Hay Guys aku mau kasih tau nih #MencatatIndonesia melalui Sensus Penduduk 2020. Sensus Penduduk 2020 ada dua cara lho: online dan wawancara. Jika sudah ikutan yang online kamu tidak akan lagi didatangi petugas sensus untuk wawancara. . Kuy lah buktiin kalo kamu milenial yang gaul abis dengan ikutan Sensus Penduduk Online di sensus.bps.go.id dari tanggal 15 Februari - 31 Maret 2020. . Ajak keluargamu, kerabatmu, temen2mu ikutan Sensus Penduduk Online ya! Mudah, gak pake ribet! . Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Mako Sekretariat BPS Provinsi Bengkulu di (0736) 349117 ext. 190 ________________________________________ @bps_bengkulu #GerakanCintaData #FaktaData #MencatatIndonesia #sp2020 #bps https://bps.go.id/sp2020 https://www.instagram.com/p/B8wCeHxgTSP/?igshid=3ajfugewrge6
Sebenernya udah biasa sih kalo banyak yang mempertanyakan data BPS yang dirilis itu berbanding terbalik dengan fenomena yang terjadi, sehingga terkesan ‘not make sense’.
Tapi entah kenapa kemarin itu gue ngerasa tertohok sama pihak yg bilang "kok bisa sih gorontalo ini provinsi peringkat ke-5 yg persentase penduduk miskinnya paling banyak, tapi indeks kebahagiaannya peringkat 6 tertinggi?"
Berhubung gue lagi rajin, ya sekalian lah gue mencoba menjelaskan..
Pengukuran Kemiskinan
BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar (baik dari segi konsumsi makanan dan bukan makanan) yang diukur dari sisi pengeluaran. Dari sini, nanti akan dihasilkanlah Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan, dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Pengukuran Kebahagiaan
Kemudian, selama beberapa tahun ini semakin diakui bahwa ukuran tingkat kesejahteraan penduduk penting untuk dicermati tidak saja hanya ukuran moneter/ kemakmuran material (welfare/well-being) saja, tetapi juga lebih mengarah kepada kondisi kesejahteraan subjektif (subjective well-being) atau kebahagiaan (happiness), nah dari sini lah muncul cikal-bakal konsep pengukuran indeks kebahagiaan.
Dari konsep pengukuran barusan, kira-kira udah kebayang belom yaa..
Jadi, kemiskinan itu sesuatu yg dimensinya bisa diukur jelas secara objektif : baik dari segi pengeluaran, konsumsi, kondisi tempat tinggal, dll
Sementara mengukur kebahagiaan itu mengukur sesuatu yang sifatnya subjektif dengan cara yg objektif, yg tercakup dalam 3 dimensi kehidupan, yaitu :
(1) Dimensi Kepuasan Hidup (Life Satisfaction),
(2) Dimensi Perasaan (Affect), dan
(3) Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia).
Mungkin sederhananya gini ya,
Bahagia itu soal rasa. Kemiskinan & kekayaan itu soal ukuran dan yg tampak di mata.
Makanya agak susah untuk mengukur kebahagiaan, mengukur sesuatu yang subjektif (artinya, bersifat relatif untuk setiap orang) dengan cara dan pendekatan yang objektif.
Terus artinya, “semakin miskin, berarti semakin bahagia dong?”
Ngga, bukan gitu guys..
Artinya, penduduk yang kondisi materinya serba kecukupan, ga menjamin kondisi psikologisnya juga bahagia. Dan bisa jadi orang yg hidupnya dibawah garis kemiskinan, malah level bahagianya lebih tinggi.
Karena ‘si miskin’ meski dari segi objektif (kekayaan) tidak terpenuhi, masih bisa merasa aman dan tenteram. Atau ‘si miskin’ ini meski hidupnya serba kekurangan ekonomi, aspek lain dalam hidupnya sudah terpenuhi
Toh ga sedikit orang kaya raya yang susah payah mencari kebahagiaan hakiki dalam hidupnya, malah terjerumus ke lembah kebahagiaan semu, pakai narkoba, free sex, night party, dll. Bahkan putus asa hingga nekat mengakhiri hidupnya.
Semua penjelasan tentang ukuran kemiskinan dan kebahagiaan itu berdasarkan konsep definisi BPS ya. Jadi tiap survei yang dilakukan menggunakan ukuran yang baku untuk memenuhi unsur keterbandingan. Baik keterbandingan waktu, wilayah hingga antar negara. Kalo kata emak sih “BPS mah kebanyakan kerjaan, semua-semuanya diitung!” Wkwk
Gimana kira2? Menarik ga data BPS ? atau malah makin lieur?
Semoga cukup menjelaskan yaa, kalo banyak yang tertarik sama data-datanya BPS, sekarang udah mudaaah bgt diaksesnya, tinggal klik disini.
Jadi ini sebenernya pun sebuah upaya buat diri gue sendiri untuk aware sama data yang udah diproduksi BPS. Jagan sampe lah kita udah capek-capek turun lapangan, mendata, diusir-usir responden, masa data yang dihasilkan malah dicuekin aja, hehehe. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan berkelanjutan.