“...ya kan ga semua orang standart cowoknya tinggi kayak lu”
reaksi pertama aku saat kalimat itu tercetus dari salah satu temen gerejaku adalah *straight face*
jujur aja, dari mulai hari itu sampai detik ini aku masih mikir, kenapa dia punya pemikiran kayak gitu? padahal aku sama sekali nggak pernah cerita sama dia kriteria cowok yang aku suka. dan aku pun sebenernya hampir nggak pernah punya kriteria cowok yang mutlak
yang masih tersimpan dan menjadi pertanyaan di dalam diri aku adalah, kenapa.... kenapa bisa ada pemikiran itu? apa yang membuat dia punya pemikiran kayak gitu? atau, jangan jangan nggak cuma dia yang ngerasa aku punya standart yang sangat tinggi buat jadi pacar.
kenapa dia punya pemikiran kayak gitu? apa karena dia tahu masa lalu aku? entahlah, jangan-jangan nggak ada cowok yang berani deketin aku gara-gara pemikiran dia tentang standart cowok aku?
buat aku, aku nggak pernah ngerasa punya standart yang tinggi. menurut aku seseorang laki-laki yang sayang Tuhan itu wajar, dan harus. itu satu satunya kriteria mutlak yang aku cari.
untuk masalah fisik sebenernya nggak terlalu jadi hal yang besar. memang setiap orang punya ketertarikannya masing-masing. kalo aku, paling lemah sama drummer dan bassist, semua orang tahu itu. aku juga suka orang yang punya lesung pipi. secara fisik aku suka cowok yang tinggi dan berisi, kalau secara etnis, memang sedari dulu aku suka sama bule putih dan etnis tionghoa. Nggak tau kenapa, tapi itu terjadi secara natural. Aku juga suka cowok pintar (siapa sih yang ga suka cowo pintar?)
terlihat tinggi nggak kriteria aku? ya mungkin untuk beberapa orang terlihat tinggi, tapi aku yakin, nggak ada salahnya punya kriteria yang tinggi, nggak ada hukumnya yang mengatur untuk punya kriteria cowok.
tapi yang udah aku singgung sebelumnya, semua kriteria yang aku tulis di atas itu nggak mutlak, as long as kriteria mutlak aku terpenuhi. seorang pria yang takut akan Tuhan dan mencintai Tuhan melebihi apapun.
kadang ketakutan diri aku menghantui, sampai sekarang aku masih single, kalau dihitung mungkin udah sekitar 6 tahun aku single, dan selama 6 tahun ini aku seringkali dipertemukan dengan perasaan patah hati, seringnya bertepuk sebelah tangan. selama 6 tahun belakang aku selalu jadi chaser. aku selalu suka sama cowok duluan, aku nggak bisa ngendaliin rasa suka aku sama cowok. ketika aku suka sama cowok, aku mengedepankan perasaan, melupakan satu sosok yang memiliki rasa itu, Tuhan. cara pandang aku terhadap rasa suka jadi beda, jadi tidak berhikmat dan ujung-ujungnya buang-buang waktu. lagi, aku bepikir kenapa sampai saat ini belum ada satupun orang yang berani untuk menarik perhatian aku, kenapa aku terus yang mencari...
gambar diriku mulai rusak, aku mulai nggak percaya diri, aku ngerasa jelek, aku ngerasa nggak pantes punya cowok keren, aku ikutin pergaulan yang salah biar terlihat keren. aku rusak.
lalu ketika aku terdiam, ada sebuah suara berbicara di dalam hati “loh, monika, bukannya kamu yang janji untuk nggak mau pacaran dulu sampai kamu lulus kuliah, dan fokus untuk melayani Aku, terus kenapa sekarang kamu berusaha untuk break janji kamu?”
seketika itu juga aku ngerasa bodoh dengan semua pemikiran-pemikiran konyol tentang diri aku, ternyata Tuhan jauh lebih sayang sama aku dibanding siapapun. seiring jalannya waktu, aku jadi lebih sadar, dan semua kesalahan di masa lalu tentang cara pandang aku mengenai relasi juga menjadi pelajaran yang sangat berharga buat hidup aku. meskipun aku nangis-nangis, mungkin terlihat bodoh buat beberapa orang yang dulu pernah aku ‘kejar’, tapi berkat kesalahan itu dan tentunya atas hikmat dari Tuhan, aku jadi tahu yang namanya mencintai tanpa harus memiliki, aku jadi tahu rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, aku jadi tahu seberapa besar pengharapan berperan dalam kesuksesan hidup aku. *buat yang belum tau, dan pingin tau segimana bego nya aku jaman dulu, boleh scroll kebawah blog ini, HAHA*
Ya, sebaik itu Tuhan Yesus sama hidupku, Dia masih kasih kesempatan buat aku menyadari segala kesalahan ku dan mengizinkan aku untuk belajar dari semua kesalan itu. Dia mengajar aku dengan lembut. padahal aku yang berniat untuk breaking my promise, tapi Dia yang jaga itu, Dia yang jaga aku hingga sampai saat ini aku tidak melanggar janjiku.
sampai saat ini, aku masih beriman kalau Tuhan memang sudah mempersiapkan orang yang terbaik itu buat aku, entah etnisnya apa, entah fisiknya seperti apa, tapi yang jelas dia lebih mencintai Tuhan dengan segenap hatinya, dan kami akan bersama-sama mencapai visi yang Tuhan udah taruhkan dalam hidupnya kami.
Jadi, bukan standart kriteria cowok aku yang ketinggian atau karena fisik dan sifat aku yang jelek sampai saat ini aku masih single, tapi Tuhan yang jaga waktu emas aku ini untuk menjadi pelayan Dia seutuhnya, Dia sedang membentuk pribadi aku seperti yang Dia ingini.