yang kami anggap suatu mahakarya karena tidak ada lagi angin yang menusuk tulang didalam sana.
Pagi hari di Puncak Gunung Prau diwarnai dengan angin yang dingin dan kantung kemih yang mulai penuh, dan penghuni-penghuni puncak yang menanti sambutan matahari. Terdapat penghuni yang terkadang tidak sabar,menunggu dari jam 3 pagi ditemani oleh bintang-bintang. Kesabaran kami menunggu sambil ditemani angin yang menembus banyak lapisanpun ternyata tidak mengecewakan. Cahaya-cahaya yang menembus awan terlihat seperti sebuah kode dari ilahi dan mulai tampak sususan gunung-gunung apik tercipta dari goresan halus semesta., daerah dieng ini memang terkenal sebagai surga para pendaki.Terlihat wajah-wajah lelah dan menggigil namun puas menghiasi wajah teman-teman saya. Kami yang waktu itu naik sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Biologi ITB ,haruslah berfoto dengan identitas kami yaitu jaket kuning dan bendera yang pernah dirajut satu angkatan bersama dan sekali lagi dirasakan perasaan yang berbeda ketika mengenakannya dan berfoto bersamanya. Terdapat rasa kepuasan keberhasilan kami untuk membawanya ke Puncak Gunung Prau dan rasa bangga yang lebih besar dari biasanya apabila dibandingkan kami memakainya saat di hari-hari biasa .
Pemandangan yang disajikan oleh semesta alam kini telah menjadi halaman belakang kami, dan suatu kehormatan karena ia mengizinkan dirinya untuk dilihat.
Kepulangan dan akhir kata
Cerita kepulangan dari puncak mungkin tidak ada yang bisa diceritakan,karena hampir semuanya sudah dihabiskan dalam pendakian dan puncak itu sendiri. Selain beberapa kali terjatuh selama perjalanan turun menurut saya tidak ada lagi yang cukup menarik untuk diceritakan.
Gunung Prau memang biasa disebut cocok untuk pendaki pemula karena perjalanannya yang tidak jauh dan cukup landai. Hujan bulan Desember tahun ini membuatnya jauh lebih berat, namun Hujan ini pula yang menyatukan kita khususnya untuk perjalanan akhir tahun ini. dan saya yakin pendakian ini akan berbekas terutama bagi yang merasakan ini untuk pertama kalinya.
Teruntuk Lula Kania Valenza, Mark William Hendri, Jandinta Dyahratri Farahyah, Benedict Eugene Rafael, Raisya Maghfyra dan Hisyam bin Ahmad saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena sudah mau menjadi teman trip .Semoga kecintaan kalian terhadap sebuah pendakian menjadi semakin besar. Jangan kapok-kapok yak naik bareng gue hehe. Akhir kata selamat datang di kebebasan kawan-kawan ! – Tuhan beserta para pendaki.
Pelajaran #5 : Terkadang bukan kemana atau bagaimana, sebuah pendakian akan lebih bermakna dengan “siapa”.
Gunung Prau, 20-21 Desember 2017
CP Basecamp via Patak Banteng (Mas Pii ) :085228283428
CP Carter Angkot ( Pak Ratno) :081575408515
"Somewhere between the start of the trail and the end is the mystery why we choose to walk" #funhike #santai #beres #muddy #greatcompany (at Bukit Laur, Subok)