Aku terus mengitari jalan yang dipenuhi kemacetan siang, 15 Agustus 2011 semalam. Sayang, macetnya siang itu nggak bisa disamakan seperti macetnya pikiranku. Sebenarnya aku nggak bisa melukiskan bagaimana perasaan ini sebenarnya. Antara malu, berdebar, sedikit senang, namun perasaan risih juga masih ikut bercampur di antara mereka.
Dia, laki-laki yang terakhir kali bertemu denganku sebelas tahun yang lalu. Namun hadir lagi setengah tahun lalu. Semalam dia mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang berasal dari relung hatinya. Yang kalau boleh kupinta, seharusnya dia ucapkan sebelas tahun lalu.
Setengah tahun lalu, Desember 2011. Waktu itu aku melihat dirinya muncul di Facebook. Aku menyapa lewat pesan di Facebook. Dia membalasnya. Namun balas membalas pesan itu hanya berakhir sampai di sana--tanpa ada tanya jawab lebih lanjut soal sudah sebesar apa kami, apa saja kegiatan kami selama 11 tahun, serta tukar nomor.
Tapi waktu itu aku sendiri yakin, kalau nanti kami pasti ketemu. Jadi aku tak memaksa diri untuk bertemu dengannya. Aku membiarkan tahun berganti menjadi Januari 2011 tanpa ada kabar up date apapun.
Tanpa sengaja kami bertemu. Aku, adalah perempuan yang percaya kalau tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Saat bertemu kami hanya mengucapkan, "Hai," satu sama lain dan langsung melambaikan tangan, karena waktu itu aku sedang dikejar oleh waktu.
Aku melanjutkan kegiatanku selanjutnya. Ada sedikit senang berkecamuk. Tapi aku membiarkannya berlalu begitu. Sampai pada malamnya, aku mendapati pesan baru di kotak message Facebook.
Dia meminta nomorku. Padahal setengah tahun lalu, waktu aku menemuinya di dunia maya, aku sudah memiliki nomornya. Perkara mendapatkan nomor bukan hal yang sulit buatku. Tak perlu waktu yang lama. Karena nomor-nomor pribadi para publik figur pun tak susah dimiliki. Konon lagi hanya dia.
Dari awal bertemu semalam, aku sudah menduga kalau pertemuan kami bukan perjumpaan biasa. Banyak hal-hal kecil yang membuat aku bisa bercerita dengan panjang lebar, tertawa, menjadi diriku apa adanya. Dia juga.
Aku senang saat duduk di motornya, di belakang. Memandang sambil memegang punggungnya lazimnya orang yang biasa dibonceng. Aku juga suka melihat sisa rambutnya yang paling bawah, dari bagian helm yang tak bisa ditutupi. Dan aku sangat senang karena dia tidak merasa risih saat aku memegang bahunya sebagai pegangan.
Aku hanya bisa terdiam, terpaku, tak mampu berkata-kata dalam jeda waktu tiga detik. Dia mengungkapkan semuanya. Aku melihat dengan jelas deru nafasnya tidak beraturan. Bibirnya bergetar. Sorot matanya seperti anak kecil yang takut tidak diizinkan masuk ke rumah. Seolah begitu takut kalau-kalau apa yang dia ucapkan adalah kesalahan besar.
Namun aku tak mau membiarkan dia semakin larut dengan perasaan takutnya yang bercampur aduk dengan rasa malu itu. Aku langsung menepuk pundaknya, tersenyum sambil tertawa kecil dan berujar, "Kok bisa?"
Aku tak mau membiarkan dia dalam situasi dan suasana serba salah. Dia pasti sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengungkapkan kata-kata sayang itu. Aku tau dan bisa merasakannya dari desahan nafas tak beraturan dan getaran suaranya yang tidak seperti biasanya.
Dia tulus. Itu yang aku rasakan. Dia tidak sedang bermain-main--seperti beberapa laki2 yang sepertinya terlalu mudah untuk mendeklarasikan cinta pada banyak perempuan. Aku melihatnya berbeda dari laki-laki lain.
Tapi aku harus tetap mengakui kalau aku tidak--mungkin belum--memiliki perasaan itu. Sehingga pertanyaan selanjutnya yang keluar dari mulutnya adalah, "Apa masih ada kesempatan?" Kali ini aku membesarkan bola mata mengucapkan jawaban diplomatis, "Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan."
Lalu, "Apa kau masih menunggunya?" Aku tau dia akan menanyakan itu. Karena satu-satunya alasan besar kenapa aku tidak menjawab IYA pada pertanyaan dan pernyataannya adalah karena dia--yang kusebut sebagai sahabat.
Dia yang selama tujuh tahun hanya bisa kucintai secara diam-diam. Dia yang selalu mengacak-acak rambutku kalau sudah berpisah di bandara. Selalu meninggalkan sedih yang tak bisa dihilangkan dalam waktu singkat. Namun selalu berhasil membuat aku tertawa lepas kalau dia sudah menggelitik pinggangku, mengejek, bahkan bercerita tentang cerita yang sebenarnya kurang lucu.
Sampai akhirnya, aku pun berujar, "Makasih yah. Kau berhasil membuatku tersipu. Aku senang. Tapi aku belum punya perasaan yang sama. Aku sangat senang dengan perasaanmu." Dia tersenyum, tapi sorot matanya sangat sedih. Aku melihat itu jelas.
Supaya dia tidak terlalu kikuk, aku pun berujar, "Nanti, waktu yang akan membuktikan semuanya. Termasuk perasaanmu. Karena perasaan bisa berubah." Dia kembali tersenyum dan mendenguskan nafasnya. Nafas yang kudapati sebagai sebuah perasaan yang agak kecewa-karena jawabanku.
Dengan sopan, aku pun pamit. Sekali lagi mengucapkan terimakasih, dan dia dengan masih sopannya berujar, "Hati-hati."
"Iyah," balasku sambil membunyikan klakson mio merahku, sebagai tanda aku siap untuk menempuh jalan meninggalkannya saat itu. Sampai waktu yang akan membuktikan nanti.