Tahun 2020 dengan segenap ceritanya, akan sangat menarik di masa depan. Tentu saja, hal itu baru bisa terjadi ketika kondisi bumi membaik, kan.
Dan ketika waktu itu tiba, mungkin kita akan menjadi story teller terbaik untuk anak-cucu kita. Bagaimana kecemasan yang datang begitu status pandemi didengungkan. Tentang sekolah-sekolah yang diliburkan sementara, kemudian menjadi School From Home yang rupanya berkepanjangan. Tentang pekerjaan yang mendadak dialihkan ke rumah, kalaupun tidak, pegawai harus masuk bergantian, tak boleh ada keramaian. Tentang tenaga kesehatan yang tiba-tiba menjadi garda depan, menjadi pahlawan, dan betapa banyak pula yang tumbang berguguran. Tentang kabar simpang siur yang membuat penduduk bumi terpecah-belah: apakah bencana ini nyata/tidak, apakah virus ini benar berbahaya atau hanya berita dari oknum yang melebih-lebihkan.
Besok, setelah keadaan bumi membaik, 2020 akan menjadi bab tersendiri dari buku sejarah di seluruh dunia.
Mungkin, sejarah yang dituliskan pun akan menghasilkan beberapa versi. Tergantung, siapa yang menulis dan apa tujuannya.
Buatku, tahun ini rasanya luar biasa.
Sadar atau tidak, aku semakin menghargai hal-hal kecil, yang semula mungkin terlupakan bahwa hal-hal kecil itu merupakan bagian dari nikmat-Nya.
Sesederhana bisa bernafas lega di rumah tanpa masker. Masih bisa berdekatan dengan keluarga tanpa harus isolasi. Mencoba banyak resep baru dari youtube bersama bapak dan ibu. Sumpah dokter yang dinanti, harus diselenggarakan online.
Semua yang tampak berat di awal.
Tapi ketika menjalaninya, tidak terlalu buruk juga.
Dalam beberapa hal, justru ada nilai plusnya. Seminar ilmiah yang bisa disaksikan hanya dari rumah. Live seminar dengan pembicara terbaik yang bisa disaksikan siapa pun, padahal biasanya tidak banyak seminar offline bagus yang bisa kita datangi kecuali dengan akses memadai.
Aku semakin mudah merasa ‘cukup’.
Cukup bisa makan lauk rumahan tanpa banyak keluar untuk jajan.
Cukup bisa bersua lewat video ataupun suara untuk bertukar pikiran.
Cukup dengan apa yang aku miliki, alih-alih kalap memenuhi keinginan yang kadang tidak sesuai kebutuhan.
Aku belajar, bahwa merasa cukup adalah kunci supaya mampu bertahan. Karena rasa cukup berkawan baik dengan kesyukuran. Tidak lagi menyesali keadaan.
Tapi, sebagaimana setiap pembelajaran akan diakhiri dengan ujian dan kelulusan. Kuharap, pembelajaran dan ujian ini akan sampai pada tenggat waktunya.
Dan, bila saat itu tiba, semoga kita semua lulus ya.
Sekarang, kita jalani dulu sebaik mungkin. Semoga, kita segera naik kelas.