Sejak kecil ibu mengajarkan saya untuk berteman baik dengan Tolong, Maaf dan Terima Kasih. Kata ibu, mereka mampu membantu saya untuk menjadi pribadi yang baik dan dicintai banyak orang. Tolong selalu menemani saya setiap kali saya membutuhkan bantuan orang lain, setelahnya Terima Kasih akan datang menghampiri, lalu Maaf datang setiap kali saya melakukan kesalahan. Selain itu, Maaf juga selalu menggenggam erat tangan saya ketika ada orang lain yang telah berbuat salah atau menyakiti saya.
Semasa kecil, saya mendapati kawan-kawan saya juga berteman baik dengan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Tak ada yang perlu dikhawatirkan saat itu karena Tolong, Maaf, dan Terima Kasih selalu bisa menemani ke manapun kami pergi. Ibu bilang, Tolong, Maaf, dan Terima Kasih seharusnya menjadi teman baik semua orang agar dunia ini lebih damai dan tenang. Namun, ternyata ketika sudah dewasa tak semua orang ingin berteman dengan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Kebanyakan manusia-yang katanya sudah-dewasa asik berteman baik dengan Ego. Mereka selalu mengajak Ego dan mengutamakan Ego ke manapun mereka pergi, bagaimanapun suasananya. Padahal kata ibu, berteman baik dengan Ego hanya akan membuat manusia terluka kemudian menyesal belakangan.
Ego juga selalu datang dan membujuk saya untuk berteman baik dengannya, tapi saya selalu berusaha untuk tetap berteman baik dan tidak meninggalkan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Ego benci ketika saya membawa mereka, Ego selalu mencoba mengusir Tolong, Maaf, dan Terima Kasih dari kehidupan saya. Ego bilang, mengutamakan dia dapat membuat saya bahagia. Ego dapat menguntungkan saya kapanpun dan di manapun saya berada.
Suatu hari saya pernah terbujuk ajakan Ego untuk meninggalkan Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Kala itu Ego banyak membantu saya untuk menciptakan kebahagiaan versi saya sendiri. Ego tak berhenti meyakinkan saya untuk meraih kebahagiaan meski itu harus direbut dari kebahagiaan orang lain. Awalnya saya merasa ada yang salah, tapi lagi-lagi Ego tak berhenti memimpin saya untuk mendapatkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang menurutnya telah lama saya sia-siakan.
Saat menghabiskan waktu bersama Ego, memang banyak kebahagian yang saya dapatkan. Namun, kebahagiaan itu didapat di atas penderitaan orang lain. Saya hanya memikirkan kebahagiaan sendiri tanpa pernah memikirkan kebahagiaan orang lain. Saat butuh bantuan, tak ada lagi Tolong yang menemani. Saat diberi bantuan, Terima Kasih juga tak kunjung menghampiri. Maaf? Tak ada lagi Maaf setiap kali saya berbuat kesalahan. Ego mengajarkan saya untuk berhenti memikirkan perasaan orang lain. Padahal Ego tau, kawan-kawan saya pasti akan lebih bahagia ketika saya mengajak Tolong, Maaf, dan Terima Kasih ke manapun saya pergi. Ego membuat saya dijauhi. Tak ada lagi kawan-kawan yang mau berteman dengan saya sebab bagi mereka saya hanya mementingkan Ego dan kebahagiaan sendiri.
Setelah sadar bahwa Ego hanya memunculkan sifat-sifat buruk saya dengan alasan kebahagiaan diri sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk tak lagi berteman dengan Ego. Saya mulai mencari keberadaan Tolong, Maaf, dan Terima kasih yang telah lama saya tinggalkan. Namun, ternyata meninggalkan Ego bukanlah perkara mudah, sebab Ego sudah terlalu melekat dengan diri saya. Ego masih saja mengikuti saya kapanpun dan ke mananpun saya pergi. Sampai suatu hari saya berhasil menemukan dan berteman kembali dengan Tolong, Maaf, dan Terima kasih, akhirnya Ego perlahan mulai menjauhi diri ini.
Bagi saya, berteman dengan Ego terlalu menakutkan. Terlalu banyak kesalahan yang saya lakukan atas dasar kebahagiaan diri sendiri. Padahal kebahagiaan tak melulu diraih sendiri, melainkan bisa dengan melihat kebahagiaan orang yang kita sayangi.
Kamu, bagaimana? Siapa teman baikmu saat ini?
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)